
Resiko dari mengungkapkan perasaan adalah siap menerima dengan lapang dada jika cinta kita pada seseorang tidak berbalas.
\~\~\~
"Kenapa aku harus menjelaskan padanya?" Delvin malah bertanya balik pada Fanya.
"Dia kekasihmu, tentu kau harus menjelaskan padanya, agar dia tahu kalau hubungan kita tidak lama lagi akan berakhir dikarenakan pernikahan kita tidak berlandaskan cinta. Aku juga tidak masalah jika kau menyalahkanku dalam hal ini, asalkan hubungan kalian membaik aku turut senang." Fanya masih mengira, perkataan Delvin di bandara yang mengatakan bahwa Rose tidak pernah menjadi kekasih pria itu disebabkan oleh pertengkaran Delvin pada sang kekasih.
"Uhhm.. Aku juga meminta maaf karena terlalu gegabah membuka pintu tanpa melihat layar intercom terlebih dahulu, karena kupikir yang datang adalah Richard atau Dad Diego dan Kak David. Kalian pasti bertengkar hebat gara-gara aku." Ujar Fanya pelan sebab dia masih dipenuhi oleh rasa bersalah karena kejadian tadi.
Fanya yang berkali- kali membahas perceraian dan juga alasan terjadinya pernikahan mereka sedikit membuat dada Delvin sesak mendengarnya. Pria itu semakin tidak mengerti dengan perasaannya.
"Sudah kubilang dia bukan kekasihku, itu hanya asumsimu saja, tidak sekalipun aku pernah mengatakan padamu bahwa Rose kekasihku. Soal kejadian tadi, kau tidak perlu meminta maaf. Malah seharusnya dia yang meminta maaf padamu karena sudah menganggapmu pelayan di Apartemenku." Tegas Delvin. Jika dulu pria itu membiarkan Fanya menganggap Rose kekasihnya, sekarang dia ingin mempertegas setegas-tegasnya pada sang istri kalau dia tidak memiliki hubungan yang spesial pada teman kecilnya itu.
"Lalu, kenapa dia menangis?" Fanya semakin dibuat bingung, jika Rose bukan kekasih Delvin, lalu apa alasan perempuan itu menangis?
"Kau melihat aku memeluknya?" Delvin tidak menjawab mengapa Rose menangis, dia malah bertanya hal lain pada sang istri. Sebab dia teringat, tubuhnya bertaut dengan Rose saat perempuan itu menangis sambil merengek meminta pelukan darinya.
Fanya mengangguk, "melihat Rose menangis membuatku ingin menghampiri kalian untuk membantumu menjelaskan padanya tentang hubungan kita, tapi Rose yang sudah tenang setelah kau memeluknya membuatku urung melakukannya. Kupikir kau sudah menjelaskan semuanya dengan baik."
"Lalu, bagaimana perasaanmu saat melihat aku memeluk Rose?" Dari sekian panjang kalimat Fanya, Delvin hanya fokus dengan anggukan kepala perempuan itu yang menjadi jawaban bahwa sang istri melihatnya berpelukan dengan Rose.
"Perasaanku tentu merasa lega karena akhirnya kau bisa menenangkan dia Delvin." Ujar Fanya dengan dahi yang sedikit berkerut, dia tidak mengerti mengapa Delvin malah mempertanyakan perasaannya?
Pria itu sedikit kecewa mendengar jawaban Fanya, ada hal lain yang (mungkin) Delvin harapkan dari jawaban sang istri, yang jelas bukan perasaan lega seperti yang barusan perempuan itu katakan. (Perasaan apa babang Delvin? Haruskah Fanya cemburu atau marah karena melihat dirimu berpelukan dengan perempuan lain? hihihihi.)
"Aku baru menyadari dua hal setelah menikahimu." Ujar Delvin sambil tangannya bersedekap.
"Menyadari apa?" Lagi-lagi kalimat Delvin membuat Fanya bingung.
"Pertama, kau terlalu buruk rupa untuk menjadi istriku. Kedua, otakmu terlalu sulit mengerti apa yang kukatakan, artinya aku memiliki istri yang sedikit bodoh." Jawab Delvin sambil tersenyum meledek.
"Kauu!!! Selama dua puluh empat tahun aku hidup di dunia, kau adalah orang pertama yang mengataiku buruk rupa. Matamu perlu diperiksa Tuan Delvin Albercio!! Dan lagi, dimana perkataanmu yang tidak kumengerti sampai kau mengataiku bodoh? Asal kau tahu saja, selama aku sekolah, aku selalu menduduki peringkat pertama." Seru Fanya, ingin sekali dia menyumpal mulut Delvin dengan kaos kaki kotor yang berbau amis.
Pffttt...
Delvin menahan tawa melihat amarah Fanya dan entah mengapa dia mulai suka menggoda perempuan itu. Rasanya sangat menyenangkan.
"Pakaianmu tidak modis dan ketinggalan zaman, kau sangat kuno. Aku juga sudah berkali-kali mengatakan kalau Rose bukan kekasihku, tapi kau selalu tidak mengerti." Senyum meledek Delvin masih terus bertengger di bibir pria itu.
Fanya seolah tidak terima dikatai kuno oleh Delvin, dia merasa penampilannya tidaklah ketinggalan zaman. Hanya pakaiannya saja bukan barang branded.
"Saat dimana kau jatuh cinta padaku, aku akan menolakmu karena sudah mengataiku buruk rupa dan bodoh." Fanya semakin kesal mendengar jawaban Delvin, ditambah senyum pria itu yang seakan mengejeknya.
Menolakmu? Kata itu yang paling jelas di tangkap indra pendengaran Delvin, membuatnya beberapa saat terdiam.
"Jika aku jatuh cinta padamu, aku tidak akan mengizinkanmu menolakku." Ujar Delvin sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Genitt!! Mesum!!" Teriak Fanya geli melihat kerlingan mata Delvin.
"Kenapa aku harus mendapat izinmu?! Itu sudah menjadi hakku untuk menolakmu." Lanjut Fanya.
"Aku juga berhak untuk tidak mengizikanmu menolakku." Jawab Delvin tak mau kalah.
"Kau benar-benar menyebalkan. Lihat saja, setiap malam aku akan terus berdoa supaya kau mencintaiku dan rasakan bagaimana aku menolakmu nanti." Tegas Fanya, matanya tampak membola untuk meyakinkan Delvin jika dia serius dengan ucapannya.
Ting...
***
Setelah sampai di dalam Apartemen, Delvin dan Fanya bergabung ke meja makan, disana sudah ada Diego dan David yang menunggu kedatangan mereka.
Sebelum menyantap makanan yang terhidang di meja, mereka lebih dulu berdoa yang di pimpin oleh Diego untuk mengucap syukur pada berkat jasmani dan juga keselamatan Delvin dari kecelakaan Pesawat yang terjadi tadi pagi, tak lupa doa untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan mereka haturkan ke hadapan Sang Kuasa.
"Amin." Ujar Diego mengakhiri doanya. Setelah itu, barulah mereka mulai menyantap steak medium rare yang dimasak Fanya.
"Apa semalam kalian bertengkar?" Tanya Diego tiba-tiba, pandangannya yang sejak tadi fokus pada steak yang ia potong beralih menatap sang menantu.
"Kami tidak bertengkar." Jawab Fanya cepat, sebab dia takut Ayah mertuanya salah paham dan kembali memukul Delvin.
"Dad pikir kau ke Monmartre juga sekalian menghindari Delvin, siapa tahu kalian bertengkar." Ujar Diego, sebab sedari pagi Diego menghubungi nomor menantunya untuk mengajak perempuan itu ke bandara menemui Delvin, namun tidak ada jawaban dan ketika dia dan David mendatangi Apartemen putra keduanya itu, bangunan yang menjadi tempat tinggal Delvin dan Fanya terkunci menandakan tidak ada orang di dalam.
Diego sempat khawatir Fanya kabur dari Apartemen karena bertengkar dangan Delvin. Mengingat baru beberapa hari yang lalu dia dan putra keduanya itu juga bertengkar karena dirinya membela sang menantu.
Sepulang dari bandara, Diego kembali menghubungi Fanya yang segera diangkat perempuan itu. Namun Fanya berkilah, dia berkata sedang berkunjung ke Monmartre bersama Kiara dan beralasan ponselnya tertinggal di rumah sahabatnya itu.
Padahal kejadian yang sebenarnya, dia tidak membawa ponselnya ke bandara sebab setelah mendengar kabar buruk dari Richard, Fanya meletakkan asal ponselnya di lantai ruang tamu.
Richard yang sudah terlanjur membohongi Diego dan David saat di bandara, juga membuat Fanya terpaksa harus membohongi Ayah mertua dan kakak iparnya tentang keberadaannya.
"Tidak Dad, kami tidak ada bertengkar." Ulang Fanya untuk lebih meyakinkan sang Ayah mertua.
"Baguslah." Ujar Diego sambil menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.
Setelah itu suasana kembali hening, Delvinpun tak banyak bicara. Dia hanya mengucapkan terimakasih pada keluarganya karena sudah mendoakan keselamatannya.
***
Diego dan David langsung berpamitan, setelah mereka berbincang sebentar.
Setelah kepergian Ayah dan Kakaknya, Delvin menselonjorkan tubuhnya di sofa ruang tamu sedangkan Fanya sibuk membersihkan meja makan.
Samar-samar, indra pendengaran Delvin menangkap suara kran dari dapur. Pria itu segera beranjak menuju sumber suara.
"Ini sudah malam, kau akan masuk angin jika memegang air." Ujar Delvin, dia melihat piring kotor dari sisa makan malam mereka tadi sudah tertumpuk di wastafel dan hendak dibersihkan Fanya.
"Aku tidak akan masuk angin, piring yang kucuci hanya sedikit. Tidak perlu waktu lama untuk membersihkan semua ini Delvin." Ujar Fanya sambil tangannya mengusap piring dengan spons yang berbuih.
"Sebelum kau benar-benar jatuh sakit, kau tidak pernah mengindahkan apa yang kukatakan," Delvin merampas spons dari tangan Fanya. "Biar aku yang melakukannya." Ujar pria itu.
Sikap Delvin membuat Fanya terpaku, namun maniknya fokus menatap tangan kekar sang suami yang kini sibuk menggantikan dirinya membersihkan piring kotor mereka.
"Kenapa malah melihatiku? Busa di tanganmu akan mengering kalau kau tidak segera membilasnya." Seru Delvin membuyarkan lamunan Fanya.
Perempuan itu langsung membilas kedua tangannya.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan kesehatanku dan membersihkan piring kotor kita." Ujar Fanya sambil tersenyum senang. Dia tidak menolak bantuan sang suami yang mengambil alih tugasnya.
***
Selamat berbuka teman-teman 😊 Semoga puasanya selalu lancar ya...
Jangan lupa untuk memberi like, komen dan vote pada novel ini ya readers, tengkiuu luvv 💛💛