
Seperti pelangi yang hadir setelah hujan, seperti itulah air mata berubah menjadi tawa.
\~\~\~
Seumur hidup Delvin, belum pernah sekalipun orang-orang terdekatnya mengatakan secara terus terang mengkhawatirkan pria itu.
"Kau-" Delvin berdiri dari kursinya, menatap tegas manik Fanya. "Kau tak perlu mengkhawa-"kalimat Delvin dihentikan Fanya dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu.
"Sstt..." Fanya menggeleng, "aku tidak tahu seperti apa kehidupanmu di masa lalu, aku tidak tahu kesulitan apa yang pernah kau hadapi, tapi aku yakin semuanya pasti sangat sulit. Ditambah keberadaanku yang seperti kesialan untukmu pasti sungguh membebanimu bukan? Tapi tolong, kebencianmu pada masa lalu dan juga padaku bukan menjadi pembenaran kau menyakiti dirimu Delvin. Aku tidak akan memaafkan diriku jika kau melakukannya lagi."
"Fanya.."
"Aku-aku mengkhawatirkanmu, aku menungguimu pulang, kupikir terjadi sesuatu padamu." Ujar Fanya terisak.
Delvin sempat terpaku mendengar kalimat berulang Fanya yang mengatakan mengkhawatirkan dirinya, sungguh kalimat itu terdengar tulus sehingga berhasil menggetarkan dada pria itu.
Tangan Delvin menarik reflek tubuh Fanya, membawa sang istri ke dalam dekapannya, "maaf." Ujar pria itu lirih.
Fanya menggeleng, "aku yang salah." Sambil terus terisak, bahkan dada Delvin kini basah oleh air mata perempuan itu.
"Mulai detik ini, mari tidak saling menyalahkan diri sendiri." Ujar Delvin yang semakin mengeratkan pelukannya, mata pria itupun kini mulai berair.
Pelukan Delvin yang mendapat balasan dari Fanya sangat memberi kehangatan dan juga ketenangan di hati pria itu, dia merasa seluruh bebannya luruh oleh dekapan yang bertaut cukup lama itu.
Suara derit pintu yang terbuka membuat sepasang suami istri itu tersentak dan buru-buru melepas tautan tubuh mereka.
"Anu, aku-itu, aku keluar dulu, maaf mengganggu." Ujar Richard gelagapan, dia segera menutup pintu.
Tadi dia pikir Fanya belum berhasil menghentikan Delvin merokok, membuat perempuan itu belum kunjung keluar. Niatnya, dia ingin turut membantu Fanya, namun hal diluar dugaannya terjadi, yang ada Richard malah memergoki sahabatnya sedang berpelukan bersama sang istri.
"Harusnya aku tidak masuk, aku jadi mengganggu mereka." Gumam Richard menyesal, sambil menjauh dari kamar tempat Delvin dan Fanya berada.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Fanya pada Delvin yang terlihat canggung menatapnya.
"Uhhmm, yaa.." Ujar Delvin sambil menatap sekilas ke arah Fanya.
"Tunggulah di luar sebentar, biar aku membersihkan puntung-puntung rokok ini." Kamar tamu Richard yang sangat kotor oleh puntung rokok Delvin membuat Fanya enggan meninggalkan ruangan itu sebelum membersihkannya.
"Biar aku yang melakukannya." Tolak Delvin, dia segera berlalu mengambil pembersih lantai.
***
Mobil yang dikendarai Delvin menjauh meninggalkan apartemen Richard menuju sebuah restoran yang berada di tengah Kota Paris. Dia membawa Fanya untuk makan malam di luar, kebetulan mereka sama-sama belum makan.
"Untuk pasangan suami istri seperti Tuan dan Nyonya, kami akan memberikan diskon 50% untuk satu paket makanan yang terdiri dari Beef Burguignon, Foie Gras, Ratatouille, Steak, Bouillabaisse beserta dessert gratis sepuas yang Tuan dan Nyonya mau." Jelas sang pelayan.
Sebelumnya sang pelayan menjelaskan jika restoran mereka sedang mengadakan diskon untuk sepasang kekasih dan juga suami istri. Diskon lebih besar diberikan kepada mereka yang sudah menikah, untuk itulah Fanya langsung memberi tahu pada pelayan jika dia dan Delvin adalah sepasang suami istri dengan menunjukkan foto pernikahan mereka yang kebetulan ada di ponsel perempuan itu.
"Kami akan memesan paket suami istri, beserta dessert yang ini, ini juga, tambah yang ini." Ujar Fanya semangat sambil menunjuk gambar dessert yang ada di buku menu restoran. Total ada sepuluh dessert yang ditunjuk perempuan itu.
Sang pelayan menulis semua menu yang dipesan Fanya kemudian berlalu setelah pesanan perempuan itu selesai ia tulis.
Delvin sedikit tersentak melihat makanan yang dipesan Fanya.
"Apa kau sanggup menghabiskan semua itu?" Tanya Delvin keheranan.
Fanya mengangguk, "kita menghabiskannya bersama." Ujarnya santai.
Delvin hanya tersenyum tak menjawab perkataan Fanya, tadinya dia ingin memesan salad sayur saja, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, namun melihat Fanya yang sangat antusias atas diskon yang disampaikan pelayan membuatnya urung menolak permintaan sang istri.
Pelayan yang tadi menjelaskan perihal diskon kepada Fanya dan Delvin kembali datang membawa troli makanan yang berisi pesanan Fanya.
Meja mereka penuh oleh makanan pembuka yang cukup berat jika disantap di waktu yang hampir tengah malam ini.
"Selamat menikmati Tuan dan Nyonya." Ujar sang pelayan setelah selesai memindahkan makanan yang berada di troli ke atas meja.
"Terimakasih." Ucap Fanya sambil menatap takjub makanan-makanan yang ada di hadapannya.
Tingkah Fanya sedikit menggelitik Delvin, ada perasaan senang kala melihat perempuan itu bahagia hanya karena sebuah makanan.
"Apa kau menyukai semua ini?" Tanya Delvin tersenyum sambil menyantap Foie Gras.
"Aku sangat menyukainya Delvin, kita sangat beruntung berkunjung malam ini kesini," Fanya lebih dulu menyantap Ratatouille.
"Ratatouille selalu mengingatkanku pada Nenekku, dulu setiap kali aku berkunjung ke Nice, Nenek selalu membuatkanku makanan ini. Meskipun rasanya berbeda dengan yang ada di restoran sebab isinya hanya courgette (sejenis mentimun), tomat, bawang putih, cabai merah dan cabai hijau tapi aku sangat menyukainya." Jelas Fanya dengan manik berbinar.
"Baguslah kalau kau menyukainya, kita bisa sering-sering kesini." Delvin tak hentinya tersenyum menatap Fanya yang bercerita.
"Aku menyukai diskonnya Delvin, tepatnya aku menyukai makanan yang ada diskonnya. Kalau besok restoran ini tidak ada diskon, aku tidak lagi menyukai makanan ini." Ujar Fanya sambil terkekeh.
Delvinpun turut tertawa, sungguh keberadaan Fanya yang dulu mengusik kehidupannya sepertinya berlahan memberinya kenyamanan. Terbukti, mereka yang tadi menangis, kini tertawa di hari yang sama mereka berurai air mata.
***
Berikan like, vote dan komen yang membangun untuk novel ini ya teman-teman, terimakasih banyak luvv 💛