My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Kunjungan Diego



Masa depanmu bukan hanya apa yang sedang akan terjadi di waktu mendatang, melainkan juga apa yang sedang kau jalani hari ini. Memilih, memilah dan memahami kehendak Semesta adalah rangkaian proses yang terjadi setiap detik untuk melatihmu peka pada keputusan yang akan mempertaruhkan kebahagiaanmu di masa depan.


Selamat berproses!!


\~\~\~


Fanya manarik nafas lega kala mereka lebih dulu sampai dari ayah mertuanya, sebab selang beberapa menit kemudian lelaki paruh baya itu tampak menekan bel apartemen yang segera dibuka oleh Delvin.


Delvin meraih keranjang buah yang ayahnya pegang kemudian menaruhnya ke meja makan yang terletak di dapur.


“Apa benar kau tidak sakit lagi?” Tanya Diego pada Fanya yang sedang meletakkan teh hangat di atas meja sembari mendudukkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan ayah mertuanya. Sewaktu Diego mengabari Delvin jika akan datang berkunjung untuk menjenguk menantunya itu, Delvin memberi tahu bahwa Fanya sudah membaik.


“Iya Paman, aku sudah sehat.” Ucap Fanya sambil mengurai senyum. Disampingnya tampak Delvin yang baru saja selesai menyimpan buah tangan dari Ayahnya kini turut bergabung dengan mereka.


“Panggil aku Daddy nak, kau itu istri Delvin," protes Diego pada Fanya yang mengangguk canggung. "Kebetulan sekali, Delvin juga tidak sibuk hari ini. Beristirahatlah sebentar di kamar, nanti sore kita akan berangkat ke mansion, kalian menginaplah semalam disana.” Pinta Diego kepada putra dan juga menantunya.


“Tapi Dad—“ Delvin berniat menolak permintaan Ayahnya. “Karna kupikir Fanya sudah sehat, tadi aku membuat janji untuk bertemu dengan klien nanti malam membahas tentang pembukaan cabang baru Coffee Shop milik kita.” Lanjut Delvin berbohong.


“Hmm,” Diego tampak memegang dagunya, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Lain waktu kalian harus berkunjung ke mansion.” Ucap Diego. Keprofesionalitasan adalah didikan yang dari dulu Diego ajarkan pada kedua putranya dalam dunia bisnis yang sudah lama ia geluti dan turunkan ke anak-anaknya, ia tidak mau keinginannya yang masih bisa ditunda membuat Delvin ingkar janji pada klien.


“Baik, Dad.” Delvin bersorak girang di dalam hatinya. Sebenarnya malam ini ia ingin menginap di rumah Michael, sebab bertemu dengan Fanya sepanjang waktu membuatnya benar-benar bosan dan muak dengan dunianya.


Fanya beralih ke dapur, meninggalkan Delvin dan Diego yang sedang asyik bercerita di ruang tamu sambil menyesap teh yang tadi Fanya buatkan untuk mereka. Dia memasak ayam bakar dan salad sayur sebagai menu makan siang mereka kali ini, sebab ayah mertuanya akan pulang saat sore nanti.


Tanpa terasa Fanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan masakannya, ia menata makanan yang menggugah lidah itu di atas meja makan kemudian beranjak ke ruang tamu untuk memanggil dua orang yang tadi berbincang kini beralih bermain catur.


“Kau kalah Delvin.” Ucap Diego saat Rook milik Diego memakan King milik Delvin. Tampak raut frustasi dari mimik Delvin, belum sekalipun ia berhasil mengalahkan Ayahnya setiap kali memainkan olahraga yang mengandalkan otak itu.


“Aku baru saja selesai masak, Daddy silahkan makan siang.” Ujar Fanya setelah melihat berakhirnya permainan catur antara Delvin dan Diego.


“Uhmm, terimakasih nak, mari kita makan bersama.” Ajak Diego kepada putra dan juga menantunya.


Mereka menyantap masakan Fanya dengan lahapnya, tampak Diego sejenak menghentikan suapan ke mulutnya. Tiba-tiba saja air mata jatuh dari pelupuknya, namun dengan segera ia seka menggunakan telapak tangannya.


Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Fanya dan juga Delvin, membuat mereka bingung sekaligus khawatir, sebab sedari tadi lelaki dengan kerutan yang semakin jelas di wajahnya itu tampak baik-baik saja.


“Are you okay, Dad?” Tanya Delvin cemas sambil mengusap punggung tangan Diego.


“I’m Okay,” Diego mengumbar senyum sebagai isyarat jika dia baik-baik saja. “Daddy hanya terharu, makanan seenak ini dibuat oleh menantu Daddy, kau harus membuat bekal makan siang suamimu di kantor dan juga bekal makan siang anak-anak kalian kelak, masakanmu sangat enak sayang.” Ucap Diego yang kembali membuatnya menitikkan air mata.


Delvin yang mengerti maksud perkataan Ayahnya sejenak terpaku, selama ia dilahirkan—bukan, tepatnya selama Ayahnya menikah dengan wanita yang tidak sudi ia panggil Ibu, belum pernah sekalipun mereka merasakan masakan dari tangan wanita itu bahkan untuk makan bersama pun tak pernah mereka lakukan.


“Tadi aku juga sudah menaruh bekal makan malam Daddy di kotak makanan. Jika Daddy mau, setiap hari aku bisa mengirim masakanku ke mansion.” Fanyapun mencoba menenangkan Ayah mertuanya yang tampak sendu akibat manik sembabnya.


“Tidak perlu nak, tidak perlu. Daddy hanya memintamu melakukannya untuk suami dan anak kalian nanti, itu sudah membuat Papa senang.” Diego sedikit menarik sudut bibirnya, manampilkan senyum samar pada dua orang yang menunjukkan kekhawatiran untuknya.


Fanya hanya mengangguk, hatinya tercubit sama seperti Delvin. Sebab baru semalam mereka membicarakan tentang akhir pernikahan mereka dan hari ini Diego menaruh harapan seorang cucu dari mereka.


***


Delvin baru saja mengantar Ayahnya pulang hingga ke lobby Apartemen, ia kembali ke Apartemen miliknya bersama dengan sekelabat nasihat Diego yang terngiang-ngiang di kepalanya.


Nak percayalah, tidak semua perempuan terlahir dengan sifat seperti Ibumu. Daddy tahu, tidak ada cinta di hatimu—untuk Fanya ataupun perempuan selain Fanya. Daddy hanya berpesan, jika kelak istrimu pantas kau perjuangkan. Dapatkan dan miliki dia sepenuhnya. Namun jika kau enggan mempertahankan pernikahan kalian, lepaskan dia dengan tidak memberinya luka. Daddy berharap, apapun keputusanmu nanti, kelak tidak meninggalkan penyesalan untukmu dikemudian hari.


Delvin menyurai rambutnya dengan kasar, dia mendapati Fanya sedang duduk di sofa ruang tamu sedang menjarum kancing kemeja kerjanya yang terlepas, nanti malam kemeja itu akan ia pakai bekerja di Coffee Shop.


Delvin berniat masuk ke kamarnya, namun langkahnya terhenti kala Fanya memanggil namanya.


“Delvin—“ Fanya yang menyadari kedatangan Delvin beranjak dari tempat duduknya. “Ini uang untuk makan siangku tadi.” Ucap Fanya sembari menyodorkan enam Euro (sekitar seratus ribu) ke tangan Delvin. Ia sudah memperhitungan biaya yang kira-kira harus ia keluarkan untuk makanan yang ia habiskan.


“Simpanlah, kau sudah membuat Ayahku terharu dan senang dengan masakanmu tadi. Itu hadiah untukmu.” Delvin enggan menerima uang dari Fanya.


“Apa ini seperti hadiah untuk pelayan yang berhasil menyenangkan hati majikannya?” Ingatan Fanya berputar pada kejadian yang membuatnya sangat terhina kala Delvin menyebutnya orang yang tidak tahu malu memakan makanan yang bukan miliknya.


“Kau tidak perlu menghadiahiku dengan sepiring makanan, selagi aku masih memiliki kaki dan tangan untuk bekerja, aku akan bertanggung jawab dengan isi perutku.” Lanjut Fanya sembari menyisipkan uang tersebut ke telapak tangan Delvin.


Delvin meraih pergelangan tangan Fanya kala perempuan itu akan berlalu dari hadapannya, uang yang tadi Fanya sisipkan di tangannya kini terjatuh di lantai. Ia mengunci tubuh Fanya menggunakan kedua tangannya ke pintu kamar yang sedang tertutup.


Delvin menatap lekat manik hazel Fanya yang memerah menahan tangis, ada getaran aneh yang mengerayangi dadanya, membuat hatinya berdesir melihat sosok yang ada di kungkungannya.


“Jika kau perempuan yang kuat, tidak—jika kau berpura-pura kuat, jangan pernah memasang tampang sedihmu saat kau baru saja memukul musuhmu dengan perkataan tegasmu.” Delvin melepas cengkramannya dari lengan Fanya, kemudian berlalu keluar dari hadapan perempuan itu.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira