
Tawa Alex pecah usai mendengarkan keinginan Bianca, sungguh ia merasa istrinya begitu lucu dan sangat menggemaskan. Ia kesulitan menghentikan tawanya meski wajah Bianca sudah semakin memerah. Alex panik melihat mata Bianca sudah berkaca-kaca namun ia tetap tak bisa berhenti.
Alex meraih istrinya ke dalam pelukan nya saat air mata Bianca kini berlomba untuk keluar. Sang istri menangis dan Alex mengutuki kesalahan nya.
"Abang jahat, kalau nggak mau ya udah Nggak usah ngetawain Bian" Bianca memukuli dada Alex yang masih berusaha menahan agar tidak kembali tertawa. Melihat Bianca menangis entah kenapa semakin lucu saja di matanya.
"Sayang abang nggak maksud ngetawain Bian, abang mau kok. Siapa yang bisa nolak keinginan istri abang yang seksi ini"
Tangis Bianca semakin kencang membuat Alex kewalahan menghadapinya.
"Abang ngeledekin Bian kan, abang mau nyindir kalo sekarang Bian gendut. Abang pasti sekarang lagi ngebayangin Salsa yang langsing, cantik dan seksi iya!"
Ah Alex salah lagi.
Alex menangkup wajah Bianca dan memaksa istrinya menatap padanya.
"Lihat abang sayang" Bisik Alex, Bianca terpaksa menatap pada suaminya. Air mata masih mengalir mengiringi isakan nya. Alex menghapus jejak air mata itu lalu tersenyum.
Lalu tanpa mengatakan apa-apa Alex segera meraih tengkuk Bian dan mendaratkan kecupan di sana, ia sengaja menyesap bibir Bianca dengan sedikit kasar dan melu* mat nya dengan penuh gairah.
Berhasil, seperti nya Bian memang sangat menginginkan nya, terbukti saat ini Bianca terlihat begitu menikmati ciuman Alex. Terlebih saat tangan pria itu ikut beraksi menjamah bagian-bagian yang disukainya.
Tak ingin kalah dengan pengantin baru yang berada di tempat yang berbeda Alex dan Bianca mengisi malam dengan *rangan dan des**han yang memenuhi kamar mereka.
Permainan malam itu ditutup dengan kecupan lembut di bibir Bianca yang masih terengah setelah mendapatkan pelepasan nya. Alex mengusap rambut Bianca sambil menunggu mata itu terbuka, ia belum mau mengubah posisinya.
"Lain kali kalo pengen nggak usah malu-malu buat bilang. Abang nggak akan pernah nolak kok. Itu kebutuhan kita, nggak cuma abang Bian juga. Jadi nggak ada salahnya meminta lebih dulu, malah abang sangat bahagia. Meminta itu sama sekali nggak memalukan kok sayang. Bian ngerti?" Ah tetap saja rasa malu menggelayuti hati Bianca namun ia tetap mengangguk.
"Sekarang uda bisa tidur? atau mau lagi?" Alex tersenyum menggoda.
"Tidur, Bian capek" Alex mengangguk sambil tertawa. Ia menggulir tubuhnya ke samping.
"Tapi cuci dulu ya?" Gantian Bianca yang mengangguk. Seperti Biasa Alex menggendong tubuh polos Bianca yang masih lemas menuju kamar mandi untuk membersihkan sisah percintaan di tubuh mereka sebelum kembali tidur.
πππ
Hari sudah pagi, cahaya matahari menerobos masuk lewat celah-celah gorden kamar. Bella perlahan membuka matanya. Ia melirik jam di dinding, ternyata hari sudah siang jarum jam menunjukkan sekarang hampir jam 8.
Mungkin bukan hal yang aneh jika pengantin baru bangun nya kesiangan, mengingat tadi malam mereka kembali mengulangi aktivitas panas mereka. Bella mengulum senyum saat mengingat bagaimana Alex menggarap tubuhnya tanpa bosan tadi malam. Bahkan terakhir Bella tak menyadari kapan Brian menghentikan permainan nya karena ia sudah tak lagi sadar setelah mendapatkan pelepasan untuk ke sekian kalinya.
Bella menikmati wajah tampan sang suami, Ia begitu mengaguminya. Tuhan begitu sempurna memahat wajah Brian hingga semua tampak pas di matanya. Tak ada yang tak ia sukai pada diri pria itu, mungkin Brian memang Tuhan peruntukkan khusus baginya.
