My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Lamaran Jack



Keraguan sepertinya menjadi peringatan dari Semesta untuk kita yang (mungkin) sedang mengambil keputusan yang salah.


\~\~\~


Jack menggenggam jemari Fanya, ia mengelus punggung tangan perempuan itu kemudian merogoh sesuatu dari saku celananya.


“Aku sudah sangat yakin menjadikanmu pendamping hidupku Fanya,” Jack menjeda kalimatnya, ia menatap manik Fanya dengan lekat. “Maukah kau menikah denganku?” Ucapnya sembari membuka kotak berwarna merah berisi cincin yang ia pakai untuk melamar kekasihnya.


Beberapa saat Fanya membisu, ia tidak menyangka akan dilamar Jack, sedangkan tadi ia sempat berpikir akan mengakhiri hubungan mereka. Ia tak ingin melibatkan pria yang dicintainya itu dengan kehidupannya sekarang.


“Hei, are you okay?” Melihat Fanya yang tak berkutik membuat Jack khawatir lamarannya akan ditolak.


“Berikan aku waktu satu bulan Jack, aku—aku perlu mempertimbangkannya. Maksudku, aku harus memberi tahu kepada orangtuaku dan mendapat restu dari mereka. Aku juga ingin meyakinkan diriku bahwa aku sudah siap menjalani kehidupan menjadi istri dan kelak juga akan menjadi ibu.” Entah apa yang Fanya pikirkan, namun ia ingin memberi kesempatan kepada Jack dan juga hubungan mereka, sebab dengan pria itulah ia berharap akan menikah. Meskipun ia ragu dengan keputusannya, karena tidak menutup kemungkinan Jack mengetahui pernikahannya.


“Aku mengerti, tapi bisakah aku memasang cincin ini di jarimu?” Tanya Jack yang lagi membuat Fanya terdiam.


“Kau bisa melakukannya Jack.” Ucap Fanya, setelah seperkian menit membisu.


Jack meraih pergelangan tangan Fanya, mengecup punggung tangan perempuan itu kemudian menyematkan cincin yang ia genggam ke jari manis sang kekasih.


Rasa bersalah memenuhi hati dan pikiran Fanya, ia merasa sedang menghianati hubungan mereka yang sudah terjalin lama.


Cincin pernikahannya dengan Delvin sejak semalam sudah ia lepas, dia tidak ingin Jack maupun orang lain mengetahui pernikahannya. Sebuah kebohongan yang membuatnya merasa sakit.


“Jack, apapun yang terjadi besok maupun di masa depan, maukah kau berjanji akan selalu mempercayaiku?” Ucap Fanya lirih saat cincin pemberian Jack sudah melingkar di jari manisnya.


“Mengapa kau menjadi sangat melankolis sayang? Aku akan selalu mempercayaimu, se-la-lu.” Jack menekan kalimatnya untuk meyakinkan Fanya.


“Terimakasih Jack, terimakasih.” Fanya membalas genggaman tangan Jack dengan erat, ia berharap akhir dari hubungan mereka akan dipenuhi kebahagiaan.


Jack melonggarkan tautan tangan mereka, ia setengah berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke hadapan Fanya. Maniknya menatap lekat bibir merah muda perempuan itu, bibir yang selalu mencuri perhatiannya.


Tangan kanan Jack menangkup rahang Fanya, membuat perempuan itu sedikit mendongakkan kepalanya sehingga bibir mereka berjarak hanya beberapa senti saja, sangat dekat dan bahkan hampir bersentuhan.


Fanya tidak melakukan penolakan atas tindakan Jack yang akan menciumnya, ia merasa sudah seharusnya memberikan ciuman pertama untuk pria yang sudah menjalin kasih selama tiga tahun dengannya. Dulu, saat mereka baru tujuh bulan menjalani hubungan, pernah sekali Jack ingin menciumnya namun Fanya menolak dan semenjak penolakan itu, Jack tak pernah melakukannya lagi.


“Maaf, aku tidak sengaja.” Tampak seorang pria berjalan terburu-buru dan menabrak seorang waitress yang sedang membawa nampan berisi minuman.


Waitress tersebut hampir terjungkal, dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya namun sial minuman yang ia bawa terjatuh dari atas nampan dan mengenai meja tempat Fanya dan Jack berada.


Tumpahan air yang mengenai meja tersebut menghentikan niat Jack yang tinggal sedikit lagi menyentuh bibir ranum Fanya. (Sabar ya Jack, heheheh).


Jack terdengar menggerutu, tadi ia sempat melayang kala Fanya memejamkan mata untuk menyambut bibirnya.


“Bisakah kau berjalan dengan hati-hati, Tuan.” Ucap Jack sambil mendengus kesal kepada pria yang menabrak waitress tadi.


“Maaf sudah menganggu kencan romantis kalian, aku akan lebih berhati-hati.” Ujar pria itu sambil sedikit menunduk untuk meminta maaf.


“Delvin—“ Fanya bergumam dalam hati, maniknya membulat sempurna mendapati Delvin sedang meminta maaf kepada Jack. Jemarinya yang berada di bawah meja meremas kuat telapak tangannya, ia takut Delvin membongkar pernikahan mereka.


“Pergilah, kau mengacaukan semuanya.” Jack mengayunkan tangannya, isyarat untuk meminta Delvin meninggalkan meja mereka.


***


“Terimakasih Jack.” Ucap Fanya pada Jack yang membukakan pintu mobil untuknya.


“Sama-sama sayang, aku kembali ya.” Tangan Jack mengusap kepala sang kekasih, kemudian pamit untuk pulang.


“Hati-hati.” Ucap Fanya sembari melambaikan tangan kepada Jack yang berlahan melajukan mobilnya.


Jack mengantar Fanya ke rumah kontrakan perempuan itu, lagi-lagi Fanya harus membohongi kekasihnya.


Sesaat setelah mobil itu hilang dari jangkauannya, ia berjalan melewati gang tempat tinggalnya dulu untuk mencapai trotoar tempat dia akan memberhentikan taksi yang akan mengantarnya ke apartemen Delvin.


Saat tangannya melambai memberhentikan taksi yang lewat di depannya, bersamaan dengan itu pula sebuah mobil sport berhenti di hadapannya.


”Naiklah.” Ucap pemilik mobil yang tak lain adalah Delvin.


“Ka—kau,” Fanya terkejut melihat kehadiran Delvin yang secara tiba-tiba muncul di hadapannya. “Maaf pak, saya akan pulang dengannya.” Ucap Fanya kepada pemilik taksi yang beberapa saat sudah membuka jendela mobilnya sambil beberapa kali menghidupkan klakson dari kendaraan roda empat tersebut.


Pemilik taksi berlalu saat Fanya masuk ke dalam mobil Delvin.


“Kau mengikutiku?” Tanya Fanya curiga, pertemuan mereka di restoran tadi ditambah kemunculan Delvin kali ini sepertinya bukan suatu ketidaksengajaan.


“Hmm.” Delvin mengakui bahwa ia memang sengaja mengikuti Fanya.


“Kau mengatakan tidak akan peduli dengan hubungan kami.” Fanya merasa tidak terima sebab Delvin terkesan mencampuri urusan pribadinya.


“Memangnya aku terlihat sedang peduli dengan hubungan kalian?” Delvin tertawa menyindir sambil sedikit menaikkan laju kendaraannya.


“Lalu, apa tujuanmu mengikutiku?” Fanya tampak melayangkan tinju ke arah Delvin saat pria itu menoleh ke sisi kiri untuk membetulkan seat belt yang ia pakai. Fanya cukup kesal mendengar tawa Delvin yang seperti mengejek dirinya.


“Sepertinya kau jago bela diri.” Delvin dapat menangkap bayangan Fanya dari balik kaca mobil, kembali Delvin tertawa menyindir perempuan itu.


Dengan sendirinya wajah Fanya memerah seperti kepiting rebus akibat menahan rasa malu, entah ia terlalu polos atau bodoh membuatnya lupa jika malam hari kaca mobil tersebut pasti akan memantulkan bayangannya.


“Aku—aku hanya sedikit mengantuk.” Kilah Fanya sambil meregangkan kepalan tangannya ke atas disusul dengan mulutnya yang berpura-pura menguap.


“Benarkah? Apa mengantuk juga membuat wajahmu memerah?” Delvin tahu jika Fanya sedang berkilah untuk menutupi rasa malunya.


Dengan spontan kedua telapak tangan Fanya menyentuh pipinya, ia tak bisa membayangkan semerah apa wajahnya, sebab kulit tangannyapun terasa panas saat bersentuhan dengan pipinya.


Fanya hanya bisa menunduk sambil memainkan jari tangannya, karena dengan telak Delvin membuatnya tak berkutik.


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah bunga, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


Follow my ig : @ceria_yuwandira