My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Delvin Jatuh Cinta?



Mendekap sesuatu yang akan terlepas rasanya seperti luka tapi tak berdarah. Sangat sakitt!!


\~\~\~


Setelah selesai membersihkan piring kotor, Delvin kembali ke ruang tamu, disana juga ada Fanya yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Delvin pun bergabung dengan sang istri, dia mendudukkan tubuhnya tepat di sisi perempuan itu.


"Apa kau lelah?" Tanya Fanya, pandangannya yang sedari tadi menatap layar televisi beralih ke Delvin.


"Tidak sama sekali, itu hanya pekerjaan ringan." Ujar Delvin sambil sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Fanya.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tebak Fanya melihat cara duduk Delvin yang berubah ke arahnya.


"Uhmm, aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang sesuatu, apa bisa?" Tanya Delvin ragu meminta persetujuan sang istri.


"Tentu saja bisa." Ujar Fanya cepat. Perempuan itu turut memiringkan tubuhnya agar saling berhadapan dengan sang suami.


"Bagaimana menurutmu jika seorang teman yang sudah kau anggap keluarga menyukaimu?" Perkataan Rose yang mengungkapkan perasaanya pada Delvin, sedikit mengganggu pikiran pria itu.


Mendengar pertanyaan Delvin, membuat Fanya teringat pada Rose.


"Delvin bilang Rose bukan kekasihnya, berarti mereka hanya berteman. Apa dia menyukai perempuan itu?" Batin Fanya.


"Aku akan tetap berteman dengannya juga tetap menganggapnya keluarga." Ujar Fanya memberi jawaban setelah beberapa saat terdiam menelaah pertanyaan Delvin.


"Tapi, bukankah menjadi canggung setelah tahu ternyata dia menyukaimu? Lalu, bagaimana kalau dia semakin mencintaimu karena pertemanan kalian yang terus berlanjut?" Tanya Delvin. Sebab kecanggungan pria itu pada Rose mulai muncul sejak di lobby tadi dan diapun khawatir perempuan itu sulit berhenti mencintainya jika mereka tetap berteman.


"Mungkin hanya canggung diawal saja. Tentang dia yang semakin mencintaiku karena pertemanan kami yang terus berlanjut menurutku tidak masalah. Asal dia tidak menuntut lebih dari sebatas teman padaku, semuanya akan baik-baik saja. Lagi, perasaan seseorang bisa berubah Delvin. Bisa saja, aku yang tidak memiliki rasa terhadapnya menjadi menyukainya balik." Jelas Fanya panjang lebar.


"Dan jika kau menyukainya balik?"


"Tentu kami tidak menjadi teman lagi Delvin, tapi sudah menjadi kekasih. Seperti yang sudah pernah kukatakan padamu, sepasang kekasih itu harus saling mencintai," kalimat Fanya terjeda, tiba-tiba ia teringat pada hubungannya dengan Delvin.


"Tapi, semua pasangan harusnya memang saling mencintai, termasuk pasangan suami istri." Lanjutnya dengan suara lirih.


"Jadi, jika besok kita sama-sama saling mencintai, apakah kita akan tetap bercerai?" Pertanyaan Delvin yang sedikit lari dari topik pembahasan membuat Fanya heran.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tampak kerutan dalam di kening Fanya, dia tidak mengerti maksud dan tujuan dari pertanyaan Delvin.


"Aku hanya mengikuti perkataanmu barusan. Bagaimana kalau besok aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku? Apa kita tetap bercerai?" Delvin mengulang pertanyaannya, seolah-olah sedang memastikan jika mereka sudah saling mencintai, maka tidak akan ada lagi kata perpisahan.


"Kita akan tetap bercerai. Sudah kukatakan, disaat kau mencintaiku, aku akan menolakmu karena sudah mengataiku buruk rupa dan bodoh. Apa kau mulai menyukaiku? Ckk, padahal aku belum ada berdoa bahkan untuk satu malam saja, tapi kau sudah begitu cepat jatuh cinta padaku." Ujar Fanya sambil terkekeh.


Kalimat Delvin membuat manik Fanya membola, dia semakin tidak mengerti pada pertanyaan pria itu.


"Sangat mustahil jika besok kita saling mencintai Delvin. Lagi, aku tidak akan mencintaimu, aku sudah memiliki kekasih dan kau tahu sendiri kalau kami saling mencintai." Ujar Fanya tak kalah tegas dari Delvin.


Jawaban monohok Fanya menimbulkan rasa sakit lain yang sebelumnya tidak pernah Delvin rasakan, meskipun begitu segurat senyum tertarik manis di bibir pria itu untuk menutupi keterlukaannya.


"Kau benar, mengapa aku terlalu bodoh mempertanyaakan itu padamu? Apa bodohmu mulai menulari otakku?" Pertanyaan terakhir Delvin yang terdengar seperti candaan adalah usaha pria itu untuk mencairkan suasana yang sempat tegang.


"Tidak lucu." Fanya beranjak dari tempatnya duduk, dia enggan bersitatap dengan manik Delvin sebab ia menangkap kesedihan di indra penglihatan pria itu sekalipun bibirnya sedang tersenyum.


Melihat Fanya hendak pergi membuat Delvin reflek menarik kuat tangan sang istri. Tubuh Fanya terhuyung, dia terjatuh menimpa Delvin yang terbaring di sofa akibat terdorong oleh tubuh perempuan itu.


Pandangan mereka sesaat terkunci. Dada mereka yang saling bersentuhan berdebar hebat tak karuan, Fanya dapat merasakan debaran dada sang suami pun sebaliknya dengan Delvin.


Fanya yang merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini berusaha melepaskan diri, namun tangan Delvin yang melingkar di pinggang perempuan itu segera menahannya. Kembali, pandangan mereka terkunci bersama deru nafas yang semakin memburu.


Sebelah tangan Delvin berpindah ke pipi sang istri, ia mengusap lembut kulit wajah perempuan itu.


"Kau terlihat cantik jika aku menatapmu dengan jarak sedekat ini." Ujar Delvin pelan. Embusan nafas pria itu menyapu kulit wajah Fanya, membuat perempuan itu meremang beberapa saat lamanya.


"Apa aku harus selalu menatapmu begini?" Tanya Delvin yang semakin memeluk erat sang istri sambil membenamkan ciuman ke bibir perempuan itu.


Manik Fanya membola, tubuhnya tiba-tiba kaku sama persis seperti ketika ciuman pertama mereka di restoran kemarin.


Ciuman lembut namun menuntut dari Delvin, kembali tak mendapat balasan dari Fanya, namun kali ini sedikit berbeda karena perempuan itu tidak berontak.


Merasa tak mendapat penolakan dari Fanya, Delvin menggigit bibir bawah sang istri sehingga perempuan itu sedikit membuka mulutnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan Delvin, dia langsung memperdalam ciumannya.


Delvin seolah melampiaskan rasa sakitnya tadi melalui tautan bibir mereka.


Namun sepertinya pria itu menginginkan lebih dari sebuah ciuman, sebab kini tangan Delvin berlahan melepas tiga kancing yang terpasang di gaun Fanya. Dia membalik tubuh perempuan itu, membuat sang istri berada di bawah kungkungannya.


Delvin sejenak melepas tautan bibir mereka, "apa aku bisa melakukannya?" Tanya pria itu meminta izin pada sang istri.


***


Jangan lupa untuk memfavoritkan novel ini ya teman-teman, agar kalian mendapat notifikasi update.


Beri like, vote dan komen yang membangun ya, tengkiuu luvv 💛.