My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
1. Ulang Tahun



Keramahan dari sikap seseorang adalah secuil dari sisi baik yang ia perlihatkan. Ada banyak sikap yang tak tersingkap jika hanya bertemu dengan singkat. Namun untuk pertemuan yang tak singkat, semoga memberi akhir yang baik kala sikap pun kelak terungkap.


\~\~\~


Hari kira-kira pukul duabelas malam, dimana saat itu hujan deras sedang mengguyur Kota Paris. Seorang gadis berusia 24 tahun tampak duduk sembari menekuk kakinya di depan sebuah Coffee Shop yang cukup elit sebagai tempatnya bekerja paruh waktu.


Suasana disana kini mulai sepi, hanya dia dan sebuah kotak kue tart yang ia letakkan di samping kanannya, sebab Coffee Shop itu sudah tutup sejak pukul sepuluh tadi. Ia sedang menunggu seseorang yang berjanji akan menjemput dirinya, namun sosok itu belum muncul-muncul hingga dua jam lebih lamanya ia menunggu.


Sebuah cahaya dari mobil sport yang tepat berhenti di depan Coffee Shop menyilaukan mata dari gadis itu. Seorang pria dengan kaos hitam tampak keluar dari dalam mobil, sekilas ia menatap ke arah gadis itu namun kemudian ia berlalu membuka pintu Coffee Shop dengan kunci yang ia genggam.


Gadis itu terlihat memperhatikan pergerakan dari pria itu, hingga beberapa menit berlalu sosok itu tampak keluar dari dalam bangunan itu.


“Apa yang sedang kau lakukan, Nona? Mengapa kau tidak kembali ke rumahmu?” Pria itu bertanya sembari memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana yang sedang ia pakai.


“Uhmm, aku sedang menunggu seseorang.” Gadis itu sedikit menarik sudut bibirnya, sebab pria itu cukup ramah menegurnya.


“Apakah seseorang itu yang akan mengantarmu pulang?” Pria itu kembali bertanya yang langsung diangguki oleh gadis itu.


“Mengapa kau tak menghubunginya? Ini sudah tengah malam, apa kau yakin dia akan menjemputmu?” Lagi-lagi pria itu bertanya.


“Dia tidak mengangkat panggilan teleponku dan barusan nomornya sudah tidak aktif. Tapi, dia—dia sudah berjanji akan menjemputku.” Tampak keraguan dari nada bicara gadis itu, sebab ia pun mulai tidak yakin bahwa sosok yang ditunggunya (mungkin) tidak akan datang.


“Dimana alamatmu? Aku akan mengantarmu.” Permintaan pria itu barusan sedikit membuat gadis itu tersentak.


“Aku—aku.” Sungguh gadis itu dilema, sebab ia baru pertama kali bertemu dengan pria itu.


“Baiklah, jika kau tidak bersedia, aku akan kembali.” Pria itu beranjak dari pijakannya, sampai suara dari gadis itu menghentikan langkahnya.


“Tunggu!” Gadis itu tidak punya pilihan, malam semakin larut sedangkan kehadiran sosok yang ditunggunya tidak memberikan tanda-tanda akan muncul. Ia memberikan alamat tempat tinggalnya kepada sosok asing yang berbaik hati ingin mengantarnya.


Hujan tak kunjung reda, pria itu membuka payung yang tadi ia bawa. Mereka berjalan bersama memasuki mobil yang berlahan menjauh meninggalkan Coffee Shop yang menjadi awal pertemuan mereka.


Perjalanan yang memakan waktu sekitar duapuluh menit, mereka isi dengan beberapa obrolon ringan.


“Siapa namamu?” Pria itu bertanya dengan suara bariton khas miliknya.


“Fanya Clarence, orang-orang biasa memanggilku Fanya. Apa aku juga bisa mengetahui namamu?” Gadis itu balik bertanya kepada pria yang juga tidak ia ketahui namanya.


“Delvin Albercio, kau bisa memanggilku Delvin,” manik pria itu sedikit beralih ke arah kotak kue yang Fanya letakkan di atas pangkuannya. “Apa kau akan merayakan ulang tahun seseorang?”


Fanya menggeleng pun tak menjawab akan ia kemanakan kue itu.


Cuaca hari ini sepertinya mendukung suasana hati Fanya, malam ini kekasihnya—Jack berjanji akan menjemputnya tepat setelah gadis itu selesai bekerja. Tadinya mereka berencana akan makan malam bersama untuk merayakan hubungan mereka yang genap tiga tahun. Ia khusus membuat kue tart dihari spesial mereka kali ini. Namun ketidakhadiran Jack sungguh mengecewakan gadis itu.


