
Teruslah berjuang! Tapi jika hal yang kau perjuangkan justru memberi banyak luka untukmu, maka menyerahlah. Karena masih banyak kebahagiaan yang menantimu di depan sana.
\~\~\~
Lelap Fanya terganggu oleh rasa khawatir perempuan itu, sepanjang malam dia sering terbangun untuk melihat kondisi Delvin. Saat terjaga, dia sesekali mengecup punggung tangan pria itu, sebentar ia menatap wajah pucat Delvin lalu kembali tidur dan terbangun. Hal itu berulang-ulang Fanya lakukan sampai waktu menjelang pagi barulah ia benar-benar bangun dari tidurnya yang melelahkan.
Kamar mandi menjadi tujuan pertama Fanya pagi ini, dia berpapasan dengan Kiara yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Kau sudah selesai mandi?" Tanya Fanya sebagai sapaan pada sang sahabat.
"Uhmm," jawab Kiara sambil mengangguk. "Aku akan membeli sarapan kita ke bawah. Kau ingin memesan apa?"
Sejenak Fanya berpikir ingin mamakan apa pagi ini.
"Sandwich dan segelas hot chocolate." Ujar Fanya setelah mempertimbangkan beberapa menu yang tadi ada di kepalanya.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Kiara tersenyum, ia merasa lega karena Fanya tidak menolak sarapan yang ia tawarkan.
"Tolong tanyakan juga kak David, dia juga pasti belum sarapan." Pinta Fanya sebelum Kiara melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Okee." Ujar Kiara sambil menautkan ibu jari dan telunjuknya yang terlihat membentuk huruf 'O'
"Terimakasih." Ucap Fanya, ia masuk ke kamar mandi setelah Kiara menghilang dari balik pintu.
***
Fanya yang baru saja keluar dari kamar mandi tersentak melihat kehadiran Tasha dan seorang wanita paruh baya yang tidak ia kenal duduk di atas sofa bersama Kiara.
"Fanya, kemarilah." Panggil Kiara melambaikan tangan ke arah perempuan itu yang terpaku di depan pintu kamar mandi.
"Tak ada yang harus kuhindari." Batin Fanya mendekat pada sofa.
Kerutan dalam tampak jelas di kening Tasha, sebab Kiara yang tadi bercerita jika Delvin sudah menikah cukup membuat perempuan itu terkejut dan tadi Kiara mengatakan jika istri Delvin sedang mandi. Sosok yang baru keluar dari kamar mandi hanyalah Fanya seorang, perempuan yang jelas ia tahu sebagai kekasih Jack dan juga pekerja paruh waktu di Coffe Shop milik keluarga Albercio.
"Ini Tasha dan Ibu Vivian. Mereka ingin menyampaikan sesuatu padamu." Meski Kiara sudah tahu tujuan Tasha dan ibu perempuan itu datang ke rumah sakit, ia lebih memilih membiarkan mereka menjelaskan pada Fanya.
"Fanya." Seperti tidak mengenal, Fanya mengulurkan tangan pada Tasha yang langsung disambut perempuan itu.
Setelah itu, ia berpindah pada wanita paruh baya bernama Vivian yang memperkenalkan diri sebagai ibu Tasha.
"Maksud kedatangan kami kesini selain menjenguk Delvin juga ingin meminta maaf sebesar-besarnya pada kamu dan juga keluarga besar kalian nak," raut Vivian berubah sendu, dia menarik nafas dalam untuk mengisi udara di paru-parunya yang terasa sesak semenjak melihat kondisi Delvin dan lingkar hitam di kantung mata Fanya.
"Se-semalam, Bibi terlalu ceroboh untuk menyeberang sampai tidak memperhatikan lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau. Mobil yang ditumpangi suamimu tepat lewat di hadapan Bibi. Dan karena menghindari Bibi, mereka mengalami kecelakaan. Maafkan Bibi nak." Buliran air mata penyesalan jatuh membanjiri wajah renta Vivian.
Sekuat tenaga Fanya menahan cairan bening yang berusaha keluar dari manik perempuan itu. Ia tidak ingin menambah rasa sedih pada wanita paruh baya yang menangis di hadapannya.
"Terimakasih sudah datang menjenguk Delvin," sudut bibir Fanya sedikit tertarik. Ia beringsut dari duduknya, berpindah ke sisi kiri Vivian.
"Terimakasih juga karena Bibi dengan berani meminta maaf, aku yakin butuh keberanian yang teramat sangat untuk datang kesini dan menceritakan kebenaran yang tidak kami ketahui mengenai kecelakaan Delvin. Dengan sangat tulus, aku memaafkan Bibi dan aku yakin ketika Delvin tersadar, dia juga pasti memaafkan Bibi." Ujar Fanya mengusap-usap punggung tangan Vivian, sebab air mata wanita itu semakin tak bisa dibendung.
"Bi-bibi yang seharusnya mengucapkan terimakasih, ka-kamu sangat baik. Semoga suamimu cepat pulih nak." Ujar Vivian terbata-bata.
Fanya menjawab dengan senyuman sambil berharap dalam hati kalimat terakhir Vivian segera terjadi.
"Terimakasih sudah memberi maaf pada ibuku. Kesembuhan Delvin adalah kabar bahagia yang juga kami nanti. Aku yakin dia akan bangun." Ujar Tasha yang sedari tadi diam mendengar dan melihat interaksi Fanya dan sang ibu.
Nada bicara perempuan itu terdengar lembut hingga mampu menambah kekuatan baru untuk Fanya dalam menghadapi kesulitan yang sedang perempuan itu alami.
"Doa baik kalian sangat berarti untuk Delvin, terimakasih banyak." Pandangan Fanya mengarah pada Tasha, ia sangat bersyukur atas sikap yang perempuan itu tunjukkan.
***
Saat mereka hendak pergi, Fanya menawarkan diri mengantar mereka hingga ke lobby rumah sakit.
Alas kaki mereka yang bersentuhan dengan lantai menimbulkan suara yang terdengar nyaring di sepanjang lorong rumah sakit. Dan suara itu menjadi senyap kala Tasha menghentikan langkahnya yang langsung disusul Fanya dan Vivian.
"Ma, bisakah Mama menungguku di dalam mobil. Ada yang ingin kubicarakan dengan Fanya sebentar saja." Pinta Tasha pada sang ibu.
Vivian mengangguk, Tasha segera memberikan kunci mobil pada wanita itu.
Sepeninggal Vivian, Tasha mengajak Fanya duduk di kursi tunggu yang terletak di depan salah satu kamar rumah sakit.
"Uhmm, bisakah aku meminta waktumu sedikit untuk membicaran hal yang cukup sensitif menurutku?" Tanya Tasha penuh hati-hati.
Fanya yang langsung mengerti akan ke arah mana pembicaraan mereka nanti memberi anggukan.
"Aku tidak mengerti dengan statusmu. Ma-maksudku, bagaimana bisa Jack menjadi kekasihmu sedangkan Delvin adalah suamimu? Maaf jika aku terlalu lancang bertanya padamu." Kebingungan yang sedari tadi bertengger di pikiran Tasha akhirnya bisa ia tanyakan pada Fanya.
Posisi duduk Fanya yang tadi sedikit menyamping menghadap Tasha kini berubah lurus ke depan. Pandangannya terfokus pada bunga Monstera yang sengaja di letak di sisi kamar rumah sakit untuk memberi kesegaran dan juga menambah ke-estetikan bangunan di dalam rumah sakit itu.
"Sebelumnya Jack memang kekasihku bahkan setelah Delvin menjadi suamiku."
Tasha terhenyak mendengar pengakuan Fanya, manik perempuan bahkan sempat membola.
Sampai akhirnya Fanya menceritakan penyebab pernikahannya dengan Delvin dan keberpalingan hati perempuan itu dari Jack membuat Tasha mengerti dengan hubungan rumit Fanya.
"Kalau begitu, ma-maafkan aku dan Jack yang su-"
"Kesalahan tidak sepenuhnya milik kalian, aku juga salah dalam kejadian ini. Kita sendiri tidak tahu, hati siapa yang lebih dulu berkhianat antara kami." Ujar Fanya memotong ucapan Tasha.
"Apa kalian saling mencintai?" Tanya Fanya tiba-tiba.
Dia tidak lagi bertanya sejak kapan perselingkuhan Jack dan Tasha terjadi karena yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Tasha bersama mantan kekasihnya itu.
"Aku yang mencintainya, Jack tidak mencintaiku." Ujar Tasha lirih.
"Ta-tapi kalian..." Sungguh Fanya sulit mempercayai perkataan Tasha, sebab perempuan itu sudah menyerahkan tubuhnya pada Jack.
"Walaupun kami sudah sering melakukannya, tetap saja tidak ada cinta dari Jack saat dia menyentuhku. Dan aku baru tahu alasannya di malam kau memergoki kami, dia mencintaimu, Fanya." Sebulir air mata jatuh di pipi Tasha mengingat perbuatan Jack yang sudah berkali-kali mengajaknya tidur namun tidak sekalipun menyatakan cinta pada perempuan itu.
"Dia tidak mencintaiku, sama sekali dia tidak mencintaiku. Jika dia mencintaiku, aku yakin dia tidak akan melakukan itu padamu. Tolong berpalinglah darinya, dia tidak pantas untukmu Tasha. Aku yakin kau bisa mendapatkan pria yang tulus padamu." Sungguh Fanya merasa iba dengan Tasha, Jack yang sudah keterlaluan mempermainkan perasaan Tasha memantik emosi Fanya pada pria itu.
"Aku sangat mencintainya Fanya." Perasaan Tasha terhadap Jack sudah mengakar kuat di hati perempuan itu, hingga membuatnya sulit berpaling.
"Tapi..."
"Biarkan aku berjuang, maafkan aku yang begitu menginginkan dia." Ujar Tasha, ia mengusap pipinya yang basah akibat air mata.
Fanya tidak punya hak untuk melarang Tasha pada keputusan yang perempuan itu pilih, tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berharap Tasha menemukan kebahagiaan dari Jack maupun pria lain nantinya.
.
.
.
Maafkan author yang jarang upadate, karena dua hari ini mood swing aku parah banget. Tetap jaga kesehatan fisik dan mental kalian ya teman-teman.
Always happy n healthy untuk semua reader setiaku 💛💛