
“Kehidupan akan terus berjalan sekalipun dirimu menyesali ‘hal’ yang sudah berlalu dan membiarkan penyesalan menemani perjalanan kehidupanmu akan menjadi luka yang kelak juga kau sesali. Hiduplah berbahagia, jika itu sebuah kesalahan maka belajarlah memaafkan, belajar menerima."
\~\~\~
Setelah Fanya membasuh wajahnya yang sempat memerah akibat ciuman tadi, ia keluar dari dalam kamar mandi menemui Delvin. Perempuan itu memilih duduk di kursi yang terletak disisi tempat tidur sang suami.
“Terimakasih.” Delvin yang tak berhenti mengulum senyum mencoba mencairkan kecanggungan di antara mereka. Sejak Fanya keluar dari dalam kamar mandi, perempuan itu memilih diam.
Fanya yang sedari tadi menunduk sambil memainkan jemarinya, berlahan menaikkan kepala dan menatap tajam ke arah pria itu.
“A—aku, aku sedang menetralkan rasa maluku, bisakah kau tidak membahas soal yang tadi?!!” Seru Fanya, manik perempuan itu membola sempurna.
Sungguh Delvin tak bisa menahan tawa mendengar perkataan sang istri hingga sedikit menimbulkan rasa nyeri pada luka di lengan kanan pria itu akibat tubuhnya yang terguncang.
“Kenapa kau berpikir aku hendak membahas itu? Aku mengucapkan terimakasih karena kau memilih duduk di kursi dan bukan di ranjang, tidur bersamaku.” Ujar Delvin sambil meredakan tawanya agar tidak melukai lengan pria itu.
Perkataan Delvin cukup membuat Fanya tersentak, “maaf, aku sudah salah paham.” Ujarnya, manik perempuan itu terlihat memerah. Tak menyangka, Delvin mengucapkan hal diluar dugaannya, ia membuang muka ke sembarang arah untuk menghindari tatapan sang suami.
Sikap Fanya justru semakin menggelitik Delvin untuk menggoda perempuan itu.
“Kalau kau memilih tidur di ranjang bersamaku, aku akan membalas perbuatanmu yang tadi. Menciummu dan—“ Delvin sengaja menggantung kalimatnya, menunggu Fanya untuk kembali menatapnya.
“Dan apa?!!” Tanya Fanya dengan wajah ketus.
“Memakanmu.” Ujar Delvin setengah berbisik.
“Delvinnn!!!” Seru Fanya bangkit dari kursi hendak memukul dada pria itu.
Dengan sigap Delvin menahan kedua tangan Fanya yang sudah terkepal.
“Tunggu aku pulih, tubuhku masih banyak luka. Kita belum bisa melakukannya.” Ujar Delvin, menarik Fanya ke dalam pelukannya.
“Aku ingin memukulmu, bukan melakukan hal yang ada di otak mesummu itu.” Seru Fanya sambil mencebikkan bibir. Ia sedikit menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya bertumpu pada Delvin, sebab luka akibat kecelakaan yang pria itu alami belumlah pulih.
“Hari ini kita sama-sama mesum, tadi kau bahkan menggi—” Kalimat Delvin terjeda, sebab tangan Fanya
membungkam mulut pria itu.
“Pleaseee, aku benar-benar malu jika mengingatnya.” Cicit Fanya pelan dengan wajah yang kembali bersemu bak kepiting rebus.
Ekspresi Fanya yang terlihat sangat menggemaskan membuat Delvin tidak tahan untuk mencubit pipi sang istri dan memberi kecupan singkat.
“Sekalipun kau malu, jangan sekali-kali melupakannya. Dirimu dan ciuman tadi sangat berarti untukku.” Ujar Delvin seperti permintaan pada sang istri.
Fanya sesaat menatap manik sang suami, ada rasa haru dan bahagia menyelimuti hati perempuan itu. Sesaat kemudian, ia menggangguk dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Delvin.
“Tidak akan, bahkan sedetik waktu yang sudah kita lewati akan selalu kuingat.“ Batin Fanya, sembari menikmati kenyamanan yang diberikan Delvin melalui kecupan di puncak kepala perempuan itu.
***
“Ini bukan kesalahanmu, aku juga sudah sadar dari koma.” Ujar Delvin kepada Richard yang tak hentinya meminta maaf.
Ya, sesuai kesepakatannya dengan sang istri, seusai jam makan siang, mereka berkunjung ke kamar tempat sahabatnya itu dirawat.
“Tapi tetap saja, kesialan itu terjadi karena aku yang mengemudikan mobil.” Lirih Richard, mengingat kembali kejadian naas yang ia alami bersama Delvin.
Penyesalan dan rasa bersalah Richard semakin menjadi, sebab saat kecelakaan itu, ia melihat Delvin tak sadarkan diri dan darah mengalir deras dari pelipis sang sahabat. Sialnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa, akibat kaki pria itu terhimpit jok mobil.
“Sekalipun Delvin yang mengemudikan mobil, jika takdir sudah menghendaki, kecelakaan itu akan tetap terjadi. Daripada menyalahkan diri yang justru akan menyakitimu dan orang-orang terdekatmu, bukankah lebih baik kita mensyukuri kesembuhan Delvin dan keselamatan kalian berdua?” Ujar Fanya merasa iba pada Richard yang terlihat frustasi.
Richard terdiam, kalimat yang Fanya dan sang Ibu lontarkan mutlak menjadi nasihat yang tidak bisa ia bantah, sebab di dalam hatinya, ia membenarkan apa yang mereka katakan.
“Papa tahu kamu sangat menyayangi Delvin, mungkin itu yang membuatmu dipenuhi rasa bersalah. Tapi yang terpenting, Delvin tidak menyalahkanmu nak. Pertemanan kalian akan menjadi canggung jika kamu terus bersikap begitu.” Ujar Leonardo—Ayah Richard.
“Iya Pa, aku mengerti.” Suara Richard yang terdengar lirih malah mendapat ledekan dari Delvin.
“Ternyata kau sangat menyayangiku,” seru Delvin, ia menjeda kalimatnya, menatap ke arah sang istri yang tepat duduk di sisi kirinya. “Sayang, tolong jangan cemburu pada Richard. Percayalah, seribu persen dia tidak akan berhasil merebutku darimu.” Pria itu terkekeh mengejek Richard yang menatapnya dengan tajam.
Jika biasanya Fanya bersemu di hadapan Delvin saja, kali ini pipinya merona di depan keluarga besar Richard dan lagi akibat ulah sang suami.
“Aku masih pria normal, aku tidak menyayangimu sama sekali.” Bantah Richard cepat, sedangkan Fanya memilih menunduk, mengabaikan apa yang Delvin katakan.
“Bohong, tadi kau mengatakan ‘iya’ pada Paman Leonardo. Sudahlah Richard, aku juga tahu kau sangat menyayangiku. Bibi Rebecca, tolong carikan perempuan untuk putramu, dia harus segera menikah agar bisa berpaling dariku.” Seru Delvin yang semakin gencar meledek sang sahabat.
“Baiklah, aku mengalah. Aku memang menyayangimu, tapi tidak mencintaimu.” Ujar Richard mengalah.
“Benarkah? Apa kau yakin tidak mencintaiku?” Delvin sepertinya belum puas mengerjai sahabatnya itu.
Seperkian detik Richard mengubah ekspresinya, dari yang sebelumnya ketus tiba-tiba tersenyum manis menatap Delvin.
“Ehhm—“ Richard mengangguk-anggukkan kepala, mengedipkan sebelah matanya, sambil mengelus punggung tangan Delvin yang pria itu letakkan di sisi tempat tidurnya, “aku memang sangat mencintaimu sedari dulu hingga sekarang, hanya—“ Kalimat Richard terjeda, sebab Delvin sudah lebih dulu berteriak dan menepis tangannya.
“Richard!! Ka—kau, menjauhlah dariku.” Delvin bergidik ngeri mendengar perkataan sang sahabat, ditambah sikap manja Richard kepadanya berhasil membuat ia meremang takut.
Suara tawa menggelegar kuat di ruangan itu, termasuk Fanya yang merasa lucu melihat tingkah Delvin setelah Richard membalas mengerjai pria itu.
“Kau juga mencintaikukan? Iya kan?” Kali ini Richard menggenggam pergelangan tangan sang sahabat sambil memanyunkan bibirnya.
“Tolong!!” Delvin berteriak spontan, membuat kursi roda yang ia duduki sedikit bergeser kebelakang.
Kembali, seisi ruangan itu tertawa (kecuali Babang Delvin Albercio dan benda mati lainnya heheheh). Suasana yang awalnya tegang kini mencair akibat ulah kedua pria itu.
”Tadi kau memaksaku untuk mengakui perasaanku padamu. Setelah kukatakan, kenapa kau jadi ketakutan begini?” Tanya Richard sambil terkekeh.
“Sayang, bawa aku keluar dari sini. Aku tidak mau bertemu Richard sampai dia kembali normal.” Rengek Delvin yang malah membuat Fanya terpaku, sungguh kali ini Delvin yang terlihat sangat menggemaskan.
“Heii, Aku pria normal tahu.” Ujar Richard sambil melambaikan tangannya.
“Fanya, cepat bawa aku.” Delvin segera membuang muka saat sekilas menatap Richard.
“Ba—baik,” Fanya yang sempat terpaku, melangkah kebelakang kursi roda sang suami, “kami permisi dulu, lekas pulih Richard.” Pamit Fanya sambil tersenyum.
“Terimakasih sudah berkunjung.” Ujar pria itu sambil menahan tawa melihat Delvin.
“Terimakasih nak.” Ujar Paman Leonardo dan Bibi Rebecca hampir bersamaan.
Fanya mengangguk, lalu mendorong kursi roda sang suami keluar dari dalam ruangan Richard dirawat.
.
.
.
.