My Brother'S Friend Is My Partner

My Brother'S Friend Is My Partner
Chapter 88



Malam sudah semakin beranjak, suasana begitu hening namun Bianca masih belum bisa memejamkan matanya. Ia kesulitan mencari posisi yang nyaman. Perutnya sudah begitu besar di usia kehamilan yang hampir memasuki 9 bulan. Ia seringkali kegerahan dan sesak nafas.


Saat seperti ini seringkali Bianca teringat kepada mendiang mama nya. Mungkin jika sang mama masih ada Bian akan meminta maaf sesering mungkin karena dulu seringkali bandel. Kini ia merasakan betapa susahnya sang mama ketika mengandung nya. Hamil di usia muda ternyata tidak semudah yang dibayangkan malah tergolong susah, beruntung ia memiliki suami yang dewasa dan begitu pengertian.


Bianca menoleh ke samping, Alex tampak begitu lelap. Membuat nya tak tega untuk membangunkan suaminya meski ia begitu ingin ditemani. Bianca merasa kasihan pada Alex yang tampak kelelahan, pria itu harus bekerja hingga sore ketika pulang ke rumah bukan nya istirahat Alex malah harus memenuhi keinginan macam-macam darinya.


Beruntungnya lagi mama Rani hampir setiap hari datang untuk menemani Bian selagi Alex bekerja, wanita itu sudah meminta Bianca untuk pindah ke rumah agar ia bisa terus menemani menantunya itu. Namun Alex belum mau, menunggu setelah lahiran saja. Alex tidak ingin Bianca merasa tidak bebas dan tidak nyaman mengingat betapa manja nya sang istri.


Bianca beranjak menuju sofa sambil memeluk guling ingin mencari posisi yang nyaman agar ia bisa tertidur. Mungkin tidur dengan posisi duduk bisa mengurangi sesak.


Yah lumayan nyaman hingga perlahan rasa kantuk mulai menyapanya, Bianca mencoba mengosongkan fikiran nya agar cepat terlelap.


Rasanya belum lama Bianca menikmati lelap ia harus terbangun karena merasakan tubuhnya melayang


"Abang" Panggil Bian lirih, rupanya Alex menggendong tubuhnya.


"Maaf abang ganggu, ayo tidur lagi" Alex mencium kening Bianca. Setibanya di ranjang pria itu merebahkan tubuh Bian.


"Bian kenapa tidur di sofa? nanti badan nya pegal-pegal" Bisik Alex lembut sambil mengusap pipi istrinya agar merasa nyaman dan kembali tidur.


"Bian nggak bisa tidur tadi, Kalau tidur dengan posisi begini susah nafas. Makanya pindah ke sana baru bisa tidur"


"Kenapa nggak bangunin abang? kan abang bisa nemenin Bian." Alex membantu Bian yang mencoba bangun dari tidurnya. Bian lalu menyeruk kan wajahnya ke dada Alex. Pria itu memeluk dan mengusap punggung Bian sambil menciumi puncak kepala istrinya.


"Bian kasihan abang tidurnya nyenyak banget. Abang pasti capek ngurusin kerjaan sama ngurusin Bian"


"Nggak apa-apa sayang bangunin aja kalo Bian butuh abang. Sekarang tidur lagi ya, mau tidur kayak gini aja?" Bianca mengangguk, tidur dalam pelukan Alex memang yang paling nyaman. Alex menyandarkan tubuhnya, meski ia lelah dan butuh istirahat namun ia sadar itu belum apa-apa dibandingkan dengan kesulitan yang Bianca alami dengan kehamilan yang sudah sebesar itu.


"Bang, bentar lagi bayi kita lahir"


Alex berusaha menjaga kesadaran nya meski kantuk masih bergelayut, sepertinya sang istri masih ingin mengobrol dengan nya.


"Kata orang melahirkan itu sakit banget, Bian tiba-tiba merasa takut" lirih Bian, Alex mengeratkan dekapan nya, memberikan rasa aman bagi Bianca.


"Takut kenapa? nanti abang akan nemenin Bian jangan takut"


"Bian takut nggak bisa nahan sakit"


"Bian malah lebih takut kalo operasi bang" Alex dapat merasakan kekhawatiran istrinya, kegelisahan Bian berhasil mengusir rasa kantuk Alex.


