
Sebenarnya Bella belum siap untuk kembali ke rumah dan bertemu dengan mama yang lebih memilih kekasihnya ketimbang dia darah daging nya. Luka itu masih basah, bertemu dan kembali ke rumah dengan kenangan buruk yang sudah terpahat di sana membuat ia kembali merasakan perihnya.
"Kita kembali ke sini untuk membawamu keluar lagi menuju kehidupan yang lebih baik ke depan nya sayang, bertahanlah sedikit lagi ya?" Bisik Brian, ia paham kekacauan yang tengah mendera hati kekasihnya. Sorot mata Bella tak bisa membohongi Brian.
"Iya bang, sebelum kita masuk abang mau janji nggak sama aku?" Tanya Bella penuh harap.
"Janji apa? katakan"
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku sendirian di sini, apapun yang terjadi nanti bawa aku pergi bersama abang. Aku sudah tidak memiliki tempat di sini dan di hati mama ku" Ucap Bella. Sungguh hati Brian begitu kelu mendengar permintaan Bella yang sarat akan kesedihan itu.
"Aku janji sayang, tak perlu diminta aku akan membawa kamu keluar dari sini. Sedetikpun aku nggak akan ninggalin kamu sendirian" Tegas Brian. Senyum kelegaan itu terbit di bibir Bella, ia merasa tenang. Ketakutan yang sempat menyerang perlahan mulai terkikis.
Brian menggenggam tangan Bella.
"Aku nggak akan pernah lepasin kamu Bella" Ucap Brian.
"Makasih bang, aku benar-benar beruntung memiliki kamu. Aku sangat mencintaimu" Bella tersenyum tulus, matanya memancarkan rasa cinta mendalam pada pria itu.
"Aku lebih beruntung memiliki kamu Bella. Aku juga sangat mencintai kamu." Alex mencium tangan Bella yang kini berada di genggaman nya. Bella benar-benar terharu pada ketulusan Brian, tak salah dulu ia merendahkan dirinya mengejar pria itu. Nyatanya Brian memang pria yang patut diperjuangkan.
Keduanya memutuskan untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, mungkin Elza sudah menunggu mereka mengingat Bella tadi siang sudah mengabari sang mama bahwa ia akan pulang untuk membahas sesuatu. Tadinya Bella mengajak Elza untuk bertemu di luar namun wanita itu menolak. Ia meminta Bella yang datang ke rumah.
Brian mengeratkan genggaman nya saat melihat Bella semakin gugup.
"Tenanglah, semua akan berjalan dengan baik. Jangan khawatir" Bisik Brian menenangkan Bella.
"Iya sayang" ucap Bella, rasa gugup nya membuat ia tak sadar dengan ucapan nya. Ia heran kala Brian tiba-tiba menghentikan langkah mereka.
"Kenapa bang?"
"Aku suka kamu memanggilku seperti itu" Brian tersenyum lebar. Mendengar panggilan sayang dari Bella membuat darahnya berdesir. Ada kehangatan yang mengaliri darahnya.
"Memang nya aku memanggil abang apa tadi?" Tanya Bella sambil mengerutkan kening. Ia berusaha mengingat nya.
"Kamu beneran lupa?" Tanya Brian kecewa, Bella mengulum senyum nya.
"Aku ingat, dulu abang kesal banget aku panggil begitu" ucap Bella yang membuat Brian tersenyum masam.
"Maaf ya aku sempat menyakiti hatimu dengan penolakan ku" ucap Brian sendu.
Mereka melanjutkan langkah mereka, percakapan ringan barusan berhasil membuat mereka lebih santai dari sebelumnya. ketegangan yang sempat melingkupi kini sedikit menguap.
Setelah mengetuk beberapa kali, pintu rumah Bella akhirnya terbuka menampilkan sosok Elza yang tersenyum tipis ke arah Bella.
"Kamu kenapa ketuk pintu segala sayang, ini masih rumah mu. Jangan bersikap seperti tamu nak, mama sedih kalo kamu bersikap seperti orang asing begini" Bella hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Elza. Nyatanya ia memang merasa begitu asing sekarang, tidak hanya dengan rumah ini namun juga dengan sang mama.
"Ayo masuk" Ucap Elza dengan ramah. Wanita itu berjalan membawa Bella dan Brian menuju ruang keluarga.
Bella sempat terhenyak kala melihat Doni berada di sana menunggu kedatangan mereka. Pria itu sempat tersenyum hangat pada Bella namun berubah sinis dan menatap penuh selidik saat menyadari ada laki-laki yang datang bersama Bella.
Bella dapat merasakan tubuh Brian sedikit menegang, Bella mendongak melihat reaksi Brian. Pria itu tampak berusaha menahan amarahnya melihat ke arah Doni, Brian sudah bisa menebak bahwa pria itulah yang sudah merusak kekasihnya.
Bella mengusap lembut lengan Brian hingga pria itu menoleh pada gadis itu, ia menyunggingkan senyuman agar Brian bisa mengendalikan emosinya. Kemarahan yang sempat menyerang sedikit berkurang kala menatap senyum teduh Bella, Brian sadar Bella butuh ketenangan darinya.
"Duduklah, kenapa masih berdiri di sana" Ucapan Elza menyadarkan mereka. Brian dan Bella mengangguk dan mengambil posisi duduk mereka. Brian sedikitpun tak melepaskan genggaman nya pada tangan gadis itu. Aura di ruangan ini benar-benar meresahkan.
"Kenapa dia ada di sini, aku hanya ada perlu dengan mama" Ucap Bella dingin, Elza menghela nafas berat.
"Mama dan om Doni sudah menikah Bella, jadi om Doni berhak tau segala urusan mama" Ucap Elza yang membuat hati Bella berdenyut pilu, jadi diam-diam tanpa sepengetahuan nya mereka sudah menikah? Bella merasa semakin asing pada sang mama.
Brian mengusap tangan Bella, ia tau gadis itu pasti begitu terpukul.
"Hemm baiklah, sebaiknya kita langsung saja agar tak membuang waktu. Tante perkenalkan saya Brian kekasih Bella. Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin melamar Bella. Saya meminta agar tante bisa memberikan restu pada saya untuk menikahi Bella" Ucap Brian tanpa basa basi. Nampak jelas keterkejutan di wajah Elza maupun Doni.
"Kamu mau menikahi Bella? bahkan ini pertama kali kita bertemu. Tante belum mengenal kamu dengan baik. Apa tidak terburu-buru"
"Iya bahkan Bella belum tamat kuliah" Timpal Doni yang membuat Bella geram.
"Tolong anda jangan ikut campur, pendapat anda tidak dibutuhkan di sini. Anda bukan siapa-siapa dan tidak memiliki hak sedikitpun untuk turut campur" Tegas Bella dengan kebencian yang membuncah.
"Bella sopan lah sedikit, dia suami mama itu artinya dia papa kamu" Bentak Elza yang membuat Bella semakin kecewa.
"Dia bukan papa ku. Dia tidak berhak ikut campur urusan ku!! Kami kemari dengan niat baik ingin meminta restu mama. Yang ingin menikah adalah aku, jadi tak masalah mama sudah mengenal bang Brian atau belum. Seperti hal nya mama yang tak peduli pada pendapat ku aku juga tak peduli pada pendapat mama. Aku akan tetap menikah dengan atau tanpa restu mama seperti yang mama lakukan" Ucap Bella, ia berusaha mati-matian menahan tangisnya. Ia tak ingin kalah.
"Maaf tante, mungkin tante belum mengenal saya. Tapi tante jangan meragukan saya, saya berjanji akan menjaga Bella dan membahagiakan nya. Kami sudah lama saling mencintai. Terkait kuliah Bella saya tidak akan menghalanginya meski kami sudah menikah, saya akan bertanggung jawab menanggung biaya nya" Ucap Brian sebelum Elza kembali angkat bicara. Brian dapat melihat kekecewaan di mata wanita itu mendengar ucapan keras Bella
🍁🍁🍁