My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Sembuh Berujung Pertengkaran



Kemarahan tak beralasan akan selalu meninggalkan sebuah penyesalan bahkan mungkin keterlukaan. Entah untuk dirimu sendiri atau orang yang menjadi tempatmu melampiaskan kekesalan.


\~\~\~


Fanya berlahan mengerjapkan matanya, ia terkejut ketika mendapati dirinya di ranjang Delvin, ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apakah Delvin tidur bersamanya. Fanya menarik nafas lega kala tak mendapati pria itu.


“Dia pasti sudah berangkat ke Berlin.” Gumam Fanya dalam hati.


Sebuah kain yang sedikit lembab terjatuh dari kening Fanya saat dia hendak beranjak dari tempat tidur, ingatannya berputar pada kejadian dinihari ketika dirinya merasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang hingga pingsan tak sadarkan diri.


Sambil menyentuh keningnya yang tidak lagi panas, ia berjalan keluar menuju dapur. Dia sangat lapar membuat perutnya berbunyi menandakan kalau dia benar-benar butuh asupan. Agar tidak menunggu terlalu lama, dirinya merebus mie instan yang ia stok sekardus.


Tidak membutuhkan waktu lama, makanan cepat saji itu sudah berpindah ke mangkok untuk ia santap sebagai sarapannya pagi ini.


Kepulan asap yang menyeruak dari makanan itu menimbulkan bau khas dari mie instan yang mendominasi dapur bahkan merembes hingga ke ruang tamu. Saat Fanya sedang lahap-lahapnya menyantap makanan itu, tampak Delvin membawa sebuah kantong plastik yang berisi keperluan memasak berupa dada ayam dan sayuran berjalan ke dapur.


“Kau sarapan mie instan?!” Tanya Delvin dengan mata yang membulat sempurna. Dia baru saja pulang dari minimarket yang berada di lantai dasar Apartemen tempat mereka tinggal, dia membeli bahan-bahan untuk membuat bubur yang tadinya ingin ia masak untuk Fanya.


“Ka—kau, bukannya kau akan pergi ke Berlin?” Sama dengan Delvin, mata Fanyapun membulat sempurna, ia terkejut melihat keberadaan pria itu.


“Semalam kau demam tinggi, sampai subuh tadipun demammu tidak turun-turun. Kak David tidak mengizinkan aku ikut, dia memintaku untuk menjagamu. Kau benar-benar sangat merepotkan dan mengganggu pekerjaanku.” Ucap Delvin sambil mendengus kesal.


Delvin akhirnya meminta sekretarisnya—Richard untuk menggantikan dirinya ke Berlin bersama David—kakaknya. Akibat hujan semalam, Fanya mengalami demam tinggi dan flu, membuat Delvin terpaksa menjaganya. Awalnya ia ingin menyewa pelayan untuk merawat Fanya, namun David melarangnya dan menyuruh Delvin tinggal sebab sudah menjadi tanggungjawabnya sebagai suami.


“Maaf, aku tidak tahu kalau malam itu akan hujan.” Ucap Fanya menyesal.


“Tapi kau tahu kalau akhir-akhir ini sering hujan. Dan lagi, kau pikir aku akan tertarik denganmu, kau tidak perlu khawatir untuk tidur di sofa kamarku, di samping ranjangku bahkan tidak mengenakan pakaian di hadapanku, aku tidak akan menyentuhmu. Aku tidak tertarik dengan tubuhmu atau apapun yang ada didirimu,” Delvin meninggikan volume dari nada bicaranya.


“Menolongmu adalah kesialan yang paling kusesali seumur hidupuku Fa—nya.” Lanjut Delvin. Jika dia tahu Fanya akan membaik secepat ini, jelas ia tidak akan mengindahkan saran kakaknya untuk menjaga Fanya, keberangkatannya ke Berlin sebenarnya juga menjadi tempat pelampiasan untuk membuang kepenatan dari kehidupan yang semakin tidak menyenangkan setelah kehadiran Fanya. Namun lagi, dengan tidak sengaja perempuan yang kini menjadi istrinya menggagalkan rencananya.


Perkataan Delvin barusan bak ribuan jarum yang menusuk ulu hati Fanya, menimbulkan sakit yang luar biasa di dadannya, membuat ia tak mampu berkata-kata selain mengeluarkan air mata. Sekuat tenaga Fanya beranjak dari dudukannya, ia berlari dengan tubuh yang sedikit gemetar mengambil tas sandang yang terletak di atas meja ruang tamu kemudian berlalu meninggalkan apartemen mewah namun seperti neraka untuk dirinya.


***


“Apa yang terjadi? Kau ada masalah?” Tanya Kiara dengan khawatir sambil menenangkan Fanya yang masih sesunggukan di dalam pelukannya.


Fanya hanya menggeleng dengan isak tangis yang urung berhenti dari pelupuk matanya, dia belum siap menceritakan tentang pernikahannya pada Kiara.


“Apa Jack melukaimu? Dia menyakitimu?” Tebak Kiara yang lagi membuat Fanya menggeleng.


“Benarkah? Kita bisa berkunjung ke Dinan akhir pekan nanti.” Kiara memberi saran sebab dirinyapun sudah lama tidak pulang ke kampung halamannya itu.


“Kau tahukan aku sedang menabung untuk membeli hadiah di hari ulang tahun mamaku, aku harus menghemat Kiara.” Jelas Fanya. Dia memang berniat akan membelikan sebuah cincin pernikahan untuk ibunya di hari ulang tahun wanita itu, sebab sewaktu ia akan berangkat ke Paris, cincin pernikahan ibunya harus terjual untuk membayar ongkos dan biaya hidup Fanya beberapa bulan ke depan di Kota Cinta yang menjadi tempat Fanya mengadu nasib.


“Aku akan membayar ongkosmu.” Kiara yang melihat Fanya menangis seperti tadi tidak tega jika sahabatnya itu bersedih.


“Terimakasih Kiara, terimakasih banyak. Tapi sebaiknya simpanlah uangmu untuk keperluanmu nanti, aku tidak mau merepotkanmu.” Fanya menolak niat baik sahabatnya itu, sebab ia tahu, Kiara juga kesulitan secara finansial sama seperti dirinya.


Pesan masuk di telepon genggam milik Fanya mengalihkan pembicaraan mereka.


—From : Delvin


Kau dimana? Kirimkan lokasi keberadaanmu, Daddy baru saja meneleponku. Dia dalam perjalanan menuju apartemen, kak David memberi tahu Daddy kalau kau sedang sakit, Dad mau menjengukmu.


Fanya yang membaca pesan dari Delvin segera mengirim lokasinya pada pria itu, tampak ketakutan dari wajahnya memikirkan jika ayah mertuanya lebih dulu sampai di apartemen dan tidak mendapati dirinya disana.


“Kiara, aku harus segera pulang.” Ucap Fanya sambil mengemasi tas dan cardigan yang ia taruh asal di lantai kamar Kiara.


“Secepat ini?” Tanya Kiara heran, sebab biasanya jika Fanya berkunjung ke tempatnya maka sahabatnya itu akan menginap atau setidaknya menghabiskan waktu hingga berjam-jam lamanya untuk sekedar mengobrol atau mengajaknya berjalan-jalan ke taman yang tidak jauh dari kediamannya.


“Maafkan aku Kiara, aku ada urusan.” Suara klakson mobil terdengar nyaring hingga ke kamar Kiara, membuat Fanya bergegas meninggalkan ruang tempat tidur sahabatnya itu.


Fanya membuka pintu mobil yang terparkir tepat di halaman kontrakan Kiara, jarak antara rumah Kiara dan apartemen Delvin memang tidak terlalu jauh, membuat Delvin tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai menjemput Fanya.


Sesaat setelah mobil itu melaju meninggalkan kediaman Kiara, kepergian mereka juga meninggalkan tanda tanya besar bagi Kiara yang melihat sahabatnya pergi bersama seseorang dengan mobil mewah yang tidak asing baginya.


“Bukankah itu mobil Pak Delvin?” Gumam Kiara dari balik pintu yang terbuka setengah.


***


Selamat menunaikan ibadah puasa untuk teman-teman yang menjalaninya 💛


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira