
Seperti takdir bukan kita yang tulis, dengan cara itulah Semesta mengikat kita
\~\~\~
"Aku tidak pantas untukmu." Ujar Fanya sambil terisak, ia mencoba melepaskan pelukan Delvin yang semakin erat memeluk tubuhnya.
"Hanya aku yang tahu siapa yang pantas untukku," tegas Delvin sambil melepas tautan tubuhnya dari sang istri, ia turun dari atas ranjang dan duduk di atas lantai tepat menghadap Fanya.
Rambut Fanya yang sedikit menutupi indra penglihatan perempuan itu Delvin sampirkan di balik telinga sang istri. Ia menatap lembut manik perempuan itu.
"Di tengah kebimbangan hatimu, kau masih tetap menjaga tubuhmu dariku. Itu adalah kesetiaanmu yang tidak dimiliki Jack. Mari memulai semuanya dari awal." Lanjut Delvin sambil mengusap air mata Fanya yang tak kunjung surut.
Jika tadi Fanya meminta mengakhiri hubungan mereka, Delvin justru sebaliknya. Pria itu sudah bertekad tidak akan melepaskan sang istri.
"Kau sudah tahu kalau aku bukan putri kandung dari Papa Thomas dan Mama Lucia," kalimat Fanya terjeda oleh tarikan nafas dalam perempuan itu. "Kehidupan keluarga kandungku sangatlah rumit dan buruk, kau akan menyesal jika tetap mempertahankanku." Suara Fanya yang semakin parau terdengar lirih di indra pendengaran Delvin.
Semua luka dan rasa sakit yang sang Ayah berikan sebenarnya tidak sedikitpun membuat Fanya membenci lelaki itu atau membuatnya sulit menerima pria lain, sebab ibunya selalu mengajarkan dirinya untuk tetap memberi cinta dan maaf tanpa henti pada sang Ayah. Namun perkataan Jack semalam sepertinya mampu mempengaruhi pikiran perempuan itu, ia ragu orang lain dapat menerima masa lalu keluarga mereka termasuk Delvin-pria yang baru saja menyatakan cinta padanya, sebab Jack yang sudah cukup lama menjalin kasih dengannya saja masih tetap merendahkan keluarga mereka, meski kebenarannya tidak seperti yang pria itu katakan.
"Tidak seburuk yang Jack katakan, aku sudah mengetahui semuanya dari Dad Diego." Ujar Delvin yang membuat Fanya beranjak bangun dari tidurnya.
"Apa yang sudah kau ketahui?" Tanya Fanya menajamkan tatapannya pada Delvin.
"Maafkan aku tidak pernah menanyakan seperti apa kehidupanmu di masa lalu." Delvin tidak langsung menjawab pertanyaan Fanya, ia berpindah ke sisi ranjang di samping sang istri.
"Itu bukan suatu kesalahan, kau tidak perlu meminta maaf." Fanya dapat merasakan penyesalan di manik Delvin dari cara pria itu menatapnya.
"Penyakit yang menjadi penyebab kepergian orangtuamu berasal dari ibuku. Ma-maafkan aku karena wanita itu, kau kehilangan Ayah dan Ibumu selamanya." Rasa panas menjalar di manik Delvin, membuat indra penglihatan pria itu memerah menahan tangis dan marah. Setiap kali membicarakan sang ibu, ia tidak pernah bisa mengontrol emosinya.
Fanya dibuat tersentak dengan pengakuan Delvin, dia langsung mengerti dengan apa yang pria itu ucapkan.
Perselingkuhan sang Ayah dengan wanita bernama Kinanti menjadi awal petaka untuk keluarga mereka. Sebab kehadiran wanita yang ternyata ibu dari Delvin benar-benar berhasil merusak dan menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka waktu itu.
"Ka-kau putra Bibi Kinanti?" Tanya Fanya terbata.
Delvin mengangguk samar meskipun ia enggan mengakui wanita itu sebagai ibunya.
Pernah sekali sang Ayah membawa Fanya bertemu Kinanti. Wanita itu sempat mengajaknya berbincang di taman Kota dan kalimat yang Kinanti ucapkan selalu tersimpan rapi di memori Fanya.
"Apa kau membenci Bibi?" Pertanyaan itu menjadi awal perbincangan mereka saat itu.
"Kata mama membenci adalah hal yang akan melukaiku dan juga orang lain. Aku tidak mau menyakiti siapapun, termasuk Bibi." Keadaan keluarga mereka dulu berhasil membentuk Fanya yang masih berusia belasan tahun berpikir layaknya orang dewasa.
Sebuah usapan lembut wanita itu berikan di rambut panjang Fanya.
"Kau terlahir dari wanita yang luar biasa nak," Kinanti menghentikan usapannya, pandangan wanita itu menatap haru pada dua orang anak yang berlarian girang di taman.
"Bibi memiliki dua orang putra. Tapi putra kedua Bibi sangat membenci perempuan. Dia tidak mau berteman pada lawan jenisnya dan akan memukul siapapun yang mendekati dia, itu terjadi sejak Bibi melakukan kesalahan yang sangat fatal. Karena Bibi, dia berpikir bahwa semua perempuan itu buruk," cairan yang menumpuk di pelupuk Kinanti tumpah membasahi pipi dan terjatuh ke punggung tangan wanita itu.
"Untuk kamu yang akan beranjak dewasa, tetaplah menjadi Fanya yang sekarang. Jika nanti seorang pria mencintaimu dan kamupun mencintainya, teruslah menjaga perasaan sayang kalian agar semakin tumbuh subur sebab itu adalah kunci keawetan hubungan. Jangan pernah memaksa seseorang tinggal bila dia sudah tidak mencintaimu lagi, itu akan menyakiti kalian. Bibi sangat berharap kamu dipertemukan dengan putra kedua Bibi nak dan menjadi obat untuk luka-lukanya." Ujar Kinanti tersenyum, setiap kata yang wanita itu ucapkan ditelaah Fanya dengan baik.
Perbincangan pertama mereka waktu itu juga menjadi yang terakhir antara Fanya dan Kinanti. Sebab keesokan harinya wanita itu jatuh sakit dan setelah dilakukan pemeriksaan Kiananti terinfeksi penyakit mematikan itu. Seminggu kemudian kabar buruk juga menimpa keluarga Fanya, kedua orangtuanya juga menderita sakit yang sama dengan Kinanti.
Hal yang menjadi kehendak Semesta menakdirkan kedua orangtua Fanya dan Ibu Delvin meninggal di hari yang sama.
Kini Fanya mengerti satu hal mengapa Delvin sangat membenci dirinya di awal pernikahan mereka dulu, itu terjadi karena luka di masa lalu sang suami.
Pernyataan cinta Delvin tadi berubah menjadi kebahagiaan di hati Fanya sebab pria itu sudah bisa membuka hati pada perempuan yaitu dirinya dan kalimat terakhir Kinanti yang seperti harapan untuk sang putra dapat terwujud.
Semoga saja Delvin bisa berdamai dengan luka di masa lalunya.
***
Hai readers setia The Wound Healer Mr. Delvin, maafkan author sudah seminggu ini tidak update, ada kesibukan yang cukup menguras tenaga dan pikiran di kehidupan nyata yang tidak bisa ditinggalkan.
Setelah ini, Author akan rajin update lagi. Tetap berikan like, komen dan vote untuk mendukung tulisan ini ya teman-teman.
Jangan lupa melempar bunga juga ya, heheheh 😁
Terimakasih luvv 💛💛