"Jadi mau lahiran normal aja? katanya takut sakit" Keduanya tertawa geli.


"Bang kalo misalnya Bian meninggal saat melahirkan gimana? abang akan nikah lagi? sama siapa? sama Salsa?" Tanya Bian iseng.


Refleks Alex melepaskan dekapan nya dan meraih wajah Bian agar menatap kepadanya.


"Bian ngomong apa? abang nggak suka Bian bicara sembarangan. Bian akan baik-baik aja, Bian nggak boleh ninggalin abang, Bian sama adek bayi harus berjuang agar bisa sehat dan selamat. Abang nggak mau ya Bian ngomong kayak gini lagi" Tercetak jelas ketakutan di wajah pria itu, bahkan suaranya bergetar menahan gejolak perasaan nya. Ucapan Bianca benar-benar mengacaukan hatinya.


"Abang kenapa sepanik ini, Bian kan cuma bilang seandainya" Bianca memegang tangan Alex yang kini berada di wajahnya sambil terkekeh.


"Nggak ada seandainya bi, abang nggak suka. Ngebayangin aja nggak sanggup. Bian harus janji sama abang kalo Bian akan baik-baik aja. Bian sama adek bayi harus kuat, kita akan melewati ini sama-sama." Alex tak pernah membayangkan akan kehilangan Bianca terfikirkan pun tidak. Ia tidak berani membayangkan akan seperti apa rasanya jika harus kehilangan istrinya.


"Abang takut banget ya kehilangan Bian?" Bianca menyeringai.


"Pertanyaan bodoh" Alex memeluk erat Bianca. Istri kecilnya ini selalu saja membuat ulah dengan segala tingkah konyolnya. Ia selalu berhasil menjungkirbalikkan perasaan Alex.


"Bian itu nafasnya abang, cinta nya abang, gimana abang nggak takut kehilangan Bian, abang mati kalo Bian ninggalin abang. Jadi jangan coba-coba untuk pergi dari abang ya Bi? janji ya Bian harus selamat, Bian harus berjuang untuk abang dan bayi kita." Bianca mengangguk, ia iba melihat ketakutan di wajah suaminya, ia tak menyangka pertanyaan iseng nya begitu mengganggu perasaan pria itu. Ia merasa menyesal, sekarang ia tiba-tiba takut mati. Ia tak tega membayangkan kesedihan suaminya jika ia gagal berjuang melahirkan buah hati mereka.


"Bang kalau misalnya beneran terjadi abang harus rawat bayi kita baik-baik ya. Terus kalo mau nikah lagi boleh nggak jangan sama Salsa? Bian takut dia jahat sama anak kita bang kan kasi..." Suara Bian teredam pag*utan Alex pada bibirnya. Pria itu tak sanggup mendengar lebih lanjut celotehan istrinya, kata-kata Bianca bagaikan pisau yang mencincang-cincang hatinya dengan kejam. Ia merasa sekujur tubuhnya terasa ngilu, betapa ia tak sanggup jika hal buruk itu terjadi. Bahkan hanya mendengar pengandaian saja sudah membuat ia begitu lemah dan tak berdaya.


Tidak, Alex tidak akan pernah sanggup jika hal buruk itu menjadi nyata.


"Abang akan melakukan apapun agar Bian dan bayi kita tetap hidup. Bila perlu abang akan menukarnya dengan nyawa abang Bi."


"Nggak boleh, Percuma Bian tetap hidup kalau abang uda nggak ada."


"Sama, percuma abang hidup kalau Bian nggak ada. Jadi tetap lah hidup sampai kita menua bersama ya Bi. Kita harus menjadi kakek nenek yang bahagia menyaksikan cucu-cucu kita nanti" ucap Alex tulus.


"Bian yakin nanti abang pasti akan jadi kakek tua yang paling tampan di dunia"


"Yah dan Bian akan menjadi nenek yang paling cantik di dunia, kita akan menjadi pasangan kakek nenek yang paling serasi dan selalu bahagia"


🍁🍁🍁🍁