My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Kejujuran Fanya



Kejujuran pasti kadang menyakitkan, namun ia akan selalu meninggalkan kelegaan dan membuatmu mendapat ketenangan. Sebab dihantui rasa bersalah yang tak kelihatan sepertinya jauh lebih menyeramkan daripada mengatakan sebuah kejujuran.


\~\~\~


Malamnya, Fanya meminta Jack untuk datang ke rumah Kiara. Lebih cepat membicarakan perihal hubungannya dengan Delvin pada kekasihnya itu menurutnya akan jauh lebih baik.


“Sayang, kenapa tiba-tiba mengajakku bertemu disini?” Ujar Jack yang baru saja sampai di rumah Kiara.


“Hmm, aku—aku ingin membicarakan sesuatu yang serius padamu.” Kegugupan tampak dari raut Fanya, bahkan lidahnya terasa tercekat untuk berkata-kata.


“Bukankah kita bisa membicarakannya di rumahmu atau di tempat lain.” Meskipun Kiara sudah masuk ke dalam kamar, Jack merasa kurang nyaman berada di kediaman perempuan itu, selain karena ia tidak terlalu dekat dengan Kiara, Fanya juga sebelumnya tidak pernah mengajaknya bertemu di rumah sahabat dari kekasihnya itu.


“Kebetulan malam ini aku mau menginap disini Jack. Tapi, jika kau merasa kurang nyaman, kita bisa berbicara di taman.” Ajak Fanya yang melihat ketidaknyaman dari Jack.


“Ya, lebih baik kita kesana.” Jack menyetujui ajakan Fanya. Mereka pergi meninggalkan kediaman Kiara menuju taman yang tidak jauh dari rumah perempuan itu.


Dua sejoli itu duduk bersebelahan di bangku taman yang kebanyakan di kunjungi oleh para remaja dan juga orang dewasa yang sedang memadu kasih.


“Katakan sayang, apa yang membuatmu memintaku datang kesini?” Tanya Jack yang sedari tadi sudah dilanda penasaran.


Fanya menarik nafas dalam, kemudian mengembuskannya secara berlahan. Ia sedang mengumpulkan keberanian untuk menceritakan semuanya pada Jack.


“Kau pernah berjanji akan selalu mempercayaiku,” lagi Fanya menghela nafas dengan berat, membuat kalimatnya sejenak terjeda. “Kumohon, berjanjilah sekali lagi padaku Jack.” Fanya menatap lekat manik Jack untuk melihat kesungguhan dari perkataan pria itu.


“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Fanya yang berkali-kali memintanya berjanji untuk mempercayai perempuan itu membuat Jack berpikir bahwa ada sesuatu dari hubungan mereka yang ditutupi Fanya.


Jika tadi Fanya menatap Jack dengan berani, kali ini ia menunduk oleh pertanyaan pria itu.


“Mengapa begitu sulit mempercayaiku? Tidakkah cukup sekali aku berjanji padamu? Tapi karena kau memintanya, aku berjanji akan selalu mempercayaimu Fanya, se—la—lu.” Jack menekan kalimatnya, tangannya sedikit mengangkat dagu Fanya agar perempuan itu tidak menunduk dan kembali menatapnya.


“Jack—“ Fanya tak sanggup membendung cairan yang sedari tadi menumpuk di pelupuknya, sungguh sangat sulit baginya untuk menceritakan semuanya pada Jack.


“Sayang, it’s okay. Kalau kau belum siap bercerita padaku, kau tidak harus melakukannya malam ini.” Jack mengusap air mata yang membasahi pipi Fanya, mengecup kening perempuan itu untuk memberi ketenangan.


Fanya menggeleng. “Aku tidak sanggup lagi menyembunyikannya terlalu lama darimu Jack,” ujar Fanya. Dia teringat pesan Kiara, bagaimana jika Jack mengetahuinya dari orang lain? Tentu akan sangat menyakitkan untuk pria itu.


“A—ku, aku sudah menikah Jack.” Kalimat singkat yang Fanya ucapkan barusan membuat Jack terkesiap seketika.


“Sayang, kau sedang bercanda 'kan?” Ucap Jack sambil tertawa kecil. Dia menolak kebenaran dari perkataan Fanya, walaupun ia menangkap kejujuran dari kekasihnya itu.


Sungguh, sangat sulit bagi Jack untuk mempercayai perkataan Fanya apalagi menerima fakta bahwa sang kekasih sudah menikah sedangkan ia baru saja melamar perempuan itu.


“Katakan—katakan padaku apa yang terjadi, apalagi yang tidak kuketahui? Siapa pria itu? Kau—sejak kapan Fanya?” Jack tak memalingkan pandangannya dari Fanya, ia menatap wajah perempuan itu dengan intens dan membuatnya semakin yakin jika Fanya tidak sedang mengajaknya bercanda, sebab tadi ia sempat berpikir jika dirinya mungkin sedang dikerjai.


Dengan bibir yang bergetar bercampur air mata yang sedari tadi membanjiri wajah Fanya, ia menceritakan kronologi pertemuan dirinya dan Delvin hingga berujung ke pernikahan.


“A—pa, apa kau ingin mengakhiri hubungan kita? Kau ingin mengembalikan cincin yang kuberikan padamu?” Ucap Jack lirih, kejujuran Fanya sungguh membuat hatinya hancur.


Fanya menggeleng cepat. “Kami sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini Jack, dia juga mengatakan akan segera menceraikanku melalui foto ini,” Fanya memberikan foto saat dirinya hendak berciuman dengan kekasihnya itu. “Pria yang menabrak waitress di malam kau melamarku bernama Delvin, dia adalah orang yang menikahiku. Dia mengambil foto kita diam-diam.” Jelas Fanya.


“Pria itu—“ Jack mengingat betul pria yang menggagalkan ciumannya kala ia melamar Fanya. “Dia menuduhmu seolah-olah selingkuh denganku?” Tanya Jack yang mulai mengerti maksud Fanya.


Fanya mengangguk membenarkan pertanyaan Jack. “Pernikahan kami baru seumur jagung, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada orangtuaku jika Delvin menceraikanku. Mereka akan menyalahkanku dan juga dirimu Jack.”


“Aku akan menemuinya dan berbicara langsung pada pria itu.” Ucap Jack sambil mengepal kedua tangannya. Ia tidak terima disebut sebagai orang ketiga, sebab Delvinlah perusak hubungan dirinya dan Fanya.


“Ta—tapi, aku tidak tahu apakah dia sudah melakukan ‘itu’ padaku, aku sangat takut jika tiba-tiba aku mengandung anaknya, aku takut.” Sejujurnya, setiap hari yang dilalui Fanya selalu dipenuhi dengan kekhawatiran. Bayangan dirinya yang tidur bersama Delvin hingga ketakutan mengandung anak dari pria itu tidak bisa ia tepis dari pikirannya.


“Maafkan aku—maafkan aku yang tidak menjemputmu, kejadian buruk yang menimpamu juga tak lepas dari kesalahanku yang tidak datang malam itu,” Jack menangkup kedua pipi Fanya, menatap lekat manik yang masih terurai air mata. “Aku akan bertanggung jawab, apapun yang terjadi padamu, aku akan bertanggung jawab Fanya. Aku tidak peduli jika kau mengandung atau tidak mengandung anak pria itu.” Tangan yang tadi menangkup pipi Fanya beralih mendekap tubuh perempuan itu. Jack mengusap lembut punggung Fanya, membuat sang kekasih semakin terisak di dalam pelukannya.


“Terimakasih Jack, terimakasih.” Kalimat itu tak hentinya Fanya ucapkan.


Kejujuran Fanya barusan memberi kelegaan pada perempuan itu, ditambah Jack yang mempercayainya bahkan tidak sedikitpun menyalahkan dirinya membuat Fanya semakin yakin bahwa mereka akan mampu melewati lika-liku dari perjalanan cinta mereka.


Cukup lama, sepasang kekasih itu masih betah menautkankan tubuh mereka. Fanya menyandarkan kepalanya ke pundak Jack, sesekali pria itu mengecup keningnya. Kini kebisuan menemani kebersamaan mereka, hanya deru nafas yang saling bersahutan terdengar mengisi keheningan disana.


“Sayang, disini semakin dingin. Kita kembali ke rumah Kiara, nanti kau sakit.” Jack berlahan melonggarkan pelukannya yang sedari tadi mendekap erat pinggang Fanya.


“Hmm, sebenarnya aku masih sangat ingin berlama-lama disini, tapi Kiara mungkin akan mengkhawatirkanku.” Dengan malas, Fanya beringsut dari dudukannya. Mereka mengurai tubuh yang saling bertaut tadi untuk kembali pulang, meninggalkan taman.


***


Jangan lupa berikan like, komen dan vote ya di setiap tulisan Author, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


ig : @ceria_yuwandira