
Kebahagiaan dan kesedihan akan selalu berjalan bersisian. Kala senja kau tertawa dan saat malam menitikkan air mata. Keduanya bahkan bisa terjadi di hari yang sama, hanya waktunya saja yang berbeda.
\~\~\~
Delvin dan Fanya sampai di Apartemen tepat dipukul duabelas malam, Fanya segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan juga mengganti pakaiannya.
Saat keluar dari kamar mandi, Fanya menemukan Delvin tertidur di atas sofa.
"Kenapa dia tidak mengganti pakaiannya dulu?" Ujar Fanya pelan, dia melepas sepatu yang masih terpasang di kaki pria itu kemudian berlalu ke kamar untuk mengambil selimut dan bantal.
Fanya enggan membangunkan Delvin, karena dia pikir pria itu pastilah sangat lelah. Dia membalut tubuh sang suami dengan selimut yang baru Fanya bawa dari dalam kamar.
Sama seperti Delvin, Fanyapun membaringkan tubuhnya di sofa yang berbeda dengan sang suami. Meja yang berada di ruang tamu menjadi jarak di antara mereka.
***
Malam berganti pagi, Fanya terbangun namun tanpa Delvin. Dia tidak lagi melihat pria itu di sofa yang bersisian dengannya. Awalnya Fanya pikir Delvin sudah berangkat ke kantor, namun sebuah memo yang terletak di meja memberi jawaban untuk perempuan itu.
Aku ada pekerjaan ke luar kota dan akan kembali saat pertunangan kakak nanti. Aku meninggalkan sejumlah uang di nakas tempat tidur untuk keperluan memasakmu. Dan terkait perceraian kita, aku sudah meminta Richard untuk mengurusnya. Isi pesan Delvin untuk Fanya.
Ada gelanyar aneh di hati Fanya yang sulit diartikan perempuan itu kala membaca pesan dari Delvin.
"Dia bahkan tidak menjelaskan mengapa menciumku dan malah pergi tanpa berpamitan padaku. Dia bisa membangunkanku, kenapa malah membuat pesan seperti ini." Seru Fanya sedikit berteriak, dia tidak bisa menutupi rasa sedih dan juga marah yang tiba-tiba muncul di benak perempuan itu.
"Pekerjaannya jauh lebih penting dibanding menghabiskan waktu seminggu bersamaku sebelum perceraian kami." Fanya sempat berharap, sebelum bercerai dengan Delvin, dia ingin meninggalkan kenangan baik bersama pria itu. Namun kepergian Delvin hari ini sepertinya akan membuat mereka menjadi orang asing di masa depan nanti.
Manik Fanya penuh oleh cairan bening yang tertahan di pelupuk perempuan itu. Dia menarik nafas dalam untuk menetralkan emosinya yang hadir tanpa alasan.
***
Uang yang ditinggalkan Delvin dipakai Fanya untuk membeli daging dan beberapa sayuran. Dia mengingat betul isi note yang pernah Delvin tingggalkan di meja makan, pria itu melarangnya memakan mie instan.
"Jika aku sakit, dia akan mendapat pukulan dari Dad Diego dan Kak David. Aku akan lebih menyayangi tubuhku." Ujar Fanya sambil mengiris bawang bombai yang ia taruh di atas talenan. Sedari tadi Fanya tak henti-hentinya membicarakan Delvin seorang diri.
Fanya mengambil ponsel tersebut dari atas meja ruang tamu kemudian mengangkat panggilan yang sudah dua kali menghubungi nomor perempuan itu.
"Hallo Richard." Sapa Fanya pada sekretaris Delvin.
"Fanya, kau di Apartemen? Delvin... Delvin kecelakaan." Suara Richard terdengar parau, seperti orang yang sedang menangis.
"Kecelakaan? Dia sedang di rumah sakit mana? Kirimkan aku alamatnya Richard, aku mau menjengungnya." Tangan Fanya bergetar mendengar kabar dari Richard.
"Dia tidak di rumah sakit Fan, pesawat yang ditumpangi Delvin hilang kontak saat keberangkatan menuju Marseille, aku akan ke bandara sekarang. Jika kau di Apartemen, tunggu aku di halte, aku akan menjemputmu disana." Kalimat Richard membuat lutut Fanya melemas, kakinya tak sanggup menopang tubuhnya, dia terduduk di lantai bersama air mata yang mengalir deras membasahi pipi perempuan itu.
"Aku di Apartemen." Ujar Fanya pelan, bahkan hampir tidak terdengar.
Richard memutus sambungan teleponnya.
Tak ingin berlama-lama, Fanya bangkit dari duduknya. Dia berjalan meninggalkan Apartemen menuju halte dengan air mata yang masih terurai.
Mobil sedan yang dikendarai Richard tiba di halte saat Fanya hendak mendudukkan tubuhnya ke bangku yang ada disana.
"Masuklah." Ujar Richard, dia membuka sebelah kaca mobilnya. Melihat kehadiran Richard, Fanya melangkah cepat membuka pintu mobil pria itu.
Mobil tersebut melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Kedua orang yang sedang dirundung kesedihan itu membisu tak saling menyapa, yang terdengar hanya isak tangis dari Fanya. Pandangannya menatap kosong ke jalananan yang mulai ramai, berbanding terbalik dengan perasaannya yang terasa lengang.
***
Jangan lupa berikan like, komen dan vote ya di setiap tulisan Author, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira