
Kejujuran hati : Tidak akan bisa mencintai dua orang berbeda di waktu yang sama.
\~\~\~
Fanya dapat merasakan ibu jari Delvin menempel di bibir perempuan itu sebagai pembatas agar mereka terlihat seperti berciuman tapi dengan bibir yang tidak saling bersentuhan. Meskipun begitu, debaran dada Fanya belumlah kembali normal, sebab bibir mereka yang nyaris tak berjarak membuatnya menahan nafas dengan berat. Namun ia sedikit lega, karena perkataan Delvin yang beberapa saat tadi mengatakan tidak akan menciumnya ditepati oleh pria itu.
Manik Fanya masih tetap terpejam, berbeda dengan Delvin. Pria itu tetap membuka matanya, menatap intens wajah sang istri. Namun seseorang yang berdiri di samping panggung menarik perhatian Delvin, sejenak dia mengalihkan pandangan pada sosok itu.
“Tetap pejamkan matamu.” Ujar Delvin pelan sambil sebelah tangannya menarik pinggang Fanya, membuat tubuh mereka benar-benar bertaut sempurna. Dia melepas ibu jarinya untuk berpindah ketengkuk belakang sang istri bersamaan dengan sebuah ciuman yang mendarat di bibir ranum perempuan itu.
Kali ini Fanya tidak mengindahkan perkataan Delvin, sebab bibir sang suami yang menyentuh bibir merah mudanya, membuatnya secara reflek membuka mata.
Seperti orang yang terkena sengatan listrik, Fanya diam membeku dengan bola mata yang terbuka lebar. Perempuan itu seperti kehilangan seluruh tenaganya, bahkan untuk mengedipkan indra penglihatannya saja dia tidak mampu lagi.
“Pejamkan matamu.” Ulang Delvin yang semakin memperdalam ciumanya. Suara Delvin seperti mengembalikan kesadaran Fanya yang sedang shock. Dia mendorong tubuh sang suami dengan kedua tangan yang ia taruh di dada pria itu.
Tenaga Fanya yang tidak seberapa tak mampu melepas tautan bibir mereka, justru Delvin semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri. Fanya yang tidak berhasil mendorong Delvin hanya bisa pasrah dengan perbuatan pria itu.
Delvin menghentikan ciumannya untuk meraup oksigen agar menetralkan deru nafasnya. Fanya pikir pria itu sudah berhenti menciumnya, namun lagi Delvin membenamkan bibirnya. Dengan sangat lembut Delvin menyusuri bibir sang istri namun terkesan menuntut.
Entah mengapa Fanya seperti terpesona dengan cara Delvin barusan, matanya yang tadi terbuka kini terpejam menikmati perlakuan sang suami. Meskipun begitu, dia tetap tidak membalas ciuman yang diberikan Delvin.
Ciuman yang berlangsung cukup lama terhenti kala mereka hampir kehabisan nafas. Deru nafas memburu dari Delvin dan Fanya terdengar saling bersahutan, debaran dada mereka berdetak sangat kencang seolah-olah mengikuti irama nafas mereka.
“Maafkan aku.” Ujar Delvin, sebelah tangannya mengusap pipi sang istri dan memberikan kecupan singkat di kening perempuan itu yang lagi membuat Fanya terkesiap. Wajah perempuan itu secara natural memerah menahan malu atas perlakukan Delvin.
Suasana di restoran menjadi hening menyaksikan sikap Delvin yang terlihat sangat menyayangi istrinya.
“*So sweettt!!!*.”
“Akujadi merindukan suamiku.”
“Pasti mereka jarang bertengkar.”
Bisik-bisik itu terdengar dari bangku pelanggan.
“Berikan tepuk tangan kepada pasangan yang sangat romantis ini, Tuan Delvin Albercio dan Nyonya Fanya Clarance.” Seru sang MC yang kembali naik ke atas panggung.
Suara tepuk tangan kembali terdengar, jauh lebih riuh dari yang sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, sang MC mempersilahkan Delvin dan Fanya untuk meninggalkan panggung.
***
Tangan Delvin menggenggam pergelangan sang istri, membawa perempuan itu berjalan ke parkiran. Seseorang datang menghampiri mereka, mencoba melerai genggaman tangan Delvin namun tidak berhasil.
“Jack!” Seru Fanya terkejut melihat kehadiran kekasihnya.
Jack sekilas menatap Fanya, kemudian beralih pada Delvin yang masih tetap menggenggam pergelangan tangan perempuan itu. Sebuah tinju hendak dilayangkan Jack ke wajah pria itu, namun Delvin segera menghindar.
Pukulan Jack yang melayang di udara membuat tubuhnya sedikit terhuyung. Delvin menarik sudut bibirnya, terkesan seperti mengejek Jack yang hampir terjatuh.
“Kau terlalu berani mencium kekasih orang lain.” Ujar Jack sambil menegakkan tubuhnya, dia menatap tajam manik Delvin. Jack tak terima melihat kekasihnya dicium oleh pria lain.
“Dia istriku, apa ada masalah dengan itu?” Sosok yang dilihat Delvin di samping panggung tadi adalah Jack dan entah mengapa keberadaan Jack yang manyaksikan kebersamaan dirinya dan Fanya membuat pria itu mengambil inisiatif untuk mencium sang istri.
