My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Jangan Pergi



Kesedihan kemarin tidak menjamin akan membuatmu menjadi lebih kuat menghadapi kesedihan di hari depan


\~\~\~


Fanya terduduk lemas memandangi Delvin yang mengalami koma akibat kecelakaan yang pria itu alami. Richard yang turut bersama Delvin sedang dirawat di ruang yang berbeda dengan sahabatnya itu.


"Makanlah sedikit, kau akan sakit jika tidak ada asupan yang masuk ke dalam tubuhmu." Bujuk Kiara khawatir, sedari siang hingga menjelang malam tak ada sesendok makanan mengisi lambung Fanya.


Tak ada jawaban dari Fanya selain isak tangis yang tidak kunjung berhenti sejak mendengar kabar kecelakaan Delvin dan Richard.


Kondisi Delvin yang belum sadarkan diri sungguh membuat Fanya dipenuhi rasa takut yang teramat sangat. Ia takut pria itu pergi meninggalkan dia selamanya seperti Ayah dah Ibu kandungnya dulu.


"Bisakah kau mendengar suaraku?" Fanya mendekatkan wajahnya ke telinga Delvin dan sebelah tangan perempuan itu menangkup lembut wajah lelap sang suami. "Kemarin kau berkata tidak akan pernah menceraikanku. Kali ini, bisakah aku memintamu berjanji untuk tidak meninggalkanku? Bisakah kau berjanji akan membuka matamu? Bisakah kau-" Kiara yang sudah tidak sanggup mendengar suara pilu Fanya menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.


"Dia akan bangun, dia akan bangun Fanya." Ujar Kiara lirih, tangis frustasi Fanya pertama kali perempuan itu saksikan saat sang sahabat kehilangan kedua orangtuanya, waktu itu hati Kiara sangat tersayat-sayat melihat keterpurukan Fanya.


Tangis frustasi itu kembali terulang malam ini yang lagi membuat hati Kiara merasakan perih yang sama seperti dulu.


Suara derit pintu mengambil alih perhatian Kiara, perempuan itu mengurai pelukannya.


Tampak Diego berjalan dengan langkah panjang mendekati mereka. Pagi tadi lelaki itu pergi keluar kota dan langsung kembali ke Paris kala mendengar kabar kecelakaan Delvin dan Richard. Dia baru saja tiba dan langsung menuju Rumah Sakit.


"Dad!!" Seru Fanya dan langsung berhambur kepelukan sang ayah mertua.


Manik Diego menahan cairan bening yang mulai menumpuk di pelupuk lelaki itu, dia juga sangat rapuh menghadapi masalah pelik seperti ini.


"Delvin anak yang kuat, Daddy yakin dia bisa melewatinya nak." Tutur Diego mengusap surai sang menantu, meski ia butuh dikuatkan namun lelaki yang sudah mulai renta itu berusaha menutupi kesedihannya.


Diego menuntun tubuh lemah sang menantu untuk duduk di atas sofa, diikuti Kiara yang sedari tadi sudah terisak.


"Dimana David?" Tanya Diego saat tidak melihat keberadaan putra pertamanya itu.


"Kak David baru saja pergi mengantar Kak Valerie pulang, besok pagi Kak Valerie akan berangkat ke Kanada, paman." Jelas Kiara pada Diego, sebab Fanya masih sesenggukan membuat perempuan itu kesulitan berbicara.


Makanan dengan tampilan utuh, belum tersentuh sedikitpun yang terletak di atas meja berhasil mengusik pikiran Diego.


"Kamu belum makan nak?" Tanya Diego pada Fanya, dia sangat yakin makanan itu adalah milik menantunya, sebab perempuan itu pasti enggan makan karena keadaan Delvin sekarang.


"Aku tidak lapar." Jawab Fanya pelan.


"Lapar atau tidak lapar, jika sudah waktunya makan, kamu harus makan. Apa kamu mau? Jika Delvin sadar malah dirimu yang terbaring sakit." Ujar Diego lembut namun terdengar tegas.


Fanya segera mengambil makanan tersebut sambil menggeleng samar sebagai jawaban atas pertanyaan Diego. Sungguh Kiara dibuat lega dengan perkataan Diego, karena perempuan yang sudah setengah mati ia bujuk untuk makan akhirnya mau menyantap hidangan itu.


Setelah beberapa jam di kamar sang putra, Diego pergi menjenguk Richard yang ruangannya tepat berada di sebelah kamar Delvin dirawat.


David yang baru saja datang ikut menemani sang Ayah, sebelum akhirnya akan mengantarkan lelaki itu ke garasi rumah sakit. Sebab ia akan tinggal menjaga Richard, orang tua pria itu berada di Atlanta dan akan tiba besok.


Sedangkan di kamar Delvin, ada Fanya dan juga Kiara yang tidak tega meninggalkan sahabatnya seorang diri.


"Tidurlah di ranjang." Pinta Kiara pada Fanya yang sudah mulai tampak mengantuk.


Ruangan VVIP yang sengaja dipesan untuk Delvin dan Richard menyediakan tempat tidur bagi keluarga yang tinggal menjaga pasien.


"Aku tidur disini saja." Tolak Fanya, memilih tidur di atas kursi yang berada di samping Delvin.


"Fanya ka-"


"Aku tidak akan bisa tidur Ra, aku tidak akan bisa tidur kalau berjauhan dengannya." Ujar Fanya memotong kalimat Kiara. Tangan perempuan itu sedari tadi bertaut dengan jemari Delvin, tidak sedikitpun ia melepas genggamannya.


Kali ini Kiara menerima permintaan Fanya, ia tidak lagi mendebat atau memaksa sahabatnya itu. Dia dapat memahami apa yang Fanya rasakan.


"Baiklah, jangan tidur terlalu larut. Ingat apa yang Paman Diego katakan, kau harus menjaga kesehatanmu untuk suamimu. Delvin adalah orang yang merasa paling bersalah kalau kau sampai jatuh sakit." Ujar Kiara memberi nasihat kepada Fanya.


"Aku mengerti, terimakasih banyak sudah mengingatkankup dan juga mengkhawatirkanku." Ucap Fanya tulus, sudut bibir perempuan itu sedikit tertarik, sebagai isyarat pada sang sahabat jika ia baik-baik saja sekarang.


Kiara hanya membalas dengan tatapan sendu, sebab ia tahu, senyum kecil itu adalah tanda jika Fanya sedang berusaha menguatkan dirinya.


"Tuhan, bisakah besok aku melihat air mata bahagia di wajah perempuan yang sudah lama menderita ini?" Batin Kiara sedang bertanya melalui doa pada Sang Kuasa.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya teman-teman. Jika berkenan juga bisa memberi hadiah 😊