My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Bertemu Richard



Keindahan hati dari seorang wanita adalah paras yang tak perlu dipoles dengan sentuhan lipstick di bibir ataupun make-up yang meronakan pipi. Sebab hati yang dipermak oleh kebaikan, dengan sendirinya akan memancarkan keindahan yang ia miliki.


\~\~\~


Pukul lima pagi Fanya sudah terjaga, kebiasaan yang sudah lama ia lakukan. Bangun kala matahari belum terbit, ia melipat selimut yang semalam dipakainya untuk tidur, kemudian membasuh wajahnya.


Pagi ini ia mempersiapkan sarapan untuk dia dan Delvin, roti hangat ia hidangkan di atas meja makan dengan segelas jeruk lemon yang menjadi minumannya.


Delvin yang baru saja bangun dari tidurnya berjalan ke dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia melihat Fanya sedang menguyah makanannya dengan lahap tanpa mempedulikan kehadirannya.


“Apa kau merasa menjadi pemilik apartemen ini?” Delvin menarik kursi yang berada di hadapan Fanya dan ikut bergabung dengan perempuan itu.


Fanya beralih ke arah Delvin sambil mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti maksud pertanyaan pria itu. Memar di wajah Delvin sedikit membuatnya terkejut dan ingin bertanya mengapa wajah pria itu terluka namun tidak ia lakukan karena ingin mendengar lanjutan dari kalimat Delvin.


“Aku menikahimu hanya karena terpaksa, cukup aku mengizinkanmu tinggal disini tapi bukan berarti menanggung jawabi semua kebutuhanmu. Apa kau tidak tahu malu, memakan makanan yang bukan milikmu." Perkataan Delvin barusan membuat Fanya menghentikan suapan roti ke dalam mulutnya.


“Aku akan mengingatnya dan tidak akan melakukannya lagi.” Fanya tersenyum getir. Jika bisa, ia ingin memuntahkan makanan yang sudah terlanjur ia telan dan mengubahnya menjadi utuh. Delvin sungguh mencabik-cabik harga dirinya.


“Kau memang harus mengingatnya.” Delvin berlalu meninggalkan dapur.


Fanya meremas kuat jemarinnya, entah kesalahan apa yang ia lakukan hingga membuatnya terjebak dengan pria yang dia pikir baik namun menyimpan sisi kejam.


Roti yang masih tersisa di piring Fanya kini urung ia habiskan, dia membuang sisa makanan itu ke dalam tong sampah lalu membersihkan piring kotor yang ia pakai.


Selesai dengan aktivitasnya di dapur, dia bersiap untuk pergi ke Montmartre, tempat ia bekerja sebagai pelukis jalanan. Punggungnya menyandang tas ransel yang penuh dengan alat-alat melukis miliknya.


Saat dirinya hendak keluar membuka pintu Apartemen tampak Delvin juga sedang bersiap akan berangkat ke kantor.


“Delvin, ada yang ingin kukatakan.” Fanya menghentikan langkah Delvin.


“Hmm.” Delvin menurunkan tangannya yang hendak menekan kode pintu.


“Bisakah nanti malam aku keluar bersama kekasihku?” Fanya mengingat isi pesan dari percakapan dirinya dan Jack semalam, untuk itulah ia meminta izin pada Delvin.


“Apa kau sedang meminta izin tidak bekerja di Coffee Shop atau ingin berkencan dengan kekasihmu namun atas persetujuannku?” Delvin balik bertanya kepada Fanya.


“Keduanya.” Jawab Fanya dengan cepat.


“Seharian aku berada di perusahaan dan tidak akan mampir ke Coffee Shop. Jika kau mau, kau bisa langsung menghubungi manager disana. Dan untuk kekasihmu, aku tidak peduli pada kalian, kau bisa melakukan apapun untuk hubungan kalian itu.” Delvin keluar lebih dulu dengan tampang raut datarnya.


Fanya tidak ambil pusing dengan perkataan Delvin, asalakan dia sudah meminta izin kepada pria itu sangat cukup untuknya. Fanya turut melenggangkan kakinya keluar, meninggalkan bangunan mewah milik Delvin—suaminya.


Hampir setengah jam Fanya menunggu bus di salah satu halte dekat Apartemen tempat ia tinggal, ia menyeka keringat yang membasahi dahi putihnya saat mengayunkan langkah memasuki bus yang akhirnya muncul setelah dia hampir bosan menunggu.


