My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Delvin yang Penurut



Perhatian yang paling berarti adalah ketika kamu mau melakukan sesuatu yang tidak biasa menurut orang lain untuk sosok yang mereka anggap ‘kebahagiaan’ untukmu.


\~\~\~


Suara decak garpu dan sendok saling bersahutan di meja makan berbentuk bundar yang diisi oleh keluarga Albercio dan keluarga sang calon menantu—Valerie Jaynees.


Selesai menyantap makan malam tersebut, beberapa pelayan membersihkan meja kemudian menghidangkan dessert yang menjadi menu terakhir saat itu.


Jika tadi mereka makan tanpa berbincang, kali ini kedua keluarga tersebut mulai berbicara.


“Apakah tidak lebih baik setelah pertunangan, kalian segera melaksanakan pernikahan daripada menunggu dua tahun lagi?” Tanya Diego lebih dulu.


“Dad, itu akan membebani kami berdua. Daddy lihat sendiri, aku sedang sibuk-sibuknya mengurus perusahaan ditambah Valerie juga mau melanjutkan pendidikannya ke Kanada. Aku khawatir pernikahan kami tidak berjalan baik  karena tidak memiliki waktu satu sama lain.” Lagi-lagi David memberi pengertian kepada Ayahnya, walaupun sudah dari beberapa hari yang lalu ia menjelaskan alasan pernikahan mereka diadakan dua tahun mendatang.


“Kalau dari saya, apapun yang menjadi keputusan Valerie dan David saya akan mendukungnya.” Ujar James—Ayah Valerie.


“Mereka sudah dewasa, pastinya pilihan mereka sudah dipikirkan matang-matang.” Sonya—Ibu Valerie menimpali perkataan suaminya.


“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan yang kalian rundingkan bersama, Daddy juga menyetujuinya,” alasan David cukup masuk akal bagi Diego, karena setelah Delvin menikah ia tidak terlalu membebani putra keduanya itu dengan urusan perusahaan. “Lalu, apakah waktu satu minggu tidak terlalu cepat untuk mempersiapkan pertunangan kalian?” Kembali Diego bertanya.


“Rencananya pertunangan kami nantinya hanya mengundang kerabat dekat saja Dad, kami tidak mau berita pertunangan ini tercium media. Kami merasa tidak nyaman jika wartawan mempertanyakan perihal pernikahan kami yang terbilang cukup lama dilaksanakan. Aku tidak mau Long Distance Relationship yang kami jalani pasca pertunangan nanti memunculkan isu-isu negatif dalam hubungan kami.” Jelas David, sedari dulu dia memang sangat menjaga kehidupan pribadinya dari orang banyak, dia tidak mau hal privasinya menjadi konsumsi publik.


“Ya, ya Daddy sangat setuju dengan saranmu itu.” Diego menganggung-anggukkan kepalanya berkali-kali tanda ia menerima alasan sang anak.


Perbincangan terus berlanjut, dari yang membicarakan pertunangan hingga merembes ke masa kecil David dan Valerie.


Delvin dan Fanya sedari tadi tidak banyak berbicara, mereka kebanyakan diam dan sesekali tertawa kecil kala ada percakapan yang mengundang tawa.


Tiba-tiba sesuatu yang tidak nyaman Fanya rasakan di dalam perutnya, sebisa mungkin ia menahan nyeri yang semakin menjadi namun wajahnya tak bisa menutupi rasa sakit yang sedang terjadi.


“Wajahmu tampak pucat, apa kau sakit?” Tanya David yang tanpa sengaja melihat Fanya meringis menahan sakit.


Fanya menggeleng samar, “Aku hanya sedikit merasa lelah.” Ujarnya.


“Kau pucat sekali. Delvin bawa Fanya ke kamar.” Ucap Diego penuh khawatir. Ia segera memperhatikan wajah menantunya kala mendengar pertanyaan David tadi.


“Kau masih bisa berjalan?” Pertanyaan Delvin barusan membuat pria itu mendapat amukan dari Ayahnya.


“Apa matamu buta? Istrimu sudah sepucat itu tapi kau sempat-sempatnya bertanya dia bisa berjalan apa tidak.” Nada suara Diego meninggi memenuhi meja makan.


Delvin yang mengerti maksud Diego segera membawa Fanya ke dalam gendongannya menuju kamar miliknya.


Sesampainya di kamar, ia membaringkan tubuh Fanya di atas ranjang. Namun ia sungguh terkejut saat melihat bercak darah menempel di pergelangan tangannya.


“Ka—kau keguguran?” Tanya Delvin dengan mata yang membulat sempurna.


“Tidak, aku tidak keguguran,” sanggah Fanya cepat. “Aku sedang datang bulan, nyeri ini biasa kualami saat sedang datang bulan. Maaf sudah mengotori tanganmu.” Jelas Fanya.


Delvin semakin membeliakkan matanya, “Kau!! Kau tidak hanya mengotori tanganku tapi juga kasurku.”


“Maaf.” Ucap Fanya lirih.


Permintaan maaf Fanya dihiraukan Delvin, dia segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan bercak darah Fanya yang mengenai tangannya.


Berkali-kali Delvin menyabuni tangannya, setelah dirasa bersih, barulah ia meninggalkan kamar mandi itu.


“Delv, bisakah aku meminta bantuanmu?” Tanya Fanya dengan hati-hati pada Delvin yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Cepat katakan.” Ujar Delvin yang berdiri di sisi Fanya dengan kedua tangan yang ia taruh di saku.


“Tolong belikan pembalut untukku.” Pinta Fanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


“Apa?!! Kau menyuruhku membeli barang milik wanita itu, aku tidak mau.” Tanpa berpikir panjang Delvin menolak mentah-mentah permintaan Fanya.


“Apa kau seakarab itu dengan Richard sampai tidak malu menyuruhnya membeli pembalut untukmu?” Jika Delvin enggan membeli pembalut Fanya, ia pun enggan memberi nomor sahabatnya pada perempuan itu.


Fanya beranjak dari tempat tidur, ia mencoba berdiri menahan rasa nyeri yang masih menggerayangi perutnya.


“Kau mau kemana?” Tanya Delvin.


“Biar aku yang membelinya sendiri.” Ujar Fanya, dia tidak punya pilihan selain melakukannya sendiri.


“Kau mau keluar rumah dengan darah di gaunmu itu? Kau pikir orang-orang tidak akan menatap jijik ke arahmu,” tampak kerutan dalam di dahi Delvin, menatap heran Fanya. “Aku akan membelikannya untukmu.” Delvin segera berlalu keluar kamar.


Saat ia berjalan melewati ruang tamu, langkahnya terhenti oleh suara Ayahnya.


“Bagaimana keadaan Fanya?” Tanya Diego. Setelah selesai menyantap dessert mereka pindah ke ruang tamu agar lebih nyaman berbincang.


“Fanya hanya sakit perut biasa, Dad.” Ujar Delvin.


“Syukurlah, lalu kau mau kemana?” Diego yang melihat Delvin hendak keluar rumah bertanya pada putranya itu.


“Hmm, Fanya menyuruhku membeli sesuatu, aku pergi dulu.” Delvin segera beranjak keluar, dia khawatir Ayahnya akan bertanya dia mau membeli apa.


***


Beberapa pasang mata menatap Delvin yang sedang berdiri di hadapan rak berisi pembalut. Sungguh ia bingung harus membelikan pembalut seperti apa untuk Fanya.


Sampai seorang pegawai wanita di toko tersebut menghampirinya.


“Apakah ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tanya perempuan yang usianya kira-kira sama dengan Fanya.


“Uhmm, anu—tolong ambilkan pembalut yang paling nyaman dipakai.” Pinta Delvin menahan malu, sebab samar-samar ia mendengar bisikan dari beberapa pelanggan membicarakan dirinya.


“Dia suami yang romantis.”


“Huss, bisa saja dia membelikan untuk adik perempuannya.”


“Aku ingin memiliki pasangang seperti dia.”


“Selain tampan, sepertinya dia pria yang penurut.”


Tampak sang pegawai sedikit tersenyum yang juga turut mendengar bisikan dari pelanggan lain.


“Tuan memerlukan berapa bungkus?” Kembali pegawai itu bertanya pada Delvin.


“Cukup untuk sebulan.” Ucap Delvin cepat, sebab yang ia tahu perempuan akan mengalami datang bulan rutin dalam sekali sebulan, namun ia tidak tahu berapa hari lamanya proses itu berlangsung.


Sang pegawai memberi sebungkus pembalut isi dua puluh kepada Delvin, pria itu segera menerimanya dan berjalan menuju kasir.


Delvin segera berlalu meninggalkan mini market tersebut setelah selesai membayar barang yang ia beli. Sepanjang perjalanan pulang Delvin tak hentinya menggerutu akan sikap pelanggan ibu-ibu yang sedari tadi membicarakan dirinya dan menatap genit ke arahnya.


“Apa mereka gila? Sudah bersuami tapi masih saja mengagumi pria lain. Dan semua karena pembalut sialan ini, mereka berpikir aku pria romantis dan penurut.” Delvin menatap kesal ke arah pembalut yang ia letakkan di samping kursi pengemudi.


Sungguh ia merasa sial hari ini, diapun menambah laju mobilnya agar segera tiba ke rumah.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


ig : @ceria_yuwandira