
Sebaik apapun kita menyimpan rahasia kelak tidak akan menjadi rahasia. Sebab pekerjaan Bumi yang kita tinggali bukanlah untuk menutupi ‘hal’ yang sedang kamu sembunyikan.
\~\~\~
Waktu hampir menunjukkan pukul tujuh malam, tampak Fanya bergegas meninggalkan apartemen menuju Coffee Shop tempatnya bekerja paruh waktu. Ia menaiki bus nomor 34 yang akan membawa dirinya ke tempat tujuannya.
Jarak dari apartemen tempatnya tinggal hanya memakan waktu sekitar lima belas menit menuju Coffee Shop milik keluarga Albercio itu. Fanya berjalan menuju loker miliknya setelah beberapa menit menginjakkan kaki di Coffee Shop mewah tersebut, dia membuka pintu loker kemudian meletakkan tas sandang yang berisi pakaian gantinya ke dalam lemari kecil itu.
Segera Fanya keluar menuju meja pelanggan yang hendak memesan minuman, namun seorang barista memanggil dirinya.
“Fanya, tolong antar ini ke meja 07.” Ucap seorang pria pada Fanya.
Fanya mengangguk sembari mengambil nampan yang berisi empat Coffee dengan varian rasa yang berbeda. Dengan sangat hati-hati namun tidak membuat langkah Fanya melambat, ia berjalan menuju meja 07.
Manik Fanya sempat membulat kala mendapati orang yang berada di meja tersebut adalah Delvin bersama dengan beberapa temannya yang ia temui saat berada di minibar, kegugupan sempat menguasainya namun segera ia tepis sebab sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya melayani pelanggan yang mengunjungi Coffee Shop tersebut, termasuk Delvin yang adalah pemilik tempatnya bekerja.
“Selamat menikmati minumannya Tuan,” ucap Fanya pada dua orang pria yang tak lain adalah Delvin dan Michael. “Selamat menikmati minumannya Nyonya.” Lanjut Fanya pada dua orang perempuan yang tak lain adalah Rose dan Tasha. Fanya hendak berlalu, namun Rose meraih pergelangan tangannya.
“Maaf, bukankah kau teman Delvin yang ikut merayakan ulang tahunnya?” Tanya Rose. Dia sebenarnya masih mengenali wajah Fanya, hanya saja ia ingin memperjelas bahwa Fanya hanyalah seorang pelayan yang dipekerjakan Delvin, tidak lebih dari itu.
“Dia karyawan disini Rose, kemarin aku hanya memberinya tumpangan.” Jelas Delvin yang merasa gusar atas kehadiran Fanya.
“Hmm, tapi kalian terlihat akrab,” kegusaran Delvin berhasil dibaca Rose dari gerak tangan pria itu yang tidak berhenti mengetuk meja menggunakan jemarinya. “Bagaimana kalau kau ikut bergabung bersama kami?” Ajak Rose yang langsung ditolak Fanya.
“Maaf Nyonya, aku harus kembali bekerja.” Suasana saat ini benar-benar membuat Fanya canggung sekaligus memunculkan rasa gugupnya yang sempat hilang.
“Panggil aku Rose, aku merasa tua dipanggil Nyonya olehmu,” ucap Rose sambil tertawa. “Duduklah sebentar, aku ingin mentraktirmu segelas Coffee. Bisakan Delv?” Tanya Rose meminta persetujuan Delvin.
“Terserah padamu.” Delvin ingin menolak, namun ia khawatir akan menimbulkan kecurigaan dari teman-temannya.
“Duduklah disini, Delvin mengizinkanmu bergabung.” Rose manarik sebuah kursi kosong yang berada di belakangnya, kemudian menempatkannya di ujung meja berbentuk persegi tersebut, membuat Fanya duduk di antara Rose dan Delvin yang saling berhadapan.
Rose menekan sebuah tombol yang terletak di sisi meja untuk memanggil waitress yang segera datang menghampiri mereka.
“Kau ingin kopi jenis apa Fanya?” Tanya Rose pada Fanya yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
“Americano.” Ujarnya sambil dicatat sang waitress.
“Seleramu sama dengan Delvin.” Tampak ketidaksukaan di wajah Rose namun tersamarkan oleh senyum lebar yang bertengger di bibirnya.
“Itu hanya kebetulan Nyo—maksudku Rose.” Fanya tidak menyadari bahwa Delvin juga memesan minuman yang sama dengannya.
“Aku juga mengira seperti itu. Oh ya, perkenalkan ini Tasha dan Michael.” Rose mengalihkan topik pembicaraan, memperkenalkan teman mereka yang lainnya kepada Fanya.
“Fanya.” Ucap Fanya sembari mengulurkan tangan kepada mereka..
“Michael.”
“Tasha.”
Ucap mereka bergantian, sambil membalas uluran tangan Fanya.
Waitress yang tadi menghampiri meja mereka, kembali membawa segelas kopi milik Fanya.
“Kau memiliki kekasih, Fanya?” Tanyan Rose tiba-tiba, sebab sedari tadi ia sangat penasaran dengan cincin yang melingkar di jari manis Fanya.
Fanya cukup terganggu dengan pertanyaan Rose yang seperti mencari tahu kehidupan pribadinya, sedari tadipun ia sudah teramat tidak nyaman dengan permintaan perempuan itu yang mengajaknya untuk bergabung.
Fanya hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rose.
“Sepertinya kekasihmu baru saja melamarmu.” Tebak Rose yang lagi-lagi diangguki Fanya.
Rose semakin penasaran siapa sosok yang menjadi kekasih Fanya, bahkan melamar perempuan itu. Pikirannya menebak Delvin, namun ia kembali ragu, karena menurutnya itu mustahil dilakukan Delvin. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih spesifik tentang kekasih Fanya, tapi ia urungkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman pada Fanya.
“Kau terlalu ingin tahu dengan kehidupan peribadinya Rose.” Delvin pun merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Rose yang terkesan mengintrogasi Fanya.
“Aku tidak ikut campur Delvin, aku hanya ingin tahu pria beruntung mana yang berhasil memenangkan hati Fanya,. Tidakkah kau lihat, Fanya gadis yang cantik dan pekerja keras,” Rose menggantung kalimatnya, menatap lekat manik Delvin. “Lagian, kenapa kau keberatan dengan pertanyaanku, bahkan Fanya bersikap biasa saja—tidak biasanya kau seperti ini.” Lanjut Rose menyelidik. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Delvin selanjutnya.
Delvin tidak membalas ucapan Rose, dia diam menampilkan wajah datar yang sulit dibaca, ia sudah berusaha bersikap setenang mungkin, meski tadi sempat gusar melihat kehadiran Fanya.
Tidak ingin berlama-lama di antara teman-teman Delvin, dengan cepat Fanya meneguk minuman yang masih terasa panas di tenggorokannya hingga gelas itu menjadi kosong.
“Maaf, aku hanya pekerja paruh waktu disini, jika aku tidak melanjutkan pekerjaanku, aku tidak akan mendapat gaji malam ini. Aku izin pamit untuk kembali bekerja, terimakasih atas traktiranmu Rose.” Fanya beranjak dari duduknya dan sedikit menunduk untuk pamit.
“Hmm—kau terlalu terburu-buru Fanya, senang mengobrol denganmu.” Rose sedikit kesal sebab menurutnya Fanya seperti hendak menghindari perbincangan mereka yang membahas tentang hubungan personal perempuan itu.
Fanya berlalu meninggalkan ke empat orang itu untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
***
“Kenapa aku tidak melihatmu sedari tadi Kiara? Dan kau tidak memberi tahuku akan mengambil shift malam hari ini.” Tanya Fanya yang sedang membersihkan tumpukan gelas kotor menggunakan air yang sedang mengalir melalui kran westafel.
“Mungkin karna aku bekerja di lantai satu sedangkan kau bekerja di lantai dua, Fan. Tadi manager meneleponku untuk menggantikan seorang karyawan yang izin karena Ayahnya meninggal. Aku juga buru-buru berangkat kesini.” Jelas Kiara kepada sahabatnya itu.
Chofee Shop tempat mereka bekerja sudah tutup, hanya tinggal beberapa karyawan yang membersihkan gelas-gelas kotor dan merapikan meja-meja pengunjung.
“Selesai! Aku ke lantai dua dulu.” Ujar Fanya, dia hendak membersihkan lantai bangunan itu, walaupun sebenarnya bukanlah tugas Fanya, hanya saja ia ingin menambah penghasilan dari pekerjaannya itu agar mencukupkan tabungannya membeli hadiah ulangtahun Ibunya.
“Aku akan membantumu.” Ujar Kiara, pekerjaanya sudah selesai dan ia enggan pulang lebih dulu dari sahabatnya.
“Terimakasih Kiara, tapi pulanglah lebih dulu. Kau pasti lelah karena mengambil shift pagi dan malam.” Selain merasa tidak enak dibantu Kiara, Fanya juga menghindari pulang bersama sahabatnya itu, sebab arah tempat tinggalnya dulu sudah berbeda dengan yang sekarang.
“Kau terlalu sering menolak pertolongan yang kuberikan, biarkan aku membantumu malam ini.” Kiara memaksa untuk membantu Fanya, dia tidak merasa keberatan atau terbebani memberi sedikit tenaganya kepada orang yang sudah ia anggap seperti keluarga.
Di tengah perdebatan mereka, muncul seorang pria mencengkram tangan Fanya, lalu menariknya dengan paksa.
***
Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
Follow my ig : @ceria_yuwandira