
Maaf yang paling sulit diberikan adalah pada seorang pengkhianat
\~\~\~
Delvin yang menggebrak meja dan meninggikan nada bicaranya membuat banyak pasang mata melihat ke arah Rose, termasuk Richard dan Michael. Kedua pria itu berlari menghampiri Rose yang masih menangis.
"Apa yang terjadi? Dimana Delvin?" Tanya Michael heran.
Tak ada jawaban dari Rose, perempuan itu memilih bungkam.
"Aku akan mencarinya." Ujar Richard saat tak mendapat jawaban dari Rose.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Tadi aku sedikit membuat Delvin kesal, mungkin hari ini moodnya sedang tidak baik makanya dia meneriaki aku." Jawab Rose tidak mau jujur. Kedua tangan perempuan itu sibuk menyeka air matanya.
"Lalu dia pergi kemana?" Tanya Michael lagi.
"Aku tidak tahu." Jawab Rose meski ia yakin Delvin pergi menemui Fanya.
"Kalau begitu kau ikut dengan kami saja. Nanti kalau Delvin kembali aku akan menegur dia." Ajak Michael, sebab Rose sudah tidak memiliki teman untuk berbincang.
Rose mengangguk, dia mengikuti kedua pria itu untuk menonton mini konser yang juga berada dalam ruangan itu.
Alunan musik jazz masih terus terdengar di panggung berukuran cukup besar itu. Sambil berdiri, Richard, Rose dan Michael menikmati suara indah Sophie Alour dengan segelas anggur di tangan mereka masing-masing.
***
Manik Fanya sibuk mencari kamar nomor 16 yang ingin ia tuju. Sampai pandangannya melihat angka itu, dia sedikit mempercepat langkahnya.
Setelah berdiri di hadapan pintu kamar itu, Fanya menekan bel yang menempel di dinding sebelah kanan. Berkali-kali ia menekan tombol berwarna putih itu namun tidak ada sahutan dari dalam.
Meski begitu, Fanya tetap sabar menunggu pintu itu terbuka, sampai seorang office boy menemuinya.
"Maaf Nona, tadi tamu yang menempati kamar ini berpesan kepada saya untuk menyampaikan agar makanan dimasukkan ke dalam kamar sebab beliau sedang keluar." Jelas petugas kebersihan itu.
"Baiklah, terimakasih sudah memberi tahu saya." Ujar Fanya sambil tersenyum ramah.
Office boy itu mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan perempuan itu.
Setelah office boy itu pergi, Fanya memutar handle pintu yang sengaja tidak dikunci.
Perempuan itu meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja dekat sofa single bad yang ada di kamar itu. Saat Fanya hendak pergi, samar-samar ia mendengar suara perempuan memanggil nama kekasihnya.
"Jack..." Suara yang lebih tepat disebut ******* itu berkali-kali menyerukan nama 'Jack'
Sungguh dada Fanya berdegup kencang mendengar suara yang ia dengar. Dia menduga bahwa 'Jack' yang disebut perempuan itu adalah kekasihnya namun Fanya berusaha keras menepis pikirannya dan berniat meninggalkan kamar itu,
"Jack, a-aku mencintaimu." Ucap perempuan itu lagi dengan sedikit terbata.
Tangan Fanya tampak bergetar hebat saat mendorong daun pintu kamar mandi, sampai pintu itu terbuka lebar membuat seluruh tubuh perempuan itu turut bergetar.
Apa yang dilihat Fanya sungguh meluluh lantakkan hati perempuan itu sebab panggilan 'Jack' tadi memang diperuntukkan pada kekasihnya dan suara yang tadi mendesahkan nama pria itu adalah Tasha-perempuan yang pernah ia temui di minibar saat ulang tahun Delvin dan di Coffe Shop milik sang suami.
"Jack, Ta-Tasha." Suara Fanya terdengar parau menyebut kedua nama itu yang sedang bercumbu liar di depan westafel tanpa mengenakan pakaian. Tubuh Tasha tampak menegang atas perlakuan Jack pada inti perempuan itu sampai suara Fanya menghentikan kegiatan mereka.
"Fanya!!" Seru Jack terkejut melihat kehadiran perempuan itu, ia melepas tautan tubuhnya dari Tasha. Pria itu membelakangi sang kekasih kemudian memungut pakaiannya yang berserak di lantai dan segera memakai asal.
Sedangkan Tasha menatap heran Fanya, sebab perempuan yang ia tahu hanya seorang pelayan di Coffee Shop milik Delvin bisa membuat Jack sangat panik.
Tidak seperti Jack, Tasha memakai pakaiannya dengan santai. Ia tidak peduli dengan keberadaan Fanya yang memergoki kegiatan mereka.
Air mata Fanya merembes membanjiri pipi perempuan itu, ia ingin pergi namun tenaganya serasa hilang bahkan untuk menggerakkan kaki saja dia tidak mampu.
"Aku bisa menjelaskan semuanya." Ujar Jack setelah menutup tubuhnya dengan pakaian yang sempat ia lepas.
Selain kehilangan tenaga, Fanya juga seperti kehabisan kata. Ingin sekali ia meneriaki Jack, memaki pria itu sekencang-kencangnya bahkan ingin menampar keras pipi si penghianat itu namun apa yang ia lihat sungguh sulit ia percayai membuat perempuan itu terdiam kaku.
Tangan Jack hendak merengkuh bahu Fanya sebab perempuan itu tidak merespon perkataannya. Melihat pergerakan Jack spontan membuat Fanya mundur beberapa langkah untuk menghindari pria itu, sungguh dia tidak ingin lagi bersentuhan dengan Jack yang tadi bergumul dengan Tasha.
"Ja-jangan mendekatiku." Ujar perempuan itu pelan, bahkan hampir tidak terdengar.
"Sayang, aku akan menjelaskan padamu." Jack tidak mengindahkan ucapan Fanya, pria itu malah semakin maju setiap kali Fanya melangkah mundur.
"Jangan mendekat!! Ka-kau tidak perlu menjelaskan apapun, kau bukan kekasihku lagi. Kita putus!!" Fanya berusaha keras meninggikan nada bicaranya dan berbicara tegas pada pria itu namun Jack tampak tidak terima dengan keputusan sepihak Fanya.
"Kita akan menikah, aku tidak akan melepaskanmu!!" Seru Jack menarik kencang pergelangan tangan Fanya. Perempuan itu mencoba melepas cengkraman Jack dengan menggigit kulit tangan pria itu sekuat tenaga.
Gigitan Fanya berhasil melukai kulit Jack, membuat genggaman pria itu terlepas dari tangan Fanya. Tidak ingin membuang kesempatan, Fanya langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Rasa takut Fanya pada perubahan sikap Jack mengembalikan tenaganya yang sempat hilang.
Jack yang menyadari kepergian Fanya segera menyusul perempuan itu, dia ikut berlari mengejar sang kekasih.
Manik sendu Tasha menatap pias kepergian Jack dan Fanya.
"Selama ini dia menolakku karena sudah memiliki kekasih." Gumam perempuan itu lirih.
.
.
.
.