My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Ke Rumah Papa



Jika keberadaanmu tidak menjadi keberartian untuk seseorang, harusnya dia tidak menduga-duga alasan kepergianmu.


\~\~\~


“Kau darimana saja?! Semalaman bahkan hingga sore ini nomormu tidak bisa dihubungi.” Kalimat Delvin yang terdengar membentak menyambut kepulangan Fanya.


“Aku menginap di tempat sahabatku Kiara, tadi pagi aku langsung berangkat ke Monmartre.” Ujar Fanya sedikit terkejut, ia tak menjelaskan alasan nomornya tidak bisa dihubungi, karena ia memang sengaja menonaktifkan ponselnya agar tidak seorangpun mengganggu kebersamaannya bersama Kiara dan juga Jack.


“Semalam Daddy menghubungiku untuk mengajakmu mengunjungi Panti Asuhan, harusnya tadi pagi kita ikut menemani Daddy. Tapi karena keberadaanmu yang entah dimana, Daddy jadi pergi sendiri.” Tampak kekesalan dari raut Delvin, sebab tadi pagi acara amal sedang berlangsung di Panti Asuhan yang keluarga mereka dirikan. Namun ia tak turut hadir karena Fanya sedang tidak bersamanya.


“Panti Asuhan?” Fanya mengernyitkan kening, ia tidak mengerti apa yang dimaksud Delvin.


“Panti Asuhan milik keluarga kami tadi pagi sedang mengadakan acara amal,” jelas Delvin. “Bersiaplah, kita ke rumah Daddy sekarang.” Delvin hendak berlalu, namun terurung oleh pertanyaan Fanya.


“Bukankah acara amalnya sudah selesai, mengapa kita harus ke rumah Daddy?” Tanya Fanya. Tadinya ia berpikir akan dapat beristirahat setelah pulang, sebab hari ini ia sangat lelah. Setelah pulang dari Monmartre ia menyempatkan diri untuk mencari pekerjaan di beberapa toko makanan dan juga Coffee Shop.


“Nomormu yang tidak bisa dihubungi membuatku harus membohongi Daddy, aku mengatakan kalau kita sedang di luar kota dan akan sampai di Paris sore ini. Daddy meminta kita untuk datang ke rumahnya setelah kembali. Cepatlah bersiap, bawa beberapa pakaianmu, kita akan menginap disana.” Ujar Delvin sambil berlalu.


Fanya segera bersiap, ia tidak ingin Delvin menunggu terlalu lama karena pasti akan mengundang keributan di antara mereka. Tidak sampai setengah jam, Fanya sudah selesai mandi dan juga menyiapkan beberapa pakaian gantinya. Ia menemui Delvin yang sedang duduk di ruang tamu bersama sebatang rokok yang bertaut di jemari pria itu.


Delvin yang melihat kehadiran Fanya menekan benda bernikotin tersebut ke atas asbak.


“Kita berangkat.” Ujar Delvin.


***


“Mengapa kau menginap di rumah temanmu?” Tanya Delvin disela perjalanan mereka menuju kediaman Ayahnya.


“Sekali lagi, kalau kau ingin menginap diluar biasakan mengabariku. Walaupun sebenarnya aku tidak peduli kau mau tidur dimana, tapi Daddy pasti akan menyalahkanku jika  aku tidak tahu keberadaanmu saat kau tidak tidur di apartemen” Ujar Delvin masih dengan raut kesal di wajahnya.


“Maaf.” Ucap Fanya tulus, ia menyadari perdebatan kali ini menjadi kesalahannya dan karena kesalahannya itu membuat Delvin tidak ikut menghadiri acara amal di Panti Asuhan tersebut.


“Hmm.” Jawab Delvin singkat. Awalnya ia mengira jika pertemuan mereka bersama Rose di Monmartre membuat Fanya menghindarinya, sebab setelah pertemuan itu Fanya tidak kembali ke apartemen.


Mobil yang dikemudikan Delvin memasuki sebuah rumah mewah, ia memarkir kendaraan roda empat tersebut tepat di halaman.


Sang tuan rumah yang tak lain adalah Diego sudah berdiri menyambut kedatangan putra dan juga menantunya.


“Sedikit bersikap romantislah pada istrimu Delvin.” Sarkas Diego pada Delvin yang tidak membukakan pintu mobil untuk Fanya.


Delvin tak menyahuti kalimat menyindir Ayahnya, ia sedikit menarik sudut bibirnya kemudian memeluk lelaki yang membesarkannya itu. Setelah pria dewasa tersebut mengurai tautan tubuh mereka, barulah Fanya menjabat tangan sang Ayah mertua.


“Daddy apa kabar?” Tanya Fanya sambil matanya menatap takjub pada bangunan milik keluarga Albercio itu. Sedari tadi ia tak hentinya memuji dan juga mengagumi rumah bergaya Eropa Modren tersebut.


“Sangat-sangat baik nak,” jawab Diego dengan senyum sumringah di wajahnya. “Malam ini kita ada acara penting dan juga menjadi kejutan untuk kalian.” Ujar Diego sembari melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang berada di lantai dasar bangunan tersebut.


“Kejutan untuk kami.” Ucap Delvin dan Fanya hampir bersamaan. Mereka berjalan bersisian mengikuti langkah Diego.


“Ya, kejutan untuk kalian karena kalian adalah orang terakhir yang mengetahui kabar bahagia ini.” Kalimat Diego barusan semakin membuat sepasang suami istri yang tidak saling mencintai itu semakin penasaran.


***