Tanpa ia sadari, sepasang mata sedang mengawasi pergerakannya hingga bus itu membawa dirinya pergi.


***


Fanya membuka kursi lipat yang biasa ia pakai untuk melukis, dia mendudukkan tubuhnya pada benda tersebut.


Sepertinya hari ini pengunjung kurang tertarik menggunakan jasa Fanya untuk melukis diri mereka, sebab waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan dia hanya mendapat tiga pelanggan saja. Dia berniat untuk kembali, namun bukan ke apartemen. Ia ingin menjumpai sahabatnya—Kiara, hampir tiga hari mereka tidak bertemu.


“Hai Nona, kau perempuan kemarinkan?” Sebuah suara menghentikan kegiatan Fanya yang sedang menyusun peralatan melukisnya. “Aku Richard, teman sekaligus sekretaris Delvin.” Richard mengulurkan tangannya ke hadapan Fanya.


“Fanya.” Ia menerima uluran tangan dari Richard.


“Sudah berapa lama kau melukis disini?” Richard mendudukkan tubuhnya di kursi pelanggan, sebenarnya ia cukup terkejut mendapati Fanya sebagai pelukis jalanan, sebab perempuan itu sudah menikah dengan Delvin—orang yang terbilang cukup kaya di Kota Paris.


“Kurang lebih enam tahun.” Fanya sedikit menyunggingkan senyum pada Richard.


“Wow, ternyata sudah selama itu. Tapi kita tidak pernah bertemu, padahal aku sangat sering berkunjung kesini,” Richardpun turut mengumbar senyum pada Fanya. “Tadi kau sedang merapikan peralatan melukismu, sepertinya kau akan pulang, bisakah aku menjadi pelanggan terakhirmu?” Tanya Richard yang diangguki Fanya.


Jemari Fanya bergerak dengan lihainya, memberi goresan kuas di atas kanvas putih yang ada di hadapannya.


“Selesai.” Fanya membubuhkan tanda tangan di atas kanvas sebagai sentuhan terakhir dari lukisan tersebut, lalu memberikannya kepada Richard.


“Aku terlihat lebih tampan di lukisan ini.” Richard menerima lukisan dengan gambar dirinya yang disodorkan Fanya ke tangannya, ia memuji lukisan tersebut dengan sangat berlebihan.


“Terimakasih,” Fanya tersenyum lebar. “Tetapi bukankah karena dirimu tampan sehingga wajahmu yang kulukis menjadi tampan?” Pujian Fanya terhadap Richard berhasil membuat pria itu tertawa.


“Aku tersipu dengan pujianmu. Terimakasih—terimakasih Fanya” Richard tak menyangka percakapannya dengan Fanya bisa senyaman ini. Sungguh, pikiran buruk Delvin mengenai Fanya sangat tidak bisa Richard terima sebab ia dapat merasakan kebaikan yang terpancar dari wajah perempuan itu. “Berapa harga untuk lukisan indah ini Fanya?” Tanya Richard.


“Berikan dengan kerelaan hatimu di dalam kotak itu.” Fanya menunjuk kotak yang ia letak di atas meja kecil, dirinya memang tidak mematok harga untuk lukisannya.


“Aku akan pulang dan menyimpan lukisan ini dengan baik, senang bertemu denganmu Fanya.” Richard merogoh beberapa uang kertas dari dalam dompetnya kemudian memasukkannya ke dalam kotak yang dimaksud Fanya.


Richard lebih dulu meninggalkan Monmartre, ia sengaja tidak menawarkan tumpangan pada Fanya karena ia tahu pasti akan ditolak perempuan itu.


Kini hanya tinggal Fanya seorang diri, sepeninggal Richard ia kembali menyusun peralatan melukisnya. Waktu menunjukkan pukul enam sore, hampir tiga jam ia mengobrol dengan Richard, rencana ke rumah sahabatnya—Kiara ia batalkan, sebab pukul delapan nanti ia sudah membuat janji kepada Jack.


Jack dan Fanya akan makan malam di salah satu restoran yang setiap tahun menjadi tempat mereka merayakan hari jadian. Meskipun kali ini tampaknya akan berbeda, sebab perayaan itu sudah lewat beberapa hari ditambah status Fanya yang semalam sudah berubah menjadi istri dari pria lain.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira