
"Menerima luka di masa lalu adalah cara untuk mencintai dirimu"
\~\~\~
"Ke-kenapa kau memelukku?" Tanya Delvin merasa heran dengan Fanya, dia pikir setelah menceritakan keterlibatan sang ibu pada kematian orang tua Fanya membuat perempuan itu marah dan malah membencinya.
Sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk mendapat amukan atapun pukulan dari sang istri.
"Apakah kau benar-benar mencintaiku?" Tak memberi jawaban pada Delvin, Fanya malah memilih bertanya tentang kesungguhan cinta pria itu.
Ia sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap lekat manik Delvin.
"Karena masa lalu ibuku, aku tidak pernah berpikir untuk memiliki kekasih apalagi menikah. Tapi keberadaanmu menjadi warna lain untukku, kau berbeda dari apa yang kupikirkan Fanya. Sungguh aku sangat mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu." Tegas Delvin penuh kesungguhan. Nada bicara, mimik dan manik pria itu seperti ikut berbicara untuk meyakinkan Fanya.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, berhentilah membenci ibumu." Pinta Fanya pada sang suami. Ia masih dapat merasakan ketidaksukaan Delvin pada sang ibu, sebab setiap kali membicarakan Kinanti, nafas pria itu terdengar memburu seperti orang yang sedang menahan amarah.
"Kebencianku padanya bukan menjadi tolak ukur cintaku padamu atau pada siapapun itu." Volume suara Delvin sedikit meninggi, ia tidak terima kesungguhannya terhadap Fanya menjadi tak berarti karena belum bisa memaafkan sang ibu.
"Aku tidak bermaksud mengatakan kebencianmu pada Bibi Kinanti menjadi tolak ukur perasaanmu padaku." Sanggah Fanya cepat sambil melepaskan tangannya yang masih bertaut di pinggang Delvin.
"Lalu?"
Fanya beranjak dari atas ranjang, ia berjalan mendekat ke jendela, pandangannya menatap lurus keluar.
"Kebahagiaan tidak akan pernah menjadi milikmu jika kau belum bisa berdamai dengan luka di masa lalumu. Aku tidak memintamu untuk melupakan kesalahan Bibi Kinanti, karena itu adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Tapi kau bisa belajar menerima semua luka-luka yang pernah beliau berikan, dengan begitu dirimu bisa berlahan memberi maaf dan menghapus kebencianmu pada Bibi Kinanti," sebuah tarikan nafas disusul embusan panjang dari indra penciuman Fanya menjadi jeda pada perkataan perempuan itu.
"Ayahku adalah lelaki paling egois yang pernah kutemui, pernikahan orangtuaku terjadi karena sebuah perjodohan dan tidak ada cinta di antara mereka. Meskipun begitu, dia tetap memperlakukan ibuku dengan sangat baik. Sampai akhirnya kehadiran Bibi Kinanti yang adalah cinta pertama Ayahku merubah sikapnya, dia menjadi sangat dingin dan tidak peduli pada ibuku. Perceraian harusnya menjadi jalan terbaik untuk mengakhiri hubungan tak sehat mereka, tapi Ayahku enggan melakukannya hingga mereka meninggal," Fanya sejenak memejamkan matanya, ia sedikit menarik sudut bibirnya.
"Aku tidak pernah mensyukuri hal buruk yang terjadi di keluarga kami, tapi aku banyak belajar dari kehidupan di masa lalu itu. Memberi maaf pada mereka adalah pilihan yang tak pernah kusesali, karena dengan melakukan itulah aku bisa menjalani hidup dengan baik." Angin malam yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar terasa menusuk hingga ke tulang sumsum Fanya, ia hendak memberi kehangatan pada tubuhnya dengan menautkan tangan di depan perut. Namun tangan kokoh Delvin lebih dulu menyalurkan kehangatan padanya.
"Terimakasih sudah terlahir ke dunia ini." Delvin yang memeluk Fanya dari belakang menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri. Matanya tampak sembab akibat perkataan perempuan itu.
Sungguh ia semakin mengagumi sang istri, Fanya yang sebenarnya juga menjadi korban dari kejadian di masa lalu tidak sedikitpun menyimpan dendam pada orang-orang yang sudah melukainya. Sedangkan dirinya terus berkutat dengan luka itu.
Fanya mengusap lembut tangan Delvin yang melingkar di perutnya.
***
Tepat di pukul enam pagi Fanya terjaga dari tidurnya, ia menarik lebar sudut bibirnya memandangi wajah Delvin yang masih tertidur pulas sambil memeluk dirinya.
Semalam mereka sudah sepakat untuk mempertahankan pernikahan yang berada diambang perceraian itu.
Nasihat Kinanti menjadi alasan terbesar Fanya menerima Delvin kembali. Lagi, hubungannya dengan Jack pun sudah hancur, melanjutkan jalinan kasih dengan pria itu sama saja seperti membangun penderitaan baru di kehidupannya.
Tangan mungil Fanya menelusuri wajah Delvin yang masih memejamkan mata, sesekali dia mengusap lembut pipi pria itu.
"Ketika Jack mempermalukanku di depan banyak orang, terimakasih sudah berdiri paling depan membelaku. Malam itu, aku merasa menjadi orang yang sangat kau cintai sekalipun kau tidak mengatakannya padaku." Gumam Fanya pelan.
Ia yang hampir tiga tahun menghabiskan waktu untuk mencintai Jack tak menyangka akan diperlakukan sangat buruk oleh pria itu.
Disaat semua orang menatap jijik ke arah Fanya dan membisikkan hal buruk pada perempuan itu akibat perkataan Jack, hanya Delvin seorang yang menjadi tembok perlindungannya malam itu.
"Jangan pernah bosan mencintaiku." Lanjut Fanya sambil melayangkan kecupan singkat di pipi pria itu.
Manik Fanya membola ditambah semburat merah yang muncul secara alami di pipi perempuan itu. Rasa malu dan terkejut bersatu padu di dalam dirinya.
"Kau sengaja pura-pura tidur untuk menguping pembicaraanku ya?" Seru Fanya setelah Delvin melepas tautan bibir mereka.
"Begitulah," ucap Delvin dengan santainya. "Ehmm, bisakah kau mengecup pipiku lagi? Tadi aku tidak membuka mata saat kau melakukannya. Aku mau melihat seperti apa ekspresimu." Ujar Delvin menggoda sang istri, senyuman jahil menghiasi bibir pria itu.
Wajah Fanya semakin bersemu merah, ia melepas selimut yang mereka pakai dan segera beranjak dari ranjang.
"Aku akan memasak sarapan kita, cepatlah mandi dan jangan lupa membersihkan mulutmu. Nafasmu sangat bau saat tadi menciumku." Ujar Fanya berbohong untuk menutupi rasa malunya.
"Benarkah?" Tanya Delvin sambil meniupkan nafas ke telapak tangannya kemudian mendekatkannya ke indra penciuman pria itu.
"Tidak bau." Gumam pria itu.
"Jelas tidak bau kalau kau sendiri yang menciumnya. Asal kau tahu, tadi aku sudah menahan nafas karena tidak sanggup dengan bau mulutmu." Fanya yang sudah berada di ambang pintu meledek sang suami. Ia bersorak girang bisa mengerjai pria itu.
Bukannya langsung pergi berkumur atau menyikat giginya, Delvin malah ikut keluar dari dalam kamar.
Dia menghampiri sang Ayah mertua yang sedang duduk meminum teh di ruang tamu.
"Pa, apakah nafasku bau?" Tanya Delvin yang membuat Thomas mengernyitkan kening.
Fanya yang hendak pergi ke dapur menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Delvin.
"Coba embuskan, biar Papa tahu bau apa tidak." Meski tak mengerti tujuan Delvin menanyakan itu, Thomas tetap meminta sang menantu meniupkan nafasnya.
Segera Delvin mengembuskan nafas di hadapan sang Ayah mertua, wangi cinnamon langsung memenuhi indra penciuman lelaki paruh baya itu.
"Nafasmu tidak bau nak, aroma cinnamon sangat segar menurut Papa." Ujar Thomas jujur.
"Ohh God, kenapa Papa dan suamiku bersikap aneh seperti itu?" Batin Fanya heran melihat kelakuan Thomas dan Delvin.
"Berarti Fanya berbohong, tadi dia mengatakan nafasku sangat bau saat kami berciuman." Ujar Delvin baru sadar dikerjai sang istri.
Pipi Fanya langsung memerah bak kepiting rebus karena kalimat Delvin barusan, tawa sang Ayah disusul ibunya yang baru saja keluar dari dalam kamar benar-benar membuat Fanya ingin menyembunyikan diri.
"Pasangan muda seperti kalian memang sering bertingkah lucu." Ujar Lucia mendudukkan tubuhnya di hadapan Thomas.
Fanya yang sudah sangat malu melangkah cepat menuju dapur. Sialnya, Delvin ikut membuntutinya dari belakang.
"Kenapa kau mengatakan nafasku bau? Kau sengaja berbohong untuk mengerjaiku 'kan? Setiap pagi aku akan menciummu tanpa ampun sebagai hukumanya. Kau hampir merusak kepercayaan diriku tadi, untung saja Papa jujur padaku." Celotehan Delvin yang panjang lebar itu tak mendapat respon dari Fanya.
Perempuan itu memilih mengabaikan sang suami yang sudah membuatnya malu setengah mati di hadapan kedua orangtuanya.
.
.
.
.