My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Amarah Yang Membuncah



Teman yang tulus adalah dia yang selalu mengharapkan kebahagiaan di kehidupanmu


\~\~\~


Aroma parfum Dior Sauvage menyeruak di mobil sport milik Delvin, wangi tersebut berasal dari tubuh sang pemilik mobil. Malam ini pria itu akan menghadiri acara ulang tahun Sharoon Group-perusahaan milik keluarga Michael.


Mobil yang ia kendarai melaju meninggalkan Apartemen baru pria itu. Setelah melayangkan gugatan cerai pada sang istri, Delvin tidak kembali ke Apartemen tersebut. Pria itu memilih menyewa Apartemen lain.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lebih lamanya, Delvin tiba di Hotel Briller yang menjadi tempat perayaan ulang tahun perusahaan itu.


Pria itu mengayunkan langkah menuju ballroom hotel yang mulai ramai.


"Hai Delv, kau tidak membawa istrimu?" Sapa Rose yang melihat kedatangan pria itu.


Delvin sesaat terdiam mendengar pertanyaan Rose.


"Dia sedang sibuk." Jawabnya asal.


"Apa teramat sibuk sampai tidak mau menemanimu malam ini?" Tanya Rose menelisik.


"Begitulah." Ujar Delvin singkat.


"Dia lebih mementingkan urusannya dari pa-"


"Aku mau memberi ucapan selamat pada Michael dan keluarganya, nanti kita lanjut berbincang." Kalimat Rose dipotong Delvin, dia tidak nyaman atas perkataan perempuan itu.


"Kita bersama, aku juga belum menemui Michael." Ujar Rose sambil menggandeng tangan Delvin.


Sungguh, untuk pertama kalinya selama mereka berteman, Delvin merasa risih digandeng Rose.


"Uhmm, bisakah kau melepaskan tanganmu? Aku sudah memiliki istri. Tidak baik jika orang lain melihat kita seperti ini." Delvin mengurai tangan Rose yang bertaut di pergelangan tangan pria itu.


"Kau!! Kenapa jadi sangat berlebihan? Orang-orang juga tahu kalau kita berteman." Ujar Rose ketus, dia tidak suka pada sikap Delvin barusan.


"Tapi kita tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka Rose." Jelas Delvin yang berharap temannya itu mengerti dengan statusnya saat ini.


"Hah, bilang saja kalau kau tidak mau ada rumor perselingkuhan di pernikahanmu, karena sebentar lagi kalian akan bercerai." Seru Rose sambil tersenyum miring pada Delvin.


"Siapa yang mengatakan itu padamu kalau kami akan bercerai?" Tanya pria itu dengan kerutan dalam di keningnya.


"Siapa lagi kalau bukan istrimu. Aku menebak, alasan kau tidak membawanya kemari jangan-jangan karena kalian sudah bercerai." Ujar Rose berbohong, perempuan itu bersorak senang melihat wajah Delvin yang memerah seperti sedang menahan marah.


Pria itu tak bergeming mendengar jawaban Rose, rasa sesak kembali menjalari dadanya.


*"Sepertinya Fanya sudah sangat siap dengan perpisahan kami*" Batinnya lirih.


"Hei, kenapa kau diam saja?" Rose melambai-lambaikan tangannya tepat di wajah Delvin.


"Ayo menemui Michael." Seru Rose. Karena tidak ada respon dari pria itu, dia menarik paksa tangan Delvin.


***


Suasana pesta tampak riuh oleh gelak tawa dan perbincangan para tamu undangan yang hadir di acara ulang tahun Sharoon Group yang hari ini genap berusia setengah abad.


Mini konser dari artis papan atas menambah semarak pesta disana.


"Apa kalian bertiga akan menginap?" Tanya Michael pada Delvin, Richard dan Rose. Saat ini mereka sedang menyantap makan malam yang terhidang di hadapan mereka.


Pesta perayaan ulang tahun dari perusahaan Sharoon Group akan diadakan semalaman, kamar-kamar sudah disediakan bagi tamu yang ingin menginap.


Lokasi hotel yang berdekatan dengan puncak sebenarnya cukup menjadi daya tarik para tamu undangan untuk menginap, sebab di pagi hari mereka bisa menikmati garden view sambil menyaksikan sunrise dari rooftop hotel.


Pemandangan dan suasana seperti itu tentu sangat mereka inginkan untuk sekedar melepaskan penat dari sibuknya pekerjaan. Kebetulan hari ini adalah weekend, tentu menginap adalah pilihan yang tepat untuk mereka yang tidak memiliki kesibukan lain.


"Aku akan menginap." Jawab Richard lebih dulu.


"Aku juga." Susul Delvin. Daripada di Apartemen seorang diri dan dibuat suntuk memikirkan perceraiannya, pria itu memilih untuk menginap bersama Richard.


"Uhhm, karena kalian memilih menginap, aku juga akan menginap." Ujar Rose mengikuti kedua pria itu.


"Baguslah, kebetulan aku juga sudah memilihkan kamar yang berdekatan untuk kita." Michael yang merasa yakin teman-temanya akan menginap sudah lebih dulu menyediakan kamar pada mereka.


"Tadi dia sedang bersamaku, tapi izin sebentar menemui temannya." Jawab Michael menjelaskan.


"Ooh." Richard menganggukkan kepalanya.


Keempat sekawan itu kembali melanjutkan makan malam mereka sambil sesekali bercerita tentang dunia bisnis yang sedang mereka geluti.


***


"Apa kau lelah?" Tanya Fanya pada Kiara yang terdengar menarik nafas dalam. Mereka sedang duduk di kursi yang ada di dapur hotel.


"Lumayan." Jawab perempuan itu tersenyum.


Mereka dan beberapa pelayan lainnya baru saja menjamu makan malam para tamu undangan yang begitu ramai di acara ulang tahun Sharoon Group.


"Sesuai dengan gajinya yang juga lumayan." Fanya menimpali jawaban sahabatnya itu sambil tertawa pelan, sebab mereka langsung menerima gaji satu jam sebelum acara pesta dimulai.


"Kau benar." Ujar Kiara setuju dengan Fanya, diapun ikut tertawa.


Di tengah perbincangan mereka, kepala pelayan yang mengurus bagian konsumsi menghampiri kedua perempuan itu dengan membawa troli makanan.


"Nak, bisakah diantara kalian mengantarkan makanan ini ke kamar nomor 16?" Pinta wanita paruh baya itu.


"Bisa Bu, biar saya yang mengantarnya." Jawab Fanya cepat, raut kelelahan yang tampak jelas di wajah Kiara membuat perempuan itu menyodorkan dirinya.


"Aku akan menemanimu." Ujar Kiara.


"Tidak perlu, tunggulah disini. Aku tidak akan lama." Tolak Fanya, ia meminta sahabatnya itu untuk tinggal.


"Bagaimana nak? Siapa yang akan mengantar?" Tanya kepala pelayan itu lagi.


"Saya bu." Seru Fanya sambil mengambil alih troli yang di pegang kepala pelayan.


"Terimakasih nak." Ujar sang kepala pelayan.


Fanya mengayunkan langkah meninggalkan dapur hotel menuju kamar nomor 16. Untuk mencapai kamar tersebut, dia harus menaiki lift yang terletak di ballroom hotel, sebab kamar tersebut berada di lantai satu tingkat di atas ballroom.


Dia harus melewati kerumunan orang yang masih ramai di ruangan berukuran besar itu. Tanpa ia sadari, sepasang mata sedang memperhatikannya.


"Fanya-" Batin Delvin yang tanpa sengaja melihat perempuan itu berjalan sambil mendorong troli makanan ke arah lift.


Pandangan Delvin yang terlihat fokus menatap lift menarik perhatian Rose, dia pun turut menatap alat pengganti tangga itu.


Manik Rose membulat sempurna melihat Fanya berpakaian waitress sedang mendorong troli makanan.


"Ternyata kau tidak berbohong, istrimu memang benar-benar sedang sibuk," Rose menggantung kalimatnya untuk menarik perhatian Delvin yang masih fokus menatap Fanya.


Kini hanya tinggal mereka berdua menempati meja yang tadi diisi Richard dan Michael. Sebab kedua pria itu sedang asyik menikmati alunan musik jazz yang dibawakan Sophie Alour penyanyi favorit mereka.


Delvin langsung menatap heran Rose.


"Dia sibuk jadi pelayan di pesta ini bukan?" Ujar Rose, sudut bibir perempuan itu tertarik ke atas.


"Aku tahu, tidak sedikitpun kau menginginkan pernikahan kalian, pasti hubungan sialan ini sangat menyiksamu. Beritahu aku, apa yang perempuan itu lakukan sampai kau harus menikahinya? Hah, tapi melihat dirinya yang mabuk di pertunangan kak David dan cara dia menciummu, sangat menunjukkan kalau dia perempuan murahan. Sudah jelas, begitulah caranya menggodamu sehingga kau terpaksa menikahinya bukan? Sekarang dia kembali menjadi pelayan karena kau menceraikannya." Kali ini Rose tersenyum lebar, dia merasa puas merendahkan Fanya di hadapan Delvin.


Tangan Delvin yang sedari tadi terkepal menggebrak kuat meja, dia bangkit berdiri sambil jari telunjuknya ia arahkan ke wajah Rose.


"Sekali lagi saja kau menyebut dia perempuan murahan, aku tidak akan segan merobek mulutmu." Tegas Delvin. Wajah pria itu kini merah padam, sebab amarahnya sudah sangat membuncah hingga ke ubun-ubun mendengar kalimat Rose tadi.


Delvin melangkahkan kaki meninggalkan Rose yang diam terpaku, namun pria itu kembali berbalik.


"Aku pernah mengatakan kalau kau sudah kuanggap seperti keluarga dan itu adalah perkataan yang sangat kusesali seumur hidupku." Seru Delvin dan langsung segera berlalu meninggalkan Rose yang berurai air mata.


***


Besok Author update dua bab manteman, beri like, komen dan vote biar author semangat menulis ya 😊


Terimakasih luvv 💛💛