Pandangan Fanya yang sedari tadi menatap Jack beralih ke wajah sang suami, sungguh sikap Delvin berubah hampir 180 derajat, meninggalkan pertanyaan untuk perempuan itu. Bermula dari ciuman tadi dan kali ini Delvin dengan tegas mengakuinya istri di hadapan Jack membuat Fanya semakin bingung.
“Cuiihh,” Jack meludah mendengar kalimat Delvin barusan. “Sejak kapan kau mengakuinya istri?” Sarkas Jack, sebab yang ia tahu Delvin sama sekali tidak menyukai Fanya, apalagi mencintai perempuan itu.
“Terlepas aku mengakuinya atau tidak, dia tetaplah istriku. Tentu aku berhak menciumnya,” Kalimat Delvin sejenak terjeda, ia memindahkan tangannya ke kejemari Fanya. Menggenggam erat telapak tangan perempuan itu dan mengangkatnya sedikit ke atas. “Tapi kau, kau tidak memiliki hak bahkan untuk sekedar keberatan atas ciumanku tadi.” Lanjut Delvin yang semakin memantik amarah Jack.
Tak tinggal diam, sekuat tenaga Jack hendak melayangkan bogeman keras ke wajah Delvin namun tertahan oleh tubuh Fanya yang langsung berpindah ke hadapan pria itu.
“Kau salah paham.” Ujar Fanya sambil tangannya menarik pergelangan tangan Jack, membawa pria itu sedikit menjauh dari Delvin.
Jack menepis tangan Fanya, mereka berhadapan di balik mobil sedan milik orang lain yang sedang terparkir.
“Kau mulai mencintainya bukan? Kau mencintai pria brengsek itu, kau sudah jatuh cinta padanya.” Nada suara Jack yang terdengar marah, mendominasi parkiran restoran itu.
“Kau hanya salah paham Jack.” Ujar Fanya membantah apa yang dikatakan Jack.
“Salah paham? Katamu salah paham,” Jack menyeringai. “Aku melihat bagaimana kau sangat menikmati ciuman pria itu.” Lanjutnya.
“Aku sama sekali tidak membalas ciumannya. Lagi, ciuman itu bukan atas keinginan kami. Itu adalah hukuman karena kami tidak menghabiskan makanan berdiskon yang kupesan.“ Jelas Fanya, meskipun dia masih bingung mengapa Delvin menjauhkan ibu jarinya dari bibir perempuan itu.
“Meskipun itu hanya sebuah hukuman bukan berarti kau harus menerimanya. Bahkan kita yang sudah berpacaran tiga tahun belum pernah sekalipun aku menyentuh bibirmu. Jangan bilang itu menjadi ciuman pertamamu.” Emosi Jack tak kunjung surut.
Perkataan Jack bak pukulan telak untuk Fanya, dia tak bisa mengelak perkataan sang kekasih, sebab ciuman tadi adalah benar yang pertama untuk perempuan itu.
Diamnya Fanya menjadi jawaban untuk Jack. “Aku sudah yakin itu adalah ciuman pertamamu.”
Jarak Delvin tidak terlalu jauh dari sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu dan dia masih bisa menangkap pembicaraan mereka. Delvin tersenyum samar mengetahui ciuman tadi adalah yang pertama untuk Fanya, dia menyesal karena semalam berpikir jika Jack pasti sudah pernah bercumbu dengan sang istri.
“Ini juga yang pertama untukku.” Batin Delvin, entah mengapa dia merasa senang mendengarnya.
“Maafkan aku Jack, semua ini adalah kesalahanku. Aku yang memaksa Delvin memesan makanan berdiskon tadi.” Ucap Fanya lirih.
“Sepertinya kau semakin akrab dengan pria itu, kalian terlihat sudah biasa makan malam berdua di luar.” Tebak Jack masih dengan raut marah menatap Fanya.
Fanya menggeleng cepat. “Kami tidak ada merencanakan ini sebelumnya Jack. Mungkin kami terlihat akrab di matamu, tapi percayalah dia masih sangat asing untukku, pun dia yang menganggap aku begitu.”
“Lalu kau pikir dengan kalian yang semakin akrab tidak akan menumbuhkan rasa nyaman dan membuatmu lambat laun mencintai pria itu.” Ujar Jack, tak berhenti menyudutkan Fanya.
“Aku hanya merasa bersalah padanya. Dia bertengkar hebat dengan Ayah mertuaku, dia bahkan harus menanggung pukulan karena kesalahanku,” Fanya sejenak terdiam, bayangan saat Ayah mertuanya menghantam keras wajah Delvin terlintas di pikiran perempuan itu.
“Aku sudah memintanya untuk segera menceraikanku dan dia menyetujuinya. Seminggu setelah pertunangan kakak iparku, kami akan bercerai Jack.” Jelas Fanya.
“Baguslah, dengan begitu aku bisa lebih cepat menikahimu. Setelah kalian bercerai, aku akan langsung ke Dinan meminta restu orang tuamu dan berterus terang pada mereka tentang hubungan kita yang sebenarnya, aku yakin mereka tidak akan menentang pernikahan kita setelah tahu cerita yang sebenarnya.” Kesempatan tersebut pastinya tidak akan disia-siakan Jack, sebab sudah dari tahun lalu dia ingin melamar Fanya.
Percakapan Fanya dan Jack barusan berhasil memudarkan senyum Delvin yang sempat bertengger lama di bibir pria itu.
“Ternyata Fanya sudah memberi tahu kekasihnya tentang pernikahan kami.” Gumam Delvin.