My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Kau Sudah Mengetahuinya?



Kamu patut berterimakasih untuk orang yang bersikap baik dikehidupanmu yang sedang tidak baik.


\~\~\~


Fanya dan Delvin terkesiap bersamaan mendengar penuturan dari Diego.


“Apa Dad tidak menganggap aku putramu? Kenapa kalian tidak mengabariku?” Ucap Delvin protes.


“Ini juga mendadak Delvin, tadinya Daddy ingin memberi tahu kalian saat di Panti. Tapi kalian tidak bisa datang makanya Daddy memberi tahunya sekarang.” Jawab Diego membela diri.


Tadi Diego menceritakan perihal makan malam yang akan diadakan pukul 08.00 nanti, makan malam tersebut akan membahas tentang rencana pertunangan anak tertua Diego dan dihadiri oleh Valerie—kekasih David beserta kedua orangtua perempuan itu.


“Apa kak David sudah dalam perjalanan kesini?” Tanya Fanya, belum sempat Diego menjawab pertanyaan menantunya itu, suara derap kaki dan teriakan seorang pria mengalihkan percakapan mereka.


“I’m coming!!” Seru David sambil menggeret koper berwarna silver yang ia bawa dari Berlin. Dia menghampiri Diego, Delvin dan juga Fanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Diego berdiri dari sofa tempat ia duduk untuk menyambut putra pertamanya itu, pun juga Delvin dan Fanya yang turut senang dengan kepulangan David.


“Kalian pasti lelah, segeralah mandi agar kalian bisa beristirahat sebentar.” Ujar Diego di tengah pelukannya dengan David.


Jika tadi Fanya menarik lebar sudut bibirnya karena merasa senang, kini sudut bibir itu berlahan memudar menyisakan kekhawatiran di raut wajahnya. Dari balik punggung David muncul Richard yang Fanya tahu merupakan teman Rose—wanita dari Delvin yang membuatnya ingin melarikan diri dari perkumpulan mereka sekarang.


Meskipun beberapa waktu lalu ia sempat bertemu Richard di Monmartre, namun saat itu ia sedang tidak bersama Delvin, tentu tidak ada kecanggungan apalagi kekhawatiran untuk berbincang dengan sekretaris suaminya itu.


“Dad, justru karena kami lelah biarkan kami duduk sebentar ya.” David tertawa kecil menanggapi perintah Ayahnya.


“Ya, ya—kalian duduklah sebentar.” Ujar Diego sambil tertawa pula.


“Aku akan menyiapkan minum untuk kalian.” Dengan langkah cepat Fanya berlalu ke dapur untuk menyeduh teh kepada dua pria yang baru datang dari perjalanan jauh mereka. Tadi pelayan di rumah Diego sudah menyediakan minum namun untuk tiga orang saja. Dia bisa saja meminta pelayan untuk kembali membuatkan minum, namun bersitatap dengan Richard semakin memperjelas kekhawatiran di wajahnya.


“Kau baik-baik saja? Maaf mengagetkanmu.” Ujar Richard sambil tangan kanannya menahan gelas yang sedikit bergeser oleh benturan tubuh Fanya yang tersentak.


“Ti—tidak apa-apa.” Fanya mencoba mentralkan deru nafasnya, selain terkejut karena deheman Richard ia pun terkejut karena pria tersebut menemuinya ke dapur.


“Aku baru dari toilet,” meskipun cuaca tidaklah terlalu panas, kening Fanya tampak berkeringat. Richard meyakini istri dari sahabatnya itu sedang merasakan gugup yang luar biasa. “Uhm, aku hanya ingin mengatakan kalau aku sudah mengetahui tentang pernikahanmu dan Delvin, dia sendiri yang memberi tahuku.  Jadi kau tak perlu canggung padaku.” Ujar Richard sambil mengulas senyum bersahabat.


Fanya berkali-kali mengerjapkan maniknya, ia tak percaya jika Delvin sudah memberi tahu tentang status mereka pada Richard. Pantas saja tidak ada reaksi berlebihan dari Delvin saat melihat Richard.


“Apa Delvin juga memberi tahu Rose tentang pernikahan kami?” Tanya Fanya spontan. Beberapa kali bertemu Rose, ia melihat perempuan itu berusaha menunjukkan kedekatannya dengan Delvin, bahkan memamerkan kemesraan kala mereka bertemu di Monmartre. Menurutnya, Rose ingin mempertegas bahwa Delvin adalah miliknya bahkan ketika pria itu sudah menikahi Fanya.


“Rose?” Richard mengernyitkan keningnya bingung, sebab sepengetahuannya Fanya memang pernah bertemu Rose, namun istri dari sahabatnya itu tidaklah mengetahui nama Rose. “Aku tidak tahu apakah Delvin juga memberi tahunya, tapi menurutku aku adalah satu-satunya teman Delvin yang ia beri tahu mengenai pernikahan kalian.” Ucap Richard yakin. Dia berasumsi bahwa ada pertemuan lagi selain di mini bar antara Fanya dan Rose, sehingga Fanya bisa mengetahui nama Rose.


“Semoga saja.” Ujar Fanya penuh harap. Sungguh Fanya mengkhawatirkan perasaan Rose, ia yakin pasti perempuan itu akan terluka dengan pernikahannya. Sebab perempuan mana yang tidak sakit hati jika pria yang dia cintai menikahi wanita lain, sekalipun itu tidak berlandaskan cinta. Itulah mengapa Fanya sangat berharap Delvin merahasiakan hubungan mereka dari Rose.


“Apa kau sudah selesai membuat minumannya? Biarkan aku membantumu membawanya ke depan.” Pinta Richard menawarkan bantuan pada Fanya.


“Terimakasih, sedikit lagi ini hampir selesai. Pergilah lebih dulu, biar aku yang membawanya.” Ujar Fanya sopan.


“Baiklah.” Richard berlalu dari dapur menuju ruang tamu. Sebenarnya ia hanya beralasan ke kamar mandi, alasan sebenarnya memang ingin menemui Fanya sebab sedari tadi ia melihat ketidaknyamanan perempuan itu kala mendapati dirinya turut ikut menyambangi kediaman keluarga Albercio. Untuk itulah ia memberi tahu Fanya jika ia sudah mengetahui pernikahan perempuan itu, agar tidak ada kecanggungan di antara mereka.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


ig : @ceria_yuwandira