
Bahkan ketika cintamu mulai menipis untuk seseorang, tidak menjadi pembenaran dirimu menganggapnya rendah
\~\~\~
"Kenapa Fanya tidak memberi tahuku kalau dia menjadi waitress di acara ini?" Geram Jack sambil terus berlari mengikuti langkah Fanya yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
Sungguh Jack sangat menyesal menyuruh office boy untuk menyampaikan pada waitress yang ternyata Fanya mengantarkan makanan ke dalam kamar yang ia tempati.
Saat setelah menghubungi kepala pelayan agar mengantarkan makanan ke kamarnya, teman lama Jack mengiriminya pesan untuk mengajaknya bertemu di gazebo yang terletak di samping hotel. Itulah alasan mengapa ia memberi pesan pada office boy tadi, dia khawatir sang waitress menunggu lama di luar pintu jika ia belum kembali.
Namun semua diluar dugaan Jack, sebab saat ia kembali dari gazebo, pria itu malah mendapati Tasha berada di dalam kamarnya. Sebelumnya perempuan itu memang sudah menanyakan nomor kamar yang di tempati Jack.
Tasha yang tiba-tiba memagut bibirnya membuat pria itu lupa mengunci pintu dan tidak menyadari bahwa makanan yang ia pesan belum diantar. Pagutan yang berujung pergulatan itu awalnya mereka lakukan di ranjang dan berlanjut di kamar mandi saat mereka hendak membersihkan diri.
Sialnya office boy itupun tidak melihat kepulangan Jack dan malah bertemu dengan Fanya, tentu ia menyampaikan pesan yang Jack titipkan padanya.
***
Air mata Fanya tak kunjung surut dari pelupuk perempuan itu, kakinya terus berlari kencang menghindari kejaran Jack. Dia menuruni tangga darurat yang membawanya ke ballroom hotel. Fanya sengaja tidak menggunakan lift, sebab ia khawatir saat menunggu benda itu terbuka, Jack malah berhasil mencapainya.
"Fanya!!" Seru Jack, panggilan pria itu yang terasa dekat di telinga Fanya membuat ia semakin mempercepat larinya, dia tidak mempedulikan kerumunan orang yang menatap aneh pada mereka.
Sampai sesuatu menyikut kaki perempuan itu hingga membuatnya tersungkur ke lantai berhasil menghentikan langkah Fanya dan juga Jack. Dia terjatuh di antara kerumunan orang yang sedang menikmati pesta.
Dibalik kemalangan yang menimpa Fanya, seulas senyum tampak bertengger manis di bibir Rose. Dari kejauhan, dia sudah melihat Fanya berlari, dia sengaja menyikut kaki Fanya untuk mempermalukan perempuan itu.
"Ke-kepalaku sangat sakit." Kilah Rose, ekspresi perempuan itu dibuat-buat sakit untuk mengalihkan perhatian Richard dan Michael. Benar saja, pria yang ada di sisi kanan dan kirinya menatap khawatir pada Rose, sebab yang mereka tahu Rose memiliki imun yang lemah.
Fanya yang masih tersungkur di lantai dengan pakaian waitress membuat Jack merasa malu dan terhina, dia tersenyum miring sambil berjalan mendekati perempuan itu.
"Seorang perempuan yang hanyalah pelayan bagaimana bisa dengan angkuhnya memutuskan pria yang sudah mau menerima segala keterbatasannya? Entah dia memang perempuan mahal atau ingin aku membayarnya mahal untuk menahannya pergi, aku tidak tahu." Semua mata menatap Jack yang berbicara.
"Dia bahkan menikahi pria lain dengan status aku masih menjadi kekasihnya. Bodohnya, aku masih tetap mau menerimanya, sebab dia beralasan mereka akan segera bercerai. Dan Aku baru sadar, kalau perempuan yang selama ini menjadi kekasihku sungguh sangat murahan." Seru Jack tak mengalihkan tatapannya dari Fanya.
Kalimat Fanya yang memutuskan Jack kembali terngiang di telinga pria itu dan bayangan Delvin yang mencium Fanya justru semakin memantik emosi pria itu.
"Apa kau menjual tubuhmu dengan pria yang kau sebut suamimu?! Dan dia sudah bosan memakaimu lalu kau mengatakan kalau kalian akan bercerai?!" Pertanyaan Jack sungguh sangat menusuk ulu hati Fanya, air mata perempuan itu semakin manganak sungai membasahi pipinya.
"Aku menduga, kau adalah anak yang tidak diinginkan di keluargamu sehingga orangtuamu membuang dirimu ke panti asuhan. Atau... wanita yang melahirkanmu seorang yang menjajakan tubuhnya dengan lelaki hidung belang dan kau adalah buah dari pekerjaan ibumu? Sifat murahanmu pasti turunan dari wanita itu." Kali ini Jack benar-benar berhasil mencabik-cabik hati dan harga diri Fanya. Pandangan perempuan itu menatap nanar pada kerumunan orang yang terdengar berbisik-bisik ikut merendahkan dirinya.
Dan tiba-tiba...
Sebuah bogeman keras melayang di wajah Jack tanpa henti, pria itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Pukulan itu tidak berhenti menghujami wajah dan perut Jack meski ia hampir terjatuh.
.
.
.
.