“Apa kau bekerja di Coffee Shop tadi?” Delvin tidak ingin bertanya lebih jauh tentang kue tart tersebut, sebab ia menangkap kemurungan dari raut Fanya. Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Aku pekerja paruh waktu disana. Maaf, apakah kamu yang menggantikan Bapak Dika untuk mengelola Coffee Shop itu?” Tadi pagi sahabatnya—Kiara mengatakan bahwa bos mereka digantikan oleh putra dari pemilik Coffee Shop tempat mereka bekerja. Fanya yang mengambil shift malam tidak bertemu dengan bos baru mereka. Namun melihat Delvin yang membuka pintu bangunan yang terkunci tadi membuatnya berpikir bahwa pria itu adalah bos mereka.


Delvin mengangguk yang membuat Fanya menjadi canggung setengah mati.


Suara dering ponsel milik Delvin memenuhi mobil yang sedang ia kemudikan, membuatnya berlahan memelankan laju mobilnya.


“Halo,”


“Baiklah, aku akan segera kesana.”


Delvin memutus sambungan telepon genggamnya, ia beralih ke arah Fanya yang sedang menatap ke luar jendela mobil.


“Fanya, bisakah sebentar kita singgah ke mini bar A? Aku ingin mengambil berkas dari seseorang disana.” Kedatangan Delvin ke Coffee Shop tadi adalah ingin mengambil berkas penting yang seingatnya tertinggal disana. Namun sekretarisnya baru saja menghubunginya bahwa berkas itu sudah lebih dulu ia ambil.


Delvin yang khawatir sekretarisnya akan mabuk bisa saja menghilangkan berkas yang ia cari, membuatnya berpikir untuk lebih dulu menjemput berkas tersebut.


“Ya, tidak masalah.” Fanya tak punya alasan untuk menolak, sebab ia sedang menumpang, ditambah pria yang ia tumpangi adalah bosnya.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang dan berhenti disalah satu mini bar di Kota Paris. Kebetulan mini bar tersebut searah dengan tempat tinggal Fanya, membuat mereka tidak perlu berputar arah dan cukup beberapa menit untuk sampai ke tempat itu.


Mereka memasuki ruangan yang dipenuhi oleh para pria dan perempuan dewasa. Bau alkohol dan asap rokok memenuhi setiap sudut bangunan itu.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday dear Delvin


Happy birthday to you


Tampak segerombolan orang dan seorang gadis memegang kue tart dengan lilin angka duapuluh lima menghiasi atasnya, mereka bernyanyi dengan keras kala melihat kehadiran Delvin.


Delvin mengerjapkan maniknya berkali-kali. Sungguh ia tak menduga dengan kejutan yang orang-orang terdekatnya lakukan.


Ia mendekat ke arah perempuan yang memegang kue tart dengan cream berwarna biru yang menutupi setiap sisi kue. Ia memadamkan lilin yang tadi menyala dengan beberapa kali tiupan.


“Terimakasih Rose.” Delvin memberi kecupan singkat kepada seorang gadis yang ia panggil ‘Rose.’ Suara riuh dari tepukan tangan yang menyaksikan perbuatan Delvin membuat wajah Rose tersipu malu.


Fanya yang menjadi orang asing di antara mereka sedikit memundurkan tubuhnya.


“Aku sudah memesan ruangan sebagai tempat perayaan ulang tahunmu, Delv.” Ujar Richard—sekretaris Delvin yang juga sahabat dari pria itu.


Delvin yang tidak melihat keberadaan Fanya menoleh ke arah belakang, ia melihat gadis itu berdiri kaku yang langsung segera ia hampiri.


“Maukah kau ikut merayakan ulangtahunku?” Pinta Delvin kepada Fanya.


Sungguh, Fanya teramat sulit untuk menolak permintaan Delvin, lagi-lagi ia harus mengangguk mengiyakan perkataan pria itu.


Rose yang melihat kedekatan Delvin dengan gadis asing di hadapannya, juga kotak tart yang Fanya genggam, membuat rautnya samar-samar menampilkan ketidaksukaan, sangat terlihat dari maniknya yang menatap sinis ke arah gadis itu.


***


Hai readers, ini adalah novel pertama Author di Noveltoon/Mangatoon dan Ceria adalah penulis baru dipernovelan, hehehe.


Jangan lupa like, komen dan vote ya tulisan Ceria, supaya aku semakin semangat menulisnya.


Saran yang membangun juga sangat aku butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira