
Dua pilihan yang sering membuat dilema seseorang yang sedang jatuh cinta adalah mengungkapkan atau memendam.
\~\~\~
Rose sengaja mendatangi aparteman Delvin untuk memastikan jika Fanya sepertinya memiliki hubungan yang lebih dari seorang kekasih pada pria yang selama ini dicintainya dalam diam. Dan keberadaan Fanya di apartemen Delvin cukup memberikan jawaban untuknya.
"Si-silahkan masuk." Ujar Fanya terbata. Dia memberi ruang pada Rose agar tamu yang tidak mereka undang itu masuk.
"Apa Daddy sudah datang?" Tanya Delvin, suara Fanya yang mempersilahkan seseorang masuk terdengar pria itu yang ia pikir Ayahnya. Dia baru saja keluar dari kamar setelah selesai membersihkan diri.
"Maksudmu Paman Diego?" Ujar Rose sambil melenggang masuk menyahuti pertanyaan pria itu.
"Rose..." Delvin tersentak melihat keberadaan Rose.
"Aku kemari ingin memberikan ini padamu, Sekalian mengajakmu makan malam." Tangan Rose mengangkat bingkisan berisi arloji yang ia beli tadi untuk Delvin.
"Aku tidak bisa makan malam diluar." Tolak Delvin, dia sekilas menatap Fanya yang menunduk sambil menautkan kedua tangannya.
"Kalau begitu kita makan malam disini." Rose mengeluarkan dompet dari dalam tasnya kemudian mangambil beberapa lembar uang.
"Fanya, kemarilah." Panggil Rose. Fanya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu mendekat.
"Belikan *s*teak premium ke supermarket dan juga minuman bersoda. Kami ingin makan malam berdua bersama Delvin disini." Ujar Rose sambil menyodorkan uang yang diambilnya tadi ke tangan Fanya.
"Rose, bicaralah yang sopan!!" Cara Rose memerintah Fanya tak bisa diterima Delvin.
"Selain di Coffee Shop, bukankah dia merangkap jadi pelayan di Apartemenmu? Sangat wajar kalau aku menyuruhnya, itu sudah menjadi pekerjaannya. Lagi, bagian mana dari perkataanku yang tidak sopan? Aku tidak ada memakinya atau membentaknya." Rose membela diri. Dia sengaja memancing Delvin, apakah sikapnya barusan akan menyulut amarah pria itu?
"Rose!!" Suara Delvin mengudara bersama emosinya yang meluap-luap. Perkataan Rose yang ditujukan pada Fanya, rasanya menyakiti hati pria itu.
Rose tersenyum miring, selama dia mengenal Delvin, baru kali ini pria itu meneriaki namanya.
"Aku akan membelinya." Untuk menghindari pertengkaran, Fanya memilