
Hidup bersama untuk waktu yang lama tidak menjamin kita saling mengenal satu sama lain.
\~\~\~
Sinar matahari pagi berhasil menerobos celah di jendela kamar Delvin, pria itu berlahan mengerjapkan matanya. Saat maniknya terbuka sempurna, ia beralih menatap wajah Fanya yang masih tertidur.
“Apa sepanjang malam aku memeluknya seperti ini?” Gumam Delvin pelan, jika semalam tangannya ia taruh di atas perut Fanya, kini tangan tersebut melingkar sempurna di pinggang perempuan itu.
Berlahan Delvin mengurai pelukannya, ia masih saja memperhatikan wajah Fanya. Entah mengapa perasaan hangat memenuhi hatinya, sungguh lelap Fanya meneduhkan penglihatan Delvin. Perempuan itu tertidur seolah-seolah sedang tersenyum sehingga membuat Delvin nyaman menatapnya.
“Dia sedang tersenyum atau sedang tertidur?” Kembali Delvin bertanya untuk dirinya sendiri.
Suara ketukan pintu mengambil alih perhatian Delvin, dengan malas ia beranjak dari atas tempat tidur. Seorang pelayan wanita berdiri di hadapan Delvin saat pria tersebut membuka pintu kamar.
“Tuan, sarapan sudah siap. Tuan besar sedang menunggu kalian.” Ujar pelayan yang menjadi juru masak di Mansion mereka.
“Kami akan segera turun.” Ucap Delvin, sang pelayan sedikit menunduk untuk pamit pada Delvin.
Sepeninggal sang pelayan, Delvin menutup pintu kamar dan berjalan ke arah ranjang. Ia duduk di tepi tempat tidur berukuran *k*ing size itu.
“Fanya bangun, Daddy menunggu kita di bawah untuk sarapan bersama,” ujar Delvin sambil mengguncang pelan bahu Fanya. “Fanya—“ Ulangnya lagi kala tak berhasil membangunkan perempuan itu.
“Fan—Fanya, Fanya—“ Berkali-kali Delvin memanggil nama Fanya namun tidak mendapat respon dari perempuan itu. Bahkan dengan keras ia menggunjang tubuh Fanya tapi tak menimbulkan reaksi apapun.
Delvin menyentuh dahi Fanya yang terasa dingin, membuatnya menjadi sangat panik. Pikiran-pikiran negatif dengan sendirinya mucul dalam benak pria itu. Dengan sigap ia mengambil ponsel yang ia taruh di atas nakas, segera dia menghubungi Tom—dokter pribadi keluarga mereka. Menyuruh sang dokter untuk secepatnya datang ke rumah mereka.
Menunggu kedatangan Dokter Tom, Delvin masih setia memanggil nama Fanya sambil sesekali mengguncang bahu perempuan itu. “Fanya bangunlah, ini sudah siang. Kau tidur terlalu lama, apa kau tidah lapar? Fanya—” tanya Delvin frustasi. “Semalam sudah kukatakan untuk memanggil dokter tapi kau menolaknya. Kau sangat keras kepala dan selalu merepotkanku.” Ujar Delvin yang lagi tidak mendapat respon Fanya, ia masih berharap perempuan itu membuka matanya.
Jarak tempat tinggal Tom ke Mansion Albercio hanya sekitar setengah kilometer, membuat sang dokter tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai kesana.
Kehadiran sang dokter membuat seisi Mansion bingung, termasuk Diego dan David yang langsung mencecar Tom dengan banyak pertanyaan.
“Tom, tidak biasanya kau berkunjung pagi-pagi begini. Apa ada masalah dengan pekerjaanmu? Atau ada hal penting yang membuatmu datang?” Tanya Diego yang langsung disambung oleh David. “Apa ada seseorang yang sedang sakit di Mansion ini?” Tanya David.
“Ya, Delvin menghubungiku, katanya seseorang sedang sakit. Dia memintaku menemuinya di kamar miliknya.” Tom sama bingungnya dengan Diego dan David sebab kedua orang itu tidak mengetahui jika ada yang sedang sakit di Mansion mereka sendiri.
“Oh Tuhan, apa Fanya belum membaik juga? Delvin—anak itu,” geram Diego. “Ayo—ayo ke kamar Delvin.” Seru Diego yang langsung bergegas meninggalkan lantai dasar menuju lantai dua. David dan Tom menyusul langkah Diego yang berjalan sangat cepat.
Mereka mendapati Delvin sedang menyurai rambutnya dengan kasar, Delvin yang melihat kehadiran Tom sedikit merasa lega.
“Tom, tolong periksa dia.” Delvin berjalan menghampiri sang dokter yang masih berada di ambang pintu. Tom mengangguk dan melangkah mendekati Fanya yang masih terbaring kaku di atas ranjang.
Diego mencoba meredam amarahnya pada putra keduanya. “Daddy menunggu penjelasan darimu.” Ujar Diego pada Delvin.
Berbeda dengan David, sang kakak justru tak bisa menahan emosinya. Ia menarik pergelangan tangan Delvin, membawa pria itu sedikit menjauh dari kamar.
David mendorong tubuh Delvin ke dinding luar kamar, memberi bogeman keras ke wajah sang adik.
“Apa kau ingin membunuh Fanya hah? Kau sengaja membiarkannya menahan sakit sampai tidak sadarkan diri, bukan? Apa semalam kau berpura-pura baik untuk mengelabui kami? Kau mau dia mati, kau mau Fanya mati.” David menarik kasar kerah baju Delvin, menghentakkan tubuh sang adik ke dinding dengan sangat keras.
“Kak!!“ Delvin menepis tangan David yang masih memegang kerah bajunya, sungguh dia tidak terima dengan kalimat terakhir kakaknya. “Apa aku terlihat sebajingan itu? Aku tumbuh besar bersama kakak, tapi kakak tidak sedikitpun mengenalku. Aku memang membenci perempuan, namun nuraniku tidak mati kak. Aku tidak akan melakukan hal keji yang kakak tuduhkan padaku.”
Setelah hampir lima belas menit memeriksa Fanya, dokter Tom beralih kepada tiga pria yang menanti hasil pemeriksaan Fanya.
“Delvin, istrimu sepertinya sering menyantap makanan yang tidak sehat, menyebabkan ia mengalami nyeri yang luar biasa sakit di hari pertama menstruasi beliau. Tolong lebih memperhatikan pola makannya dan menghindari makanan cepat saji. Kondisinya baik-baik saja, dia hanya pingsan. Nanti aku akan menyuruh asistenku mengantar vitamin untuk ia konsumsi.“ Jelas dokter Tom pada Delvin, tadi Diego memberi tahu sang dokter jika Fanya adalah istri Delvin untuk itulah ia lebih menekankan perkataannya pada Delvin.
“Terimakasih dok.” Ucap Delvin, ia menarik nafas lega setelah mengetahui kondisi Fanya baik-baik saja.
“Sama-sama, saya pamit dulu.” Ujar dokter setelah ia memasukkan peralatan kesehatan yang ia pakai untuk memeriksa Fanya ke dalam tas hitam miliknya.
Sepeninggal dokter Tom, Diego mengajak Delvin ke ruang tamu untuk berbicara empat mata bersamanya.
“Ikut Daddy ke ruang tamu Delvin.” Ujar Diego dengan raut masam menatap putranya itu.
“Aku mau menunggu Fanya sampai siuman.” Delvin tidak mengindahkan perintah Ayahnnya, dia malah duduk di tepi ranjang tepat di sisi Fanya.
“Dad, biarkan Delvin disini menjaga Fanya.” Kali ini David membela sang adik, ia khawatir sang Ayah juga akan membabi-buta memaki Delvin tanpa lebih dulu bertanya secara baik-baik pada pria itu.
“Jika Fanya sudah sadar segera temui Daddy.” Diego lebih dulu meninggalkan kamar putra keduanya itu.
“Maafkan aku soal kejadian tadi.” David tak menunggu jawaban dari Delvin, diapun berlalu dan menutup rapat pintu kamar yang sedari tadi terbuka lebar.
Kamar yang beberapa saat tadi ramai kini menjadi hening, yang terdengar hanya deru nafas teratur dari Delvin dan Fanya.
Mata terpejam Fanya menjadi objek penglihatan Delvin, pria itu menanti-nanti indra penglihatan perempuan itu segera terbuka.
“Aku sudah mengatakan padamu, mie instan dan telur tidak akan baik untuk kesehatanmu jika kau mengonsumsinya setiap hari. Kau jatuh sakit karena kesalahanmu tapi aku yang mendapat amukan dari Dad Diego dan kak David. Kau harus bertanggung jawab pada memar di wajahku, pukulan kak David sangat sakit.” Ujar Delvin sambil menatap lekat Fanya, meskipun kalimat Delvin terdengar menyudutkan Fanya namun itu adalah caranya untuk menutupi rasa bersalah pada perempuan itu. Sungguh dia menyesal melarang Fanya memakan makanan miliknya waktu itu.
“Maaf.” Suara parau Fanya membuat Delvin tersentak. Beberapa menit lalu Fanya sudah tersadar, ia sengaja tidak membuka matanya untuk mendengar kalimat yang Delvin ucapkan barusan.
“Kau mendengar apa yang kukatakan?” Tanya Delvin dengan berkali-kali membeliakkan matanya. Fanya yang tersadar secara tiba-tiba membuatnya terkejut setengah mati.
Fanya mengangguk pelan sambil berusaha membuka matanya dengan sempurna, sebab penglihatannya sedikit kabur oleh cahaya matahari yang menerobos jendela kamar Delvin.
“Baguslah aku tidak harus mengulangnya lagi,” ucap Delvin sambil memalingkan wajahnya yang sedari tadi menghadap Fanya. “Apa perutmu masih sakit?” Tanyanya tanpa melihat ke arah Fanya.
“Sudah tidak sakit lagi.” jawab Fanya, dia melihat tanda memar di pelipis Delvin yang menurutnya akibat pukulan sang kakak. “Aku akan mengobati lukamu.” Ujar Fanya yang hendak beranjak dari tempat tidur namun ditahan Delvin.
“Tidak perlu,” tolak Delvin. “Kau berganti pakaian dulu, setelah itu aku akan memanggil pelayan mengantar sarapanmu.”
Fanya yang kebetulan merasa lapar pun tak kuasa membantah perkataan Delvin. “Setelah sarapan aku akan mengobati lukamu.” Seru Fanya sambil melangkah ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
***
Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira