My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Menguping



Rasa yang tercipta dari jatuh cinta adalah nano-nano. Terkadang manis, terkadang pahit.


Selamat menikmati 'jatuh' dan 'cinta' mu yang semoga berakhir manis


\~\~\~


"Kenapa dia lama sekali? Sekarang sudah hampir jam delapan, padahal dia berjanji akan datang jam setengah delapan." Ujar Kiara menggerutu.


Sore tadi Rose mengirimi Fanya pesan, dia mengajak perempuan itu makan malam. Kebetulan tadi Fanya sedang berada di rumah Kiara dan dia meminta sahabatnya itu untuk ikut.


"Mungkin dia terjebak macet, Ra." Jawab Fanya memberi pengertian pada Kiara yang mulai jenuh menunggu.


Sejujurnya Fanya pun sangat enggan menerima ajakan Rose karena perempuan itu dekat dengan suaminya, tapi dia juga tidak enak hati untuk menolaknya mengingat semalam Rose mengatakan ingin berteman dengannya.


"Semoga saja." Ujar Kiara akhirnya.


Minuman bersoda yang tadi mereka pesan tak terasa sudah habis karena terlalu lama menunggu kedatangan Rose.


"Apa menurutmu perceraian kalian tidak akan meninggalkan masalah?" Tanya Kiara tiba-tiba. Siang tadi, Fanya menyambangi rumah kontrakannya, sahabatnya itu bercerita perihal perceraiannya dengan Delvin yang dipercepat sesuai kesepakatan mereka. Namun untuk perbuatan Delvin semalam, Fanya merahasiakannya, dia tidak menceritakan hal itu kepada Kiara.


"Pernikahan kami saja sudah menjadi masalah, Ra dan sudah pasti perceraiannya juga akan meninggalkan masalah. Tapi setidaknya itu adalah cara satu-satunya untuk menyelesaikannya. Kau tahu, semakin lama kami menjalani pernikahan ini, maka akan semakin banyak masalah yang tertumpuk." Ujar Fanya, sebuah senyuman getir menghiasi bibir perempuan itu.


Di kursi yang terpisah dari mereka, seorang perempuan yang mengenakan kemeja merah muda dan rok selutut tersenyum sumringah mendengar pembicaraan antara Fanya dan Kiara.


"Aku juga sudah yakin ada yang janggal di pernikahan mereka. Delvin tidak mungkin mau berkomitmen sedangkan dia sangat membenci yang namanya pernikahan. Pasti ada alasan lain kenapa Delvin sampai menikahinya? Tapi apapun alasannya, intinya mereka akan bercerai." Gumam Rose pelan.


Saat hendak menghampiri kursi Fanya, Rose tidak sengaja mendengar Kiara menyebut tentang perceraian. Dia langsung berbalik badan dan duduk di kursi lain yang berdekatan dengan Fanya agar bisa menguping pembicaraan mereka. Kebetulan Fanya membelakangi Rose, dia tidak melihat kedatangan perempuan itu.


Sebuah pesan masuk terdengar di ponsel Fanya, perempuan itu segera mengambil benda pipih tersebut dari dalam tas sandang berwarna hitam miliknya kemudian membuka isi pesan itu.



From : Rose



Fanya, maafkan aku. Aku tidak bisa datang malam ini, sebab ada meeting lanjutan di perusahaan tempatku bekerja jam setengah sembilan nanti. Aku sedang menangani proyek penting, ini aku baru keluar dari ruang meeting. Kupikir akan selesai di jam tujuh tadi. Sekali lagi, maafkan aku.


Pesan dari Rose yang berisi kebohongan langsung dipercayai Fanya.


Tidak masalah Rose, fokuslah pada pekerjaanmu, lain waktu kita bisa makan bersama.


Fanya segera membalas pesan dari Rose agar perempuan itu tidak merasa bersalah karena sudah membatalkan makan malam yang ia janjikan sendiri. Setelah itu, barulah dia menjelaskan pesan tersebut pada Kiara.


"Ckk, harusnya kalau dia sibuk tidak usah membuat janji." Kiara mendecak kesal.


"Karena dia tidak datang, kita makan berdua saja. Kita juga sudah jarang melakukannya bukan?" Ajak Fanya membujuk. Dia sudah bisa menebak sekesal apa sahabatnya itu, Kiara adalah tipe orang yang paling benci menunggu orang-orang yang tidak on time apalagi kalau tidak jadi datang seperti ini.


"Baiklah, perutku juga sudah sangat keroncongan hanya karena menunggu dia." Ujar Kiara melunak, raut kesal di wajahnya sudah menghilang, sebab apa yang terjadi bukanlah kesalahan Fanya.


Mereka segera memesan makanan sedangkan Rose langsung meninggalkan Restoran tersebut setelah pesan yang ia kirim mendapat balasan dari Fanya.


***


Fanya sampai di Apartemen tepat di pukul sepuluh malam. Delvin yang sedari tadi menunggu kepulangan perempuan itu langsung bangkit berdiri dari sofa ruang tamu. Dia sudah berkali-kali menghubungi nomor Fanya namun di reject perempuan itu membuat dia sangat frustasi sepanjang hari.


"Kenapa kau pulang malam sekali? Apa kau sengaja menghindariku?" Pertanyaan bertubi Delvin menyambut Fanya.


Perempuan itu tak menghentikan langkahnya, seakan dia tidak mendengar apa yang Delvin tanyakan.


"Fanya-" Suara Delvin yang menggema namun terdengar lembut memanggil nama sang istri berhasil menghentikan langkah Fanya.


"Tadi aku makan malam bersama Kiara." Ujar perempuan itu, namun lagi, dia tidak menoleh ke arah Delvin.


Meskipun begitu, Delvin bersyukur Fanya masih mau berbicara padanya. "Uhhm, segeralah mandi, tadi aku sudah membuatkan air hangat di bathup untukmu." Ujar Delvin penuh perhatian. Entahlah dia sedang merayu Fanya agar mendapat maaf, tapi yang pasti dia ingin melakukan banyak hal baik untuk sang istri.


"Terimakasih." Ucap Fanya. Dia membalik tubuhnya menghadap Delvin. Membuat manik mereka bersitatap beberapa detik lamanya. Sebelum akhirnya dia membuang muka lebih dulu.


Fanya yang tiba-tiba berbalik sungguh membuat dada Delvin berdegup kencang, serasa perempuan itu sudah lama tidak menatapnya.


"Jangan bersikap layaknya seorang suami padaku, tak lama lagi kita akan berakhir Delvin." Kalimat Fanya yang terdengar tegas bak sebilah pisau yang menyayat hati Delvin. Tangannya terkepal kuat menahan sakit yang kembali hadir menggerayangi diri pria itu setiap kali mendengar kata perpisahan yang Fanya ucapkan.


***


Beri like, komen dan vote ya teman-teman. Terimakasih 😊