My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 69



Bella berkeliling mencari kontrakan selama pelarian nya dari sang mama, perasaan nya kacau. Terkadang ia berteriak untuk mengurai sesak di dalam dadanya. Beberapa kali terdengar umpatan di bibir gadis itu.


"Aku benci mama!"


"Aku benci kamu pria brengsek! kamu sudah mengambil semuanya dari ku. Kamu bejat, brengsek, jelek, tua, segeralah enyah dari bumi ini!" berbagai umpatan kotor terus Bella teriakkan. Kepalanya terasa akan pecah akibat dipenuhi emosi dan kekecewaan yang terasa menguliti tubuhnya.


"Papa Bella sedih, Bella harus bagaimana. Lihatlah mama, dia lebih memilih pacarnya daripada Bella. Harusnya papa nggak ninggalin Bella, Bella nggak punya siapa-siapa sekarang" Keluh Bella saat ia mulai lelah. Membayangkan senyum teduh papa nya membuat air matanya kembali mengalir, ia terlalu banyak menangis hari ini, bahkan bola matanya sudah berubah mengecil akibat kelopak matanya yang membengkak.


Bella menepikan mobilnya, ia menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah. hari sudah hampir malam tapi ia sejak tadi hanya berkeliling, ia belum mendapatkan kontrakan untuk ia tempati.


Bella melirik ponselnya yang berbunyi, jantung nya yang sebelumnya berdetak cukup normal kini kembali bertalu dengan kencang kala nama Brian tertera di sana. Pria itu selalu saja membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.


"Ha-hallo bang" Ucap Bella sembari mengusap dadanya untuk menenangkan detak jantung nya.


"Bell kamu cari kontrakan?" Bella terdiam beberapa saat memikirkan kenapa Brian bisa tau, namun ia kemudian tersenyum kala mengingat dirinya memang sempat memposting di media sosial tentang dirinya yang membutuhkan informasi mengenai keberadaan kontrakan yang kosong.


"Iya bang, abang punya kenalan yang punya kontrakan?"


"Siapa yang mau mengontrak?"


"Aku bang" Jawab Bella.


"Kamu? kenapa memutuskan untuk mengontrak rumah? kamu kenapa sebenar nya? kamu di mana aku samperin" Brian memberondong Bella dengan banyak pertanyaan. Bella merasa terharu saat Brian menunjukkan kepedulian nya, namun hatinya lagi-lagi berteriak 'Kenapa baru sekarang bang? semua perhatian mu membuat aku sakit'


"Pengen suasana baru aja, aku nggak tau lagi di mana nih" Ucap Bella.


"Buruan share lokasi aku samperin sekarang" Tegas Brian.


"Iya uda matiin telfon nya"


"Iya buruan" ucap Brian tak sabar


"Ya gimana mau share lokasi kalo panggilan nya nggak di matiin bang" Ucap Bella sambil terkekeh. Brian langsung mematikan panggilan nya.


Bella menimbang apa yang sebaiknya ia lakukan, memberi tahu Brian keberadaan nya atau mengabaikan saja?


Kenapa saat ia ingin menjauh Brian malah mendekatinya. Atau ini kah cara semesta untuk membahagiakan nya? tapi ia sudah tidak suci lagi. Ia tak tega menyerahkan diri pada Brian dalam kondisi terburuknya.


Setelah berfikir sejenak Bella memutuskan membagi lokasi nya pada Brian, apa yang akan terjadi ke depan maka terjadilah. Bella hanya bisa pasrah. Ia akan membiarkan semuanya mengalir seperti air, ia akan mengikuti ke mana atah takdir akan membawa nya.


Hampir 30 menit Bella membuka matanya kala seseorang mengetuk kaca mobilnya, ia mendapati sosok Brian di sana.


"Abang sama siapa?" Tanya Bella basa basi


"Aku naik taxi" Bella membuka pintu mobilnya dan membiarkan Brian masuk.


"Abang ada kenalan yang punya kontrakan?" Bella kembali menanyakan mengenai kontrakan.


"Kamu kenapa sebenar nya? kamu kabur dari rumah?"


"Enggak kabur kok, mama tau aku pergi" Ucap Bella berusaha santai.


Bella menghela nafas, sepertinya Brian tak akan berhenti bertanya sebelum ia menjawab.


"Karena mama maksa buat nikah sama kekasihnya" Brian menatap tak percaya pada Bella.


"Mama kamu mau menikah lagi?" Tanya Brian, memastikan bahwa ia tak salah dengar.


"Iya" Bella menganggukkan kepalanya.


"Kamu kenapa nggak setuju? toh papa kamu sudah meninggal. Jadi sah-sah aja kalo mama kamu mau menikah"


"Aku nggak suka sama kekasihnya bang, dia bukan pria baik-baik" Ah perih sekali rasanya harus membahas pria itu, hal itu membuat ia harus kembali mengingat peristiwa terburuk dalam hidupnya lagi.


"Karena itu kamu keluar dari rumah kamu? mama kamu pasti sedih Bella. Fikir kan baik-baik. Kenapa tidak mencoba menerima papa tiri kamu, siapa tau dia tak seburuk yang kamu kira" Ucap Brian.


"Dia memang seburuk itu kok, dan mama memang lebih memilih pria itu dari pada aku. Buktinya mama nggak berusaha nahan aku saat aku memberikan pilihan padanya" Ucap Bella lirih. Tapi ia menahan diri agar tak menangis lagi.


"Kenapa bisa menyimpulkan kalo kekasih mama kamu jahat?"


"Pokoknya dia jahat, tolong jangan membahas ini lagi. Yang jelas mama sudah membuang ku demi bisa menikah dengan pria brengsek itu" umpat Bella. Melihat raut wajah Bella yang penuh amarah bercampur kekecewaan membuat Brian memutuskan untuk tidak bertanya lagi.


"Biar aku yang bawa mobil" ucap Brian sambil keluar dari mobil Bella dan berpindah ke sisi kemudi, Bella menggeser tubuhnya ke kursi penumpang.


Keduanya diselimuti keheningan, tak ada yang berinisiatif memulai obrolan sampai saat Bella menyadari bahwa Brian membawanya ke arah rumah pria itu.


"Kita mau ke mana bang?"


Tanya Bella.


"Ke rumah, besok saja cari kontrakan nya. Kamu bisa tidur di ruang tamu atau di kamar Bianca"


"Nggak usah bang, aku cari hotel aja." Tolak Bella. Tapi Brian tak menanggapi, ia tetap membawa mobil ke arah rumahnya, dan Bella hanya bisa pasrah karena protes yang Bella layangkan sama sekali tak didengar olehnya.


Brian turun dari mobil dan mengambil koper milik Bella di bagasi mobil. Brian kemudian membuka pintu mobil karena menyadari gadis yang biasa nya berisik itu tak bergerak dari posisinya.


"Ayo masuk Bell" Brian mengulurkan tangan nya namun Bella hanya diam, tak merespon Brian. Brian menghela nafas dan menghembuskan nya dengan kasar. Ia meletakkan koper milik Bella dan tanpa gadis itu duga Brian menggendong nya.


"Abang apa-apaan, lepasin aku bisa jalan sendiri" Bella setengah memekik karena rasa terkejutnya.


"Makanya jangan keras kepala" Ucap Pria itu, ia tak mengindahkan permintaan Bella. Ia terus berjalan menuju rumahnya dengan Bella yang masih di dalam gendongan nya.


"Bang nanti ada tetangga yang lihat aku malu" ucap Bella


"Pagar rumah ini cukup tinggi Bella. Tidak ada yang akan melihat" Brian tak menghentikan langkahnya sama sekali, Bella akhirnya pasrah dan tak lagi meminta Brian untuk menurunkan nya, ia lebih memilih menyesap aroma tubuh Brian sebanyak-banyak nya. Bukankah dulu ini adalah impian nya? tidak ada salahnya menikmati selagi masih ada kesempatan untuk menikmatinya.


Brian mendudukkan Bella di sofa ruang keluarga lalu mengacak dengan gemas rambut gadis itu.


"Menurut lah, jangan terlalu banyak membantah" Ucapnya sambil tersenyum.