My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Kembali Ke Paris



Sekuat apapun badai dalam sebuah hubungan, tidak akan goyah jika pondasi yang dibangun sudah sangat kokoh.


(Cinta tanpa pondasi seperti makanan tak bergaram. Hambar dan menjadi basi)


\~\~\~


Telepon tadi berasal dari Richard--sahabat sekaligus sekretarisnya itu mengabari jika ada hal penting di perusahaan yang mengharuskan Delvin pulang ke Paris.


Setelah berpamitan dengan Thomas dan Lucia, mereka segera masuk ke dalam mobil sedan yang dibawa Delvin. Tidak lupa, pria itu membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Terimakasih." Ujar Fanya tersenyum pada perhatian yang diberikan Delvin.


Delvin mengangguk dan menyusul sang istri masuk ke dalam mobil, kendaraan roda empat itu perlahan bergerak meninggalkan kediaman orangtua mereka.


"Apa kau punya impian yang belum terwujud?" Tanya Delvin memulai obrolan untuk menemani perjalanan mereka.


Sejenak Fanya merenung, memikirkan hal apa yang sangat ia inginkan.


"Uhmm, bulan depan ada pameran lukisan International di Museum Louvre, aku sangat ingin mengunjungi tempat itu." Seru Fanya bersemangat.


"Hanya itu saja?" Mendengar keingianan sederhana sang istri, sudut bibir pria itu sedikit tertarik.


Fanya mengangguk, "aku belum pernah sekalipun mengunjungi pameran lukisan Internasional." Biaya tiket yang mahal menjadi alasan perempuan itu menahan keinginannya yang hampir tidak bisa dibendung.


"Kupikir kau punya impian lain, seperti berbulan madu ke benua lain dan memiliki anak bersamaku." Delvin yang jelas sedang menggoda sang istri mendapat tatapan tajam dari Fanya.


Perempuan itu sudah sangat antusias menceritakan keinginannya tapi Delvin malah tidak menanggapi dengan serius, membuat Fanya sedikit kesal pada pria itu.


"A-aku hanya bercanda. Katakan, tanggal berapa pameran itu diadakan, biar aku segera membooking tiket kita." Nyali Delvin selalu ciut setiap kali mendapat tatapan tajam sang istri.


Fanya tak menggubris perkataan Delvin, perempuan itu membuang muka menghadap jendela mobil.


"Sayang, apa kau marah? Tolong jangan mendiamiku." Ujar Delvin sambil mengusap punggung tangan Fanya, wajah perempuan itu kembali merona karena panggilan 'sayang' sang suami.


"Sayang." Panggil Delvin lagi dan saat itu juga tatapan Fanya langsung berpindah ke manik pria itu, pun juga dengan Delvin.


Mata yang saling bertemu pandang secara bersamaan cukup menggelitik perut mereka, menimbulkan tawa yang tak bisa di tahan.


"Maafkan aku soal yang tadi." Ujar Delvin setelah mereka berhenti tertawa.


"Aku juga, maaf karena terlalu mudah kesal padamu." Fanya menyadari, sikapnya tadi juga terlalu berlebihan pada pria itu.


Sifat keras kepala yang tidak dimiliki Delvin dan Fanya membuat mereka mudah berbaikan dan lebih memahami satu sama lain.


Sepanjang perjalanan, tidak sedetikpun mobil yang Delvin kendarai hening. Dia dan sang istri tanpa henti bertukar cerita tentang kehidupan mereka dulu, diselingi canda dan juga tawa.


Hingga tanpa terasa, mereka sudah sampai di Kota penuh cinta itu.


***


"Kau sudah mengumpulkan semua foto-fotonya?" Tanya Delvin pada Richard yang duduk di hadapanya. Mereka sedang berada di kantor Delvin. Setelah mengantar sang istri ke Apartemen, dia izin ke perusahaan.


Sebuah amplop berisi foto dan flashdisk Richard serahkan kepada Delvin.


Dengan tak sabaran, Delvin mengeluarkan isi amplop itu. Dia tersenyum sinis memandang potret seorang pria yang dikenalnya, tidur tanpa busana di sebuah kamar hotel bersama wanita yang tampak asing bagi Delvin, .


"Dia tidak hanya meniduri Tasha." foto tadi ia taruh kembali di tempat semula, kini Delvin beralih pada flashdisk berwarna putih milik sang sahabat.


Sebuah video, hasil dari rekaman CCTV berputar di layar laptop Delvin. Menampilkan sosok Jack yang sedang berpesta di sebuah klub malam terbesar di Kota Paris bersama para wanita yang berpakaian minim.


"Fanya menunggu dia seorang diri di teras Coffee Shop, tapi pria brengsek ini malah sibuk berpesta dengan ******-jalangnya." Waktu yang terekam di CCTV adalah hari dimana Delvin bertemu dengan Fanya, perempuan itu mengatakan sedang menunggu kekasihnya-Jack untuk menjemput perempuan itu.


Hal yang cukup mengejutkan untuk Delvin, bahwa Jack sudah mengkhianati Fanya jauh sebelum pria itu menjalin kasih dengan sang istri. Bukti foto dan rekaman CCTV dengan jelas memperlihatkan tanggal, bulan dan tahun kebersamaan Jack dengan wanita simpanannya.


"Penjahat kelamin seperti dia sangat beruntung pernah dicintai Fanya." Tangan Delvin mengepal kuat melihat semua bukti-bukti perselingkuhan Jack.


Saat berada di Dinan, Delvin menghubungi Richard untuk mencari tahu kebenaran dari banyak hal buruk yang ia curigai pada mantan kekasih istrinya itu. Lagi, ia sangat yakin Fanya tidak akan menaruh rasa padanya jika Jack menunjukkan rasa sayang yang tulus pada perempuan itu.


Sungguh Delvin sangat bersyukur Fanya bisa berpaling dari pria bajingan itu.


"Bagaimana dengan laporannya?" Laporan yang dimaksud Delvin adalah aduan Jack kepada pihak berwajib karena dia sudah memukuli pria itu hingga babak belur.


"Aku sudah mengurus semuanya." Jawab Richard santai, sebagai seorang kepercayaan keluarga Albercio, hal yang sangat mudah untuk dirinya menyelesaikan masalah seperti itu.


"Bagus," Delvin berdiri dari kursinya. "Aku sudah tidak sabar bertemu lagi dengan pria brengsek itu." Ujar Delvin sambil melangkahkan kaki meninggalkan ruanga kerjanya, disusul Richard yang mengikuti pria itu dari belakang.


***


Beri like, komen dan vote ya reades untuk mendukun novel ini. Jika berkenan bisa juag memberikan hadiah bunga.


Terimakasih luvv 💛💛


.


.


.


.