"Selamat pagi sayang" Bisik Bella dengan senyuman ketika Brian membuka matanya. Brian tersenyum bahagia dan memeluk erat Bella. Gadis itu dapat merasakan kecupan-kecupan Brian di puncak kepalanya.
"Aku sangat bahagia, melihat senyum kamu ketika pertama kali membuka mata adalah salah satu mimpiku ketika aku menyadari perasaan cintaku padamu" Bisik Brian.
"Yah itu juga yang menjadi mimpiku bang" Jawab Bella. Ia mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah Brian. Tangan mungil Bella mendarat di pipi pria itu.
Brian meraih nya dan mencium tangan Bella, ia suka wangi vanilla istrinya.
"Bang sudah siang, aku lapar" Ucap Bella malu-malu.
"Apa begitu sakit? maaf ya aku membuatmu kesakitan" Brian merasa bersalah, ia semalam begitu bersemangat seolah mendapatkan mainan baru hingga tak memikirkan istrinya.
"Tapi aku suka" Jawab Bella bukan hanya karena ingin menghibur Brian tapi karena ia memang menyukai nya. Brian mengusap rambut istrinya dengan gemas.
"Aku siapkan air hangat dulu ya, kita mandi setelah itu baru bikin sarapan" Brian mencium kening Bella sebelum beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
πππ
Sarapan meski hanya dengan roti dan segelas susu terasa begitu nikmat bagi Bella dan Brian. Mereka sudah terlalu lapar dan lelah hingga tidak memungkinkan untuk masak.
Pagi ini adalah mandi terlama bagi Bella sepanjang hidup nya tentu saja karena Brian tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba hal baru. Jadilah ritual mandi yang biasanya hanya beberapa menit malah selesai dalam waktu hampir 1 jam.
Bella tak kuasa menolak karena Brian berhak, ia adalah milik pria itu maka ia harus mengikuti kemauan nya dan lebih penting lagi ia juga menginginkan nya.
"Bang kira-kira sekarang mama gimana ya sama om Doni?" Tanya Bella tiba-tiba saat ia mengingat betapa shock nya sang mama mendengar pengakuan Doni kemaren.
"Mau menemui mama kamu abang temenin kalo kamu mau ke sana? atau kamu telfon aja kalau mau tau keadaan nya" Usul Brian. Kemaren mereka langsung pergi tanpa tau apa yang terjadi selanjutnya antara Elza dan suaminya.
"Nggak mau ah, aku takut kecewa. Siapa tau Doni berhasil merayu mama bisa aja dia mengarang cerita seolah-olah aku yang salah nantinya. Bisa aja kan bang? Doni licik banget orang nya"
"Jangan berfikir negatif dulu. Siapa tau mama kamu sekarang sedang menunggu kamu dan menyesal atas apa yang dia lakukan" Brian mengusap tangan istrinya.
"Yah kalo emang kayak gitu harusnya mama uda nelfon aku bang. Ini nggak ada sama sekali mama hubungin aku. Jadi kayaknya mama emang lebih sayang pria brengsek itu deh dibanding aku"
"Nanti kita temui aja ya mama kamu, dari pada nebak-nebak tanpa kepastian" Putus Brian.
"Tapi nanti nunggu aku siap ya bang?" Bella menyeringai. Brian menggeleng-gelengkan kepalanya atas keputusan sang istri. Namun ia tak bisa menyalahkan Bella sepenuhnya karena ketakutan itu wajar mengingat sikap Elza padanya.
πππ
Maunya tamat di 100 chapter, kepanjangan nggak kira-kira??? Takutnya uda pada bosanπππ
Tapi Mengsedih mau pisah sama pasangan ini. Sayang banget sama mereka π₯°π₯°π₯°
Sama kalian juga sayaaaaang banget...
πππ
Eh btw jadi aku tu sehari-harinya kerja. Kerja apa? nggak penting juga ya...
Nah jatah libur aku tu hari rabu, kamis n minggu sisah nya aku kerja. Jadi taulah ya kenapa aku 2 hari ini banyak up. Besok-besok mungkin nggak bisa banyak-banyak...
(Eh info ini penting nggak sih) Nggak jelas banget ya πππ
Ya udah deh bye... selamat membaca.
Jangan lupa mampir ke sebelah
"Affair dengan Tunangan Sahabatku" Klik profil