My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Sangat Mencintai Fanya



Perasaan cintamu pada seseorang dapat dilihat dari tatapan mata dan juga caramu memperlakukannya


\~\~\~


Delvin mendesah frustasi, sikap Fanya langsung berubah sejak kejadian semalam. Perempuan itu mendiaminya, bahkan saat tadi dia berangkat ke kantor, Fanya sudah lebih dulu pergi tanpa meminta izin padanya.


"Kau kenapa?" Tanya Richard yang baru saja sampai di perusahaan Albercio group itu. Dia melihat Delvin sedang memijat kening dengan kepala menunduk, tanda kalau pria itu sedang memikirkan sesuatu.


Mendengar kehadiran Richard, Delvin sedikit menengadahkan kepalanya.


"Aku sangat suntuk hari ini." Ujar Delvin dengan raut frustasi. Rasanya dia sangat enggan menjalani hari sulit ini.


"Apa yang membuatmu suntuk?" Tanya Richard penuh khawatir. Dia menarik kursi yang ada di hadapan Delvin kemudian duduk di atasnya.


"Rose sudah tahu kalau aku sudah menikah, semalam dia memergoki Fanya di Apartemenku dan saat aku mengantarnya ke lobby, dia menunjukkan foto diriku dan Fanya tidur bersama di Mansion Papa. Apa kau yang mengambil foto kami waktu itu kemudian mengirimnya ke Rose?" Dari semalam Delvin terus menduga-duga siapa pelaku yang memotret dia dan sang istri.


Pertanyaan Delvin membuat Richard tersentak, sebab dia adalah pelakunya. Ekspresi pria itu tidak bisa berbohong jika sudah berhadapan dengan Delvin.


"Aku-aku memang mengambilnya tapi aku tidak ada mengirim ke Rose. Aku berani bersumpah, karena tujuanku memotret kalian untuk menunjukkan padamu kalau kau sebenarnya sudah nyaman dengan keberadaan istrimu hanya saja kau belum menyadarinya." Ungkapnya jujur.


"Aku mulai nyaman dengannya?" Tanya Delvin membatin pada dirinya sendiri, membuat dia sesaat terdiam.


"Kau!! Lalu, darimana dia mendapat foto itu kalau bukan kau yang mengirimnya?" Untuk menepis pikirannya barusan, Delvin malah menyembur Richard dengan pertanyaan.


"Aku sendiri tidak tahu Delvin. Tapi, semalam saat pulang dari bandara kami singgah ke mall B dan setelah selesai makan siang, aku pergi ke toilet dan meninggalkan ponselku di meja. Aku tidak tahu apa Rose mengotak-atiknya dan menemukan foto kalian disana kemudian mengambilnya, kebetulan aku tidak memberi kode pada ponselku. Lagi, pesan masuk Fanya yang mengundangku untuk makan malam di Apartemen kalian mengatakan kalau dia sudah berkali-kali menghubungiku namun aku tidak mengangkatnya. Tapi saat aku memeriksa missed call di ponselku, aku tidak menemukan nomornya, kupikir jaringanku sedang error." Jelas Richard panjang lebar. Dia mulai curiga pada Rose, jika perempuan itulah yang mengambil sendiri foto tersebut dari ponselnya.


"Sudah pasti Rose yang mengambil foto itu dari ponselmu. Jaringanmu tidak error, semalam aku sendiri melihat Fanya menghubungimu. Nomormu aktif, hanya saja kau tidak mengangkat panggilan itu. Mungkin kau sedang berada di toilet dan Rose yang melihat panggilan masuk dari Fanya menjadi penasaran dengan isi ponselmu." Ujar Delvin dengan yakin.


"Kau benar, dia benar-benar tidak punya sopan santun membuka ponselku sembarangan. Aku akan memberi peringatan keras padanya." Richard menimpali perkataan Delvin. Dia menggeram dalam hati, bisa-bisanya Rose melakukan perbuatan licik itu.


"Kau pikir peringatan keras darimu akan mengembalikan keadaan. Kau malah tidak jauh berbeda dengan Rose." Sarkas Delvin, dia malah menyudutkan sahabatnya itu.


"Aku tidak sama dengan Rose." Bantah Richard cepat. Meskipun dia sudah berteman lama dengan Rose, dia tidak mau disamakan dengan perempuan itu.


"Memotret orang secara diam-diam sudah melanggar privasi orang lain, sama dengan yang Rose lakukan padamu. Dia menggunakan ponselmu tanpa izin, itu juga sudah melanggar privasi." Tegas Delvin agar sahabatnya itu tidak mengulang kesalahannya.


"Maafkan aku. Uhhm, tapi apakah jadi masalah kalau Rose mengetahui pernikahanmu? Toh dia juga teman kita." Ujar Richard sedikit membela diri.


"Memang tidak masalah. Tapi setelah dia tahu hubunganku dengan Fanya, semalam Rose mengatakan kalau dia mencintaiku." Seru Delvin, dia sungguh kesal atas jawaban Richard barusan.


"Benarkah?!" Tanya Richard dengan manik membola, sulit baginya untuk mempercayai apa yang dikatakan Delvin.


"Untuk apa aku berbohong, semalam dia jujur padaku saat di lobby." Delvin semakin kesal pada Richard yang sepertinya tidak mempercayai perkataannya.


"Begitu banyaknya pria di Kota Paris ini, kenapa dia harus mencintai temannya?" Tanya Richard heran, dia menyesalkan perasaan Rose pada sahabatnya itu.


"Soal itu bukan urusanku." Jawab Delvin sambil memutar malas bola matanya.


"Ada lagi-" sejenak kalimat Delvin terjeda, dia menarik nafas dalam dan mengembuskannya dengan kasar. "Fanya mendiamiku, dia membuang muka tiap kali aku menatapnya. Dia berusaha menghindariku."


"Uhmm, a-nu. Apa dia cemburu pada Rose?" Tebak Richard.


Delvin menggeleng, "semalam aku hampir memperkosanya." Ujarnya lirih.


Sebenarnya tindakan Delvin tidaklah salah, sebab dia tidak ada memaksa Fanya ataupun melukai perempuan itu. Lagi, mereka adalah pasangan yang sah. Hanya saja, mereka yang belum sama-sama saling mencintai membuat Delvin berpikir bahwa tindakannya semalam sama dengan 'hampir memperkosa' sang istri.


"Astaga Delvin!!" Richard terlonjak kaget dari duduknya mendengar pengakuan sahabatnya itu. "Sangat wajar kalau dia mendiamimu. Kau pasti mabuk semalam." Tuduh Richard, karena menurutnya sangat tidak mungkin Delvin menodai Fanya kalau bukan karena pengaruh alkohol. Richard sendiripun tidak setuju jika sahabatnya itu memaksa Fanya berhubungan badan sedangkan mereka belum saling mencintai.


"Aku tidak mabuk." Sanggah Delvin cepat.


"Lalu, kenapa kau hampir memperkosanya?" Tampak kerutan dalam di kening Richard.


"Aku tiba-tiba saja menginginkannya." Ujar Delvin jujur.


Sesaat Richard terkesiap mendengar kejujuran sahabatnya itu, "kau menginginkannya? Apa kau mulai mencintainya?"


"Aku tidak tahu apakah aku mulai mencintainya? Intinya aku hampir gila setiap kali memikirkan perceraian kami." Kembali Delvin mendesah frustasi.


"Delvin, percayalah padaku, kau sudah jatuh cinta pada istrimu. Aku sudah mengatakan padamu, pikirkan baik-baik tentang perceraian kalian. Kau harus mempertahankannya Delvin." Richard menyakini sahabatnya itu 99% sudah jatuh cinta pada Fanya.


"Sekalipun aku mencintainya, aku tidak bisa memaksa dia untuk tetap tinggal di sisiku Richard. Fanya sudah memiliki kekasih." Ujar Delvin sambil sedikit menunduk. Dadanya terasa sesak, tidak hanya ketika memikirkan perceraiannya tapi juga saat ia mengingat sang istri sudah memiliki kekasih.


"Dia memiliki kekasih?" Tanya Richard memastikan ulang.


Delvin mengangguk, "dan sepertinya dia sangat mencintai kekasihnya."


"Seandainya dia tidak memiliki kekasih, apa kau akan mempertahankan pernikahan kalian?" Pertanyaan penuh selidik dari Richard berhasil menggetarkan tubuh Delvin.


"Iya, tapi kalau dia mencintaiku." Jawab Delvin pelan.


"Delvin!! Kau tidak hanya mencintai Fanya, tapi teramat sangat mencintai perempuan itu. Kau bahkan mengorbankan pernikahan kalian demi kebahagiaannya. Aku-aku sungguh bersyukur ada seorang perempuan yang menempati hatimu." Suara Richard mengudara memenuhi kantor Delvin akibat rasa bahagia yang meluap-luap di hati pria itu. Dia bahkan bangkit berdiri dari kursi tempatnya duduk.


Bagaimana tidak, sahabatnya yang pernah bersumpah tidak akan menikah bahkan jatuh cinta seumur hidupnya, kini sudah membuka hati pada Fanya-perempuan yang ia yakini baik dan pantas bersanding dengan Delvin. Bukan lagi 99% melainkan 100% Richard sangat yakin Delvin sudah jatuh cinta.


"Kau tahu darimana aku sangat mencintai Fanya?" Tanya Delvin seolah tidak setuju dengan perkataam Richard sedangkan hatinya membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu.


"Semua orang pasti dengan mudah menebaknya Delvin. Oh God, harusnya kalian lebih dulu bertemu sebelum Fanya memiliki kekasih." Kali ini Richard yang mendesah frustasi memikirkan kerumitan dari perjalanan cinta sahabatnya itu.


***


Jangan lupa untuk memfavoritkan novel ini ya teman-teman, agar kalian mendapat notifikasi update. Beri like, komen dan vote sebagai bentuk dukungan kalian pada cerita ini. Jika berkenan juga dapat memberi hadiah bunga. Follow instagram author ya : @ceria_yuwandira.


Terimakasih teman-teman 😊