My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Permintaan Maaf



Meninggalkan jejak kebaikan disetiap waktu yang berlalu akan menjadikan setiap hari yang terlewati lebih bermakna.


\~\~\~


"Kita mau kemana, Delv?" Tanya Fanya heran, sebab mobil mereka tidak searah dengan mobil yang keluarga mereka tumpangi dan Pak Kenan--supir pribadi Albercio mengambil alih kemudi, dia dan Delvin duduk di kursi penumpang.


"Kita akan ke Nice." Memilih jalur darat sebagai alternatif perjalanan mereka, Delvin berencana tidak bermalam disana.


"Sekarang?" Fanya kembali bertanya, tadi dia sempat berpikir jika malam ini mereka akan menginap di Mansion.


"Ehmm," Delvin mengangguk, dia tahu Fanya pasti sangat bingung dengan perjalanan mereka malam ini.


"Tidurlah, kita akan tiba saat pagi." Lanjut Delvin.


"Delv, kau baru saja pulih, tidak baik melakukan perjalanan sejauh ini. Semua keluarga kita juga sedang berkumpul di Mansion, kita seharusnya ikut menemani mereka." Bukannya Fanya tidak ingin pergi berduaan dengan sang suami, apalagi tujuan mereka kali ini ke Kota kelahiran orangtua kandung perempuan itu. Hanya, dia merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk pergi kesana.


Menatap lekat manik sang istri, Delvin mengusap lembut wajah Fanya yang terlihat jelas sedang menahan kekesalan atas keputusan sepihak dirinya.


"Maafkan aku karena tidak mengajakmu berdiskusi terlebih dahulu. Jika kau mengkhawatirkan kesehatanku, aku sudah 100% pulih, Sayang dan--"


"Dan mertuamu sekarang sedang di Paris Delvin." Fanya melanjutkan kalimat pria itu. Sedikit menaikkan nada bicaranya, dia tidak lagi menutupi kekesalannya pada sang suami.


"Sayang--" kembali Delvin mengusap wajah perempuan itu.


"Perjalanan kita sekarang sudah atas seizin Papa dan Mama. Lagi, mereka tidak akan kembali ke Dinan, Paris adalah rumah baru mertuaku." Ujar Delvin yang menimbulkan kerutan dalam di kening Fanya.


"Maksudmu?"


"Dengan sedikit paksaan, aku meminta Papa dan Mama pindah ke Paris. Sebuah perumahan dekat Mansion sudah kubelikan untuk mereka." Meski cukup sulit membujuk mertuanya untuk tinggal di Paris, tapi Delvin berhasil melakukannya dengan alasan kelak jika dia dan Fanya sudah memiliki anak, sang mertua bisa dengan leluasa bermain bersama cucu mereka.


Fanya tertegun.


"Aku tahu kau selalu merindukan mereka. Orangtua kita juga semakin menua, aku mau kita selalu dekat disisi mereka." Ujar Delvin, dia ingin menebus semua luka dan rasa sakit mereka dulu dengan cara memberi kebahagiaan pada keluarganya.


Manik Fanya memerah, sebab rasa haru kini menyelimuti hati perempuan itu, dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Sungguh, Delvin begitu mahir memperlakukan orang yang ia sayangi dengan sangat baik, lebih dari apa yang Fanya inginkan.


Delvin melingkarkan tangannya di pinggang Fanya. Meletakkan dagunya di pundak sang istri, ia menghidu aroma vanilla yang meyeruak dari rambut perempuan itu.


"Besok kita akan ziarah, Sayang. Aku belum pernah memperkenalkan diriku pada orangtuamu." Memperjelas tujuan kedatangan mereka ke Nice yang menjadi tempat orangtua kandung Fanya dimakamkan, Delvin mendapati sebulir air mata jatuh dari pelupuk sang istri.


"Delv--" sambil terisak Fanya mencoba menetralkan deru nafasnya.


"Hmm." Mengusap setiap air mata yang membasahi wajah Fanya, Delvin menunggu kalimat yang akan perempuan itu katakan.


"Kau seperti benih yang tumbuh di antara banyak duri dan bebatuan. Meski topanganmu tidak kokoh, tapi kau mampu bertahan sampai menghasilkan buah yang banyak. Terimakasih sudah menjadi suami yang baik untukku, Delv. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Fanya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Delvin, memeluk pria itu dengan sangat erat.


"Terimakasih juga Fanya sudah bersedia hadir di antara duri dan bebatuan itu. Aku pun kuat karena dirimu." Batin Delvin, membalas pelukan sang istri, pria itu mengecup kening Fanya dengan lembut.


"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang." Ujarnya.


Jika dulu kegagalan orangtua Delvin dalam membangun biduk rumah tangga menjadi alasan pria itu enggan menikah. Kini, kegagalan itu ia lihat sebagai sebuah proses pendewasaan diri, membentuknya menjadi suami yang baik bagi Fanya dan Ayah yang luarbiasa untuk anak-anaknya kelak.


Pak Kenan yang berada di antara mereka tampak menarik sudut bibirnya. Lelaki paruh baya itu ikut merasa bahagia dengan kehidupan Delvin sekarang, sebab putra termuda dari majikannya itu kini bisa lepas dari peristiwa kelam di masa lalu.


Mengemudikan kendaraan yang ia bawa dengan sangat hati-hati, pak Kenan ingin memberi kenyamaanan kepada sepasang suami istri yang kini mulai terlelap setelah melakukan obrolan yang cukup panjang.


***


Setelah sarapan, Delvin dan Fanya segera meluncur ke pamakaman. Berjongkok disisi makam, mereka meletakkkan sebuket bunga lily putih bercampur daisy tepat di bawah nisan orangtua Fanya.


Sempat hening beberapa saat, Delvin memilih lebih dulu berbicara.


"Pa, Ma-- pasti kalian kaget melihat Fanya datang bersama seorang pria," berbicara dengan senyum simpul di bibirnya, manik berlinang tanda haru juga menghiasi wajah Delvin.


"Aku kesini untuk memperkenalkan diri. Aku Delvin Albercio, pria beruntung yang kini menjadi menantu kalian," dengan perasaan bangga, Delvin menyuarakannya dengan tegas.


"Ada masa lalu buruk yang pernah terjadi dikeluarga kita, aku meminta maaf atas nama ibuku dan diriku sendiri karena pernah melukai keluarga kalian." Delvin tak bisa menahan airmatanya yang sempat menumpuk dipelupuk pria itu. Mengingat kembali jika dulu dia sangat membenci Fanya dan pernah menyakiti perasaan perempuan itu, semakin mempermudah cairan bening itu keluar dari tempatnya.


"Delv-" Mengusap punggung tangan sang suami, Fanya mencoba menenangkan pria itu.


"Aku terlalu cengeng." Menghapus jejak airmata dengan sapu tangan yang ia taruh di saku kemeja putihnya, Delvin kembali tersenyum.


Sekilas menatap wajah Fanya, pria itu mengalihkan pandangan ke makam sang mertua lagi.


"Pa, Ma-- aku ingin meminta restu kalian juga untuk keluarga kecilku bersama Fanya. Semoga kehidupan rumah tangga kami selalu dipenuhi kebahagiaan. Aku berjanji akan selalu menjaga Fanya dan berada disisinya apapun yang terjadi di masa depan nanti." Lanjut Delvin.


Perasaan hangat memenuhi relung hati Fanya saat mendengar ucapan Delvin. Pria itu terlihat begitu sungguh dan tulus berbicara di makam orangtuanya.


"Sayang, kau menyimpan cincin pernikahan kita?" Tanya Delvin tiba-tiba. Sebab terakhir dia melihat cincin itu terpasang di jari manis Fanya hanya saat di acara pernikahan mereka.


"Uhmm--maafkan aku," dengan sedikit terbata Fanya mengeluarkan sebuah kalung dari balik kerah bajunya.


"Aku menyimpannya disini," menunjuk mata kalung yang adalah cincin pernikahannya, perempuan itu melanjutkan bicaranya. "Aku pernah melepas cincin ini dan menggantikannya dengan cincin pemberian Jack. Setelah semua masalah yang terjadi, aku merasa tidak pantas menaruhnya di jari manisku. Aku mengkhianati pernikahan kita, lalu kemudian mengkhianati Jack dan kembali padamu. Aku begi--"


"Sstt... aku tidak ingin kau menyalahkan dirimu. Dengar, cincin ini memang tidak pantas di jari manismu juga di jari manisku." Melepas cincin pernikahannya terlebih dahulu, Delvin juga membuka pengait kalung sang istri untuk mengeluarkan cincin yang terpasang di benda itu.


"Apa yang kau lakukan?" Fanya terlihat bingung dengan perbuatan Delvin.


"Kau tahu, dulu aku tidak begitu menginginkanmu dan cincin pernikahan kita dibeli asal oleh orang suruhanku. Jelas cincin ini tidak pantas untuk kita, Sayang. Aku mau mengganti cincin ini dengan pilihanku." Mengeluarkan kotak merah dari dalam saku celanya, pria itu setengah berdiri kemudian berjongkok kembali.


"Sayang, maukah kau menua bersamaku?" Bak melamar seorang kekasih, Delvin ingin menyematkan cincin pernikahan mereka di jari sang istri dengan cara yang benar.


"Aku tidak punya alasan untuk menolak." Jawab Fanya cepat.


Tanpa ragu, mereka memasang cincin pernikahan itu secara bergantian. Kecupan singkat Delvin berikan di bibir Fanya.


"Ada hal yang harus kau ingat," menangkup pundak sang istri, Delvin menatap manik perempuan itu dengan lekat.


"Kau bukan pengkhianat, Jacklah yang mengkhianati hubungan kalian dulu." Jelas Delvin akhirnya setelah sekian lama ia menyembunyikannya dari Fanya.


"Kau tahu darimana?" Tampak kerutan dalam di kening Fanya. Memberi pertanyaan, perempuan itu ingin penjelasan yang lebih spesifik dari suaminya.


"Tidak disini dan bukan waktu yang tepat untuk membahas Jack sekarang. Aku berjanji akan menceritakannya nanti padamu."


"Uhhmm, baiklah." Mengerti jika Delvin tidak ingin merusak momen mereka dengan menyebut nama Jack, Fanya tak memaksa pria itu bercerita.


"Katakan sesuatu pada Papa dan Mama, Sayang." Pinta Delvin, sebelum akhirnya ia akan membawa sang istri pergi.


Menarik nafas cukup dalam, Fanya memusatkan pandangannya ke makam orangtuanya.


-


-