My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Bukan Halusinasi



Merindu adalah proses yang harus dijalani untuk merasakan bagaimana indahnya melepas rindu


\~\~\~


Suara mirip Delvin terdengar nyaring di indra pendengaran Fanya, ia segera berbalik untuk memastikan sang pemilik suara adalah suaminya.


Sungguh, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini, berkali-kali Fanya mengerjapkan mata, kali saja yang ia lihat tidak nyata. Tidak lupa, dia mencubit sebelah pipinya untuk memastikan jika dia tidak sedang bermimpi.


"Sayang, jangan melukai pipimu." Sosok Delvin yang sedang duduk di kursi roda merasa khawatir pada sang istri.


"Ka-kau Delvin? Kau benar-benar Delvin?" Tanya Fanya penuh keraguan pada indra penglihatannya.


Delvin mengangguk sambil tersenyum, "aku Delvin Albercio, suamimu." Ujar pria itu.


Meski Fanya tidak begitu yakin, dia tetap melangkah mendekati Delvin yang berjarak setengah meter darinya.


"Sekalipun aku sedang berhalusinasi, a-aku tidak peduli. Asalkan aku bisa melihatmu berbicara sebentar saja, sudah cukup untuk mengobati rinduku." Ujar Fanya berurai air mata, dia sedikit menunduk agar bisa memeluk Delvin yang sedang duduk.


"Aku bukan halusinasimu, coba lihat di sisi kananmu." Pinta Delvin.


Tubuhnya yang bertaut dengan Delvin memang sangat terasa nyata, Fanya menjadi bingung dengan kejadian yang ia alami.


Mendengar Delvin memintanya melihat ke sisi kanan, Fanya segera mengindahkan perkataan pria itu.


"Dad Diego, kak David, Kiara..." Tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada, tampak Ayah mertua, kakak ipar dan sahabatnya sedang menangis memperhatikan dia dan Delvin. Di sebelah Diego berdiri seorang dokter yang biasa memeriksa perkembangan kondisi Delvin bersama dua orang perawat.


"Delv-" Manik Fanya beralih ke arah sang suami dan meleburkan kembali tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.


"Aku juga merindukanmu, sangat merindukanmu." Ujar Delvin berusaha memeluk penuh Fanya, meski tangannya sedikit terganggu oleh selang infus yang masih terpasang di tubuh pria itu.


***


Mereka kembali bersama ke rumah sakit, sebab Delvin yang baru sadar dari koma masih perlu diperiksa oleh dokter.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Delvin secara rinci menceritakan detik-detik pria itu terbangun dari koma pada sang istri.


"Aku mendengar suara tangisanmu yang sangat pilu menggema di telingaku, sekuat tenaga aku mencoba menghiburmu namun lidahku benar-benar kelu bahkan bibirku sangat sulit untuk digerakkan. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Usahaku untuk berbicara ternyata memberi respon pada tubuhku, Kak David melihat jemariku bergerak dan dia segera memanggil dokter," sejenak kalimat Delvin terjeda oleh helaan nafas pria itu.


"Saat itu aku bisa mendengar suara yang benar-benar nyata di sekelilingku, tapi aku tidak mendengar suaramu. Rasa cemas, sedih dan kalut bercampur aduk di dalam diriku hingga membuat aku berhasil membuka mata bahkan saat dokter belum sampai ke ruanganku. Aku langsung mencari keberadaanmu yang tidak kutemukan." Delvin mengusap lembut wajah Fanya yang terdengar serius mendengar ceritanya.


"Daddy yang langsung bisa menebak pikiranku, mengatakan jika kau baru saja pergi ke Apartemen dan aku memaksa Kak David untuk menyusulmu. Dokter yang sudah tiba di ruanganku tidak mengizinkan aku pergi, tapi aku tetap bersikeras dan mengancam akan melukai diriku jika mereka tetap menahanku."


"Ka-u!!" Manik Fanya membola, "perbuatanmu yang satu itu tidak bisa dibenarkan." Tegas perempuan itu.


"Maafkan aku, tapi aku sudah sangat merindukanmu. Lagi, siapa yang tidak akan sedih ketika tersadar dari koma orang yang dicintainya tidak berada disisinya?" Dan rasa sedih itu semakin menjadi untuk Delvin karena sebelum ia tersadar suara tangisan pilu Fanya masih terngiang-ngiang di telinga pria itu.


Fanya tidak mendebat ucapan Delvin, dia memilih diam sebagai tanda untuk Delvin melanjutkan cerita.


"Dengan segala pertimbangan, dokter akhirnya mengizinkan aku pergi dan tentunya di bawah pengawasan beliau. Saat mobil kami keluar dari kompleks rumah sakit, aku melihat mobil Daddy yang kalian pakai bersama Pak Kenan tidak berjalan di jalur menuju Apartemen dan aku langsung meminta kak David untuk mengikuti kalian." Ujar Delvin merasa puas dan lega bisa menceritakannya pada sang istri.


"Berarti kau mendengar pembicaraanku di makam tadi?"


"Aku mendengar semuanya. Ingin sekali aku segera bangkit dari kursi roda, melepas infus ditanganku dan berlari memelukmu, tapi tenagaku terlalu lemah melakukannya. Terimakasih sudah dengan tegas mengakui perasaanmu di hadapan Mama, terimakasih sudah sangat mengkhawatirkanku tapi sebisa mungkin aku tidak akan membuatmu khawatir lagi karena aku tidak suka melihatmu menangis." Ujar Delvin berjanji, dia mengecup singkat pipi Fanya.


***


"Terimakasih." Ujar Delvin pada sang kakak dan perawat tersebut.


Fanya segera memegang chair handle di kursi roda Delvin dan mendorong pria itu masuk ke dalam rumah sakit.


Sesampainya di ruangan tempat Delvin dirawat, dokter segera memeriksa kondisi pria itu.


"Syukurlah, seluruh organ pasien berfungsi dengan baik. Tinggal proses pemulihan total yang memakan waktu kurang lebih sebulan." Ujar sang dokter memberi penjelasan setelah hampir satu jam memeriksa Delvin.


Semua orang yang berada di ruangan Delvin menarik nafas lega.


Ruangan yang sempat ramai tadi kini menyisakan Delvin dan Fanya berdua. Diego sudah kembali ke Mansion, sedangkan David segera kembali ke perusahaan, pekerjaan pria itu sudah menumpuk akibat kecelakaan yang dialami sang adik dan Richard. Kiara yang sudah tidak mengkhawatirkan Fanya lagi juga meminta izin pulang.


Lagi, besok Delvin akan kembali ke Apartemen, pria itu meminta di rawat di rumah saja oleh Tom-dokter pribadi keluarga mereka.


"Apa Richard baik-baik saja?" Tanya Delvin pada sang istri yang berbaring di sisi pria itu. Ranjang rumah sakit yang didesain untuk seorang tidak terasa sempit bagi Delvin dan Fanya yang belum puas melepas rindu. Mereka ingin terus berdekatan tanpa jarak.


"Aku belum sempat menjenguknya karena selalu menjagamu, tapi kak David bilang dia sudah mulai membaik hanya saja dia takut kemari karena merasa bersalah dengan kecelakaan yang kalian alami. Nanti setelah makan siang, kita bisa berkunjung ke ruangan tempat dia dirawat." Kondisi Delvin yang koma adalah hal yang paling disesali Richard, ia merutuki dirinya yang tidak berhasil menghindari kecelakaan itu.


"Pasti dia juga merasa tertekan atas komanya diriku." Ujar Delvin, ia khawatir memikirkan Richard yang sedang sakit karena kecelakaan diliputi rasa bersalah. Tentu sakitnya menjadi berkali lipat.


"Apa sekarang saja kita ke ruangannya?" Fanya jadi ikut khawatir mendengar perkataan Delvin.


"Setelah makan siang saja, aku masih ingin lama-lama di peluk olehmu." Ujar Delvin, sejak Fanya berbaring, tangan perempuan itu langsung melingkar di pinggang Delvin. Momen langka yang terjadi di hidup pria itu tentu tidak ia sia-siakan.


Fanya tersenyum, dia menatap sekilas manik Delvin, lalu...


Tubuh pria itu menegang, sebab Fanya tiba-tiba memberi dia sebuah ciuman.


"Sa-yang." Delvin sampai melenguh kala Fanya semakin memperdalam ciumannya. Lagi, momen langka seperti ini sudah jelas tidak disia-siakan pria itu. Dia membalas setiap sesapan yang Fanya berikan.


Ciuman mereka berlangsung cukup lama, pasokan oksigen yang mulai menipis di paru-paru sepasang suami istri itu mengakhiri pergulatan antar bibir dan lidah mereka.


Wajah Fanya langsung bersemu merah, perbuatannya barusan mengantarkan dia pada rasa malu yang sangat luar biasa.


"A-aku mau ke kamar mandi." Ujar Fanya terbata, ia segera pergi meninggalkan Delvin yang tersenyum senang menatapnya.


"Gila, gila, gila. Aku benar-benar sudah gila. Kenapa aku seberani itu menciumnya?" Fanya terduduk lemas di belakang pintu kamar mandi, dia mengusap wajahnya berkali-kali merutuki keagresifannya barusan.


Berbeda dengan Delvin, pria itu malah sangat bahagia dengan apa yang Fanya lakukan.


"Jika rindu membuatmu berani menciumku, aku berharap setiap hari kau merindukanku meski kita hanya berjarak satu sentimeter." Gumam Delvin menatap kamar mandi tempat Fanya berada.


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman, jika berkenan bisa memberi bunga.


Terimakasih 😊