
Tuhan punya kehendak penuh untuk membuka yang tersembunyi dan menyembunyikan yang terbuka. Namun percayalah, cara-Nya yang tidak bisa dijangkau akal akan selalu membawa kita pada kebaikan.
\~\~\~
Sesuai perintah Delvin, Richard meminta Rose untuk ikut ke dalam mobilnya. Awalnya perempuan itu menolak, ia ingin berada di mobil yang dibawa David bersama Diego, namun Richard memaksa dengan alasan tempat tinggal mereka searah, tentu akan merepotkan David jika harus mengantar Rose pulang.
Mobil yang dikendarai David dan Richard melaju meninggalkan bandara, tapi dengan arah yang berbeda.
"Richard, bisakah kita singgah sebentar ke Mall B? Aku ingin membeli hadiah untuk Delvin atas keselamatannya." Pinta Rose.
Richard mengangguk tanda ia setuju. Kebetulan Mall yang ingin dituju Rose dekat dengan tempat tinggal perempuan itu.
Selang beberapa menit, mereka sampai di Mall yang di maksud Rose.
Awalnya Rose ingin membeli jam tangan untuk Delvin, namun perhatiannya tersita oleh berbagai macam pakaian edisi terbaru di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Paris itu.
Tak ingin membuang kesempatan, Rose segera mengambil beberapa pakaian kemudian menyerahkannya pada Richard.
"Tolong pegangkan ini, sebentar aku memilih beberapa pakaian lagi. Setelah ini, kita akan langsung ke toko jam." Ujar Rose sambil tangannya terus memilih pakaian yang berjejer di hadapannya.
Richard hanya bisa mendengus kesal menerima pakaian yang diberikan Rose padanya.
Hampir lima jam lebih mereka berkeliling mall dan hanya tiga puluh menit waktu yang dipakai untuk membeli jam tangan Delvin. Selebihnya adalah mencari-cari pakaian Rose dan juga beberapa sepatu yang menarik perhatian perempuan itu.
"Aku sudah lelah berkeliling, tahu begini aku tidak akan mau menemanimu." Seru Richard yang sedari tadi mengekor di belakang Rose. Kedua tangannya sudah penuh dengan goodie bag berisi belanjaan perempuan itu.
"Kau seperti baru mengenalku saja, ini sudah menjadi hobiku Richard." Ujar Rose tanpa rasa bersalah.
Hal yang paling tidak disukai Richard dari Rose adalah sikap perempuan itu yang sedikit angkuh dan paling jarang mengalah jika sedang berdebat, bahkan sangat enggan meminta maaf walaupun sudah jelas-jelas salah.
"Lalu, kau pikir aku asistenmu?! Membawa-bawa belanjaanmu seperti ini bukanlah tugasku." Sembur Richard, dia sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Jelas kau bukan asistenku, kau temanku. Berbuat baiklah sedikit, aku hanya sesekali meminta tolong padamu untuk membawa barang belanjaanku." Ujar Rose membela diri.
"Tapi aku memang sudah lelah mengikutimu, kakiku sangat pegal sekarang. Kalau begitu, aku menunggumu di restoran lantai dasar. Ini juga sudah jam makan siang." Richard tak habis pikir mengapa Rose tidak merasa lelah sedikitpun, padahal perempuan itu berjalan dengan high heels.
Tanpa menunggu persetujuan Rose, dia melenggangkan kaki menjauhi perempuan itu.
"Tunggu aku!!" Seru Rose sedikit berlari kecil mengikuti langkah panjang Richard.
Restoran Seafood yang menjadi langganan mereka kala mengunjungi Mall B bersama Delvin, Tasha dan Michael menjadi pilihan Richard dan Rose kali ini.
Tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka sampai menu yang mereka pesan habis tak tersisa.
Tubuh Richard sedikit mendorong kursi yang ia duduki kebelakang.
"Kau mau kemana?" Tanya Rose yang melihat Richard berdiri dari kursinya.
"Toilet." Ujar pria itu singkat.
Sepeninggal Richard, ponsel pria itu berdering keras. Richard meninggalkan gawainya di atas meja tempat mereka makan.
"Berisik!!" Rose yang merasa terganggu dengan suara dari ponsel Richard berniat menolak panggilan yang menghubungi nomor pria itu. Namun sejenak dia tertegun membaca nama dari si penelepon.
Tiga panggilan tak terjawab dari Fanya sengaja diabaikan Rose. Dia memberi jeda pada tangannya untuk membuka ponsel Richard, barangkali ada panggilan ke empat dari perempuan itu.
Setelah dirasa yakin tidak ada lagi panggilan dari Fanya, barulah Rose mengusap ponsel Richard. Dia menghela nafas lega, sebab ponsel pria itu tidak berkode.
Dengan rasa penasaran yang membuncah, Rose segera membuka kotak masuk yang ada di ponsel Richard namun pria itu menguncinya.
"Sial!!" Umpat Rose. Rasa penasarannya semakin menjadi, mengingat Delvin mengenal Fanya dan Richard yang sepertinya sudah akrab dengan perempuan itu.
"Pasti ada yang mereka sembunyikan. Siapa perempuan itu sebenarnya?" Rose tak menyerah, dia membuka galeri pria itu. Dan lagi, dia menghela nafas lega, karena menu yang ia tekan tidak meminta kode.
Namun apa yang dilihatnya di menu yang menyimpan berbagai macam koleksi foto dan video itu seketika membuat sebelah tangannya terkepal bahkan tubuh perempuan itu sedikit bergetar.
Foto saat Richard memotret sahabatnya-Delvin yang tidur sambil memeluk Fanya masih tersimpan rapi di galeri pria itu dan foto tersebut sungguh membakar api cemburu di hati Rose.
"Del-Delvin membawa perempuan itu ke Mansion, bah-bahkan mereka tidur bersama di kamar. Ini bukan sekedar hubungan pelayan dan tuan." Ucap Rose sedikit terbata.
Dia sudah sangat mengenal bagaimana bentuk Mansion dan juga kamar Delvin, sebab sedari kecil dia sudah sering bermain ke bangunan mewah itu.
Rose yang tidak ingin dipergoki Richard membuka lancang ponsel pria itu segera meletakkan benda pipih tersebut di tempat semula. Namun lebih dulu dia menghapus pemberitahuan dari panggilan tak terjawab Fanya.
Selang beberapa menit kemudian, Richard muncul di hadapan Rose.
"Apa kita sudah bisa pulang?" Tanya Richard.
Rose menganggukkan kepalanya, mereka berjalan keluar meninggalkan pusat perbelanjaan itu setelah sebelumnya membayar tagihan pada makanan yang mereka pesan.
***
Sedari sore Fanya sedikit repot di dapur. Sebab malam ini mereka mengadakan makan malam sekaligus memanjatkan doa syukur atas keselamatan Delvin.
Makan malam sederhana tersebut hanya akan dihadiri Diego, David dan Richard.
Fanya yang tadi siang menghubungi nomor Richard namun tidak ada jawaban mengambil inisiatif mengirimi pesan kepada sang sekretaris suaminya itu agar datang untuk makan malam di Apartemen mereka.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 malam, Fanya yang sudah sedari tadi selesai mandi dan juga merias diri menyalakan lilin di meja makan. Delvin yang sejak pulang dari bandara uring-uringan di depan Televisi masih belum selesai dengan mandinya.
Suara bel Apartemen yang berbunyi menghentikan kegiatan Fanya.
"Ck... keluarga sudah datang tapi Delvin belum juga selesai mandi." Fanya mendecak kesal, dia berjalan terburu-buru menuju pintu, sebab bel terus berbunyi tanpa jeda.
Dia menekan kode pintu Apartemen dan membukanya.
"Rose..." Tenggorokan Fanya rasanya tercekat melihat tamu yang menyambangi Apartemen mereka adalah Rose.
***
Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira