My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Acara Pertunangan



Manusia dengan luka di masa lalu, biasanya akan terlihat bahagia saat berada di antara keramaian. Sebab saat itu mungkin dia tidak mengingat lukanya namun bukan berarti dia juga melupakannya


\~\~\~


Gaun berwarna peach tanpa lengan yang membalut tubuh Fanya terlihat menyatu dengan kulit putihnya. Kerah V-neck di gaun tersebut memperlihatkan leher jenjang perempuan itu, membuat ia semakin anggun dan menawan.


Malam ini dia dan Delvin akan menyambangi rumah Valerie-kekasih David. Tepat sudah seminggu acara tunangan sang kakak ipar akan dilaksanakan di kediaman Valerie.


Acara yang tidak mengundang banyak orang itu sengaja tidak dilakukan di hotel untuk menghindari para awak media.


Tangan mungil Fanya dengan lihai memoles lipstick yang warnanya hampir senada dengan gaun yang ia pakai, pun juga dengan pipi perempuan itu yang terlihat sedikit merona oleh blush on yang baru saja ia sapu di wajahnya dengan bantuan brush make-up.


Kegiatan itu ia lakukan di kamar Delvin. Beberapa hari belakangan ini, Fanya menjadi pemilik kamar Delvin dan pria itupun sepertinya merelakan kamarnya dipakai sang istri mengingat perbuatannya yang sampai sekarang tampaknya belum dimaafkan Fanya sebab perempuan itu masih bersikap dingin padanya.


Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan Fanya, dia meletakkan brush make-up ke atas meja rias sang suami. Dia berjalan ke arah pintu dan segera membukanya.


Fanya sedikit tersentak melihat penampilan Delvin yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawah pria itu. Otot perut Delvin yang terekspos sesaat menodai indra penglihatan Fanya. Perempuan itu segera beralih ke wajah sang suami.


Tampak buliran air dari rambut Delvin yang basah jatuh melewati perut berbentuk roti sobek milik pria itu. Dia baru saja selesai mandi di kamar mandi luar. Semenjak tidur di ruang tamu, Delvin berhenti memakai kamar mandi yang ada di kamar.


"Ada apa?" Tanya Fanya pada Delvin yang berdiri terpaku di hadapan perempuan itu. Penampilan Fanya yang tampak berbeda sungguh membuat Delvin terkesiap kerena pangling. Perempuan itu terlihat semakin cantik dibandingkan dengan hari biasanya.


"Ada apa?" Tanya Fanya lagi dengan sedikit menaikkan nada bicaranya sebab Delvin tak kunjung bersuara.


"Uhhmm, a-aku mau ke Walk In Closet untuk berpakaian." Ujar pria itu terbata. Fanya segera menepi dari pintu untuk memberi ruang pada Delvin. Pria itu langsung berjalan dengan langkah panjang menuju Walk In Closet, sebab dadanya semakin berdebar setiap kali menatap Fanya.


***


Mobil yang dikendarai Delvin bersama Fanya menepi di halaman rumah Valerie. Mereka serentak keluar dari dalam kendaraan roda empat itu.


Tampak Fanya kesusahan berjalan akibat gaun panjang yang ia kenakan.


"Biar aku membantumu." Ujar Delvin, tangannya sedikit mengangkat gaun tersebut.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Fanya menolak dengan menepis tangan Delvin, namun tenaga pria itu lebih kuat menahannya.


"Untuk malam ini saja bisakah kau memaafkanku? Besok setelah perceraian kita, kau bisa membenciku lagi. Biarkan aku membantumu mengangkat gaun ini, tolong jangan menghalangiku." Ujar Delvin, meski tenggorokan pria itu hampir tercekat mengatakan tentang perpisahan mereka, tapi dia berusaha agar terlihat tenang.


Ya, sesuai kesepakatan mereka sebelumnya, Delvin akan menggugat cerai Fanya setelah pertunangan David. Jika dulu ia ingin segera berpisah dari perempuan itu, kali ini rasanya sangat sakit bahkan untuk sekedar memikirkan perceraian mereka. Ditambah hubungan mereka yang semakin memburuk semenjak ciuman kedua Delvin pada Fanya, membuat pria itu sering dilanda penyesalan yang teramat sangat.


"Hanya untuk malam ini." Ucap Fanya, dia membiarkan Delvin mengangkat gaunnya.


***


Tampak keluarga besar dan beberapa teman dekat dari kedua belah pihak mulai berdatangan memenuhi tempat itu. Ada Richard dan juga Rose yang juga turut ikut meramaikan acara itu. Michael tak bisa hadir karena pria itu sedang berada di luar Kota.


Awalnya Delvin melarang sang kakak mengundang Rose dan Michael, mengingat pernikahannya masih ia tutupi dari kedua temannya itu. Namun Rose yang sudah terlanjur mengetahuinya membuat Delvin membiarkan sang kakak mengundang teman-temannya.


Delvin duduk di antara Diego dan Fanya, sesekali ia melirik ke arah sang istri yang terlihat fokus menatap ke depan.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, segera acara pertunangan tersebut dilakukan.


Di atas panggung kecil, David berdiri menatap Valerie yang berdiri beberapa meter di hadapannya. Dengan sebuah pengeras suara yang ada di genggaman pria itu, David mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Aku mengenalmu sejak SMA dan kita berteman baik saat itu. Kau sudah sangat tahu, seperti apa baik, buruk dan hancurnya kehidupan keluarga kami dulu," kalimat David terjeda, bayangan masa lalu bersama sang ibu mengaburkan penglihatan pria itu, sebab cairan bening sudah menumpuk di pelupuknya.


Suasana tampak hening, semua orang yang hadir disana dengan sabar menunggu lanjutan dari kalimat David namun ada beberapa dari mereka yang turut hanyut dengan emosi pria itu, terlihat dari manik mereka yang juga mulai ikut berair sebab mereka yang hadir disana juga tahu seperti apa kehidupan yang dijalani keluarga Albercio dulu.


Jika yang lainnya masih bisa menahan air mata, berbeda dengan Delvin. Cairan bening tersebut sudah menganak sungai membasahi pipi pria itu. Dia hendak pergi meninggalkan acara tersebut, namun tubuhnya tertahan oleh usapan lembut Fanya di punggung tangannya.


"It's okay." Ujar Fanya pelan, meski perempuan itu tidak tahu seperti apa hancurnya kehidupan keluarga Delvin dulu, namun ia dapat merasakan kesedihan sang suami. Sesaat Fanya mengesampingkan amarahnya pada pria itu.


Apa yang dilakukan Fanya tak luput dari pandangan Rose, perempuan itu tampak menampilkan raut tidak suka melihat tangan Fanya menggenggam erat jemari Delvin.


Diego menatap sekilas ke arah putra dan menantunya. Melihat Delvin menangis membuat air mata lelaki paruh baya itu tumpah, meski ia sudah sekuat tenaga untuk menahannya. Diego segera membuang muka agar anak-anaknya tidak melihat dia menangis.


Setelah menghelas nafas panjang, David melanjutkan kalimatnya.


"Terimakasih sudah bersedia menjadi temanku saat itu dan selalu menahanku untuk melakukan hal buruk pada diriku. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi percayalah kau adalah anugerah yang sangat kusyukuri hingga detik ini. Setelah hampir sepuluh tahun kita menjalin kasih, sekarang aku memberanikan diri untuk melamarmu menjadi istriku. Maukah kau menikah denganku Valerie Jaynees?" David berjalan mendekati Valerie. Dia berlutut dihadapan sang kekasih sambil tangannya membuka kotak merah yang berisi cincin di hadapan perempuan itu.


Tak mau David menunggu terlalu lama, Valerie segera menganggukkan kepalanya berkali-kali, cairan bening membasahi pipi perempuan itu, dia sungguh terharu atas apa yang dikatakan dan dilakukan David padanya.


"Mengapa aku jadi ikut menangis? Mungkin karena aku tidak pernah melihat hal romantis seperti ini." Kiara yang memegang nampan kosong terlihat menyeka air matanya. Dia hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pelayan yang mengantar minuman dan makanan pada orang-orang yang ada disana.


Suara tepuk tangan terdengar riuh setelah David menyematkan cincin tersebut di jari manis Valerie dan mengecup singkat bibir sang kekasih.


***


Happy Eid Mubarak buat teman-teman yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin 💛


Happy Ascension day juga buat teman-teman yang merayakan, tetap sehat dan happy 😊


Big hug for u guys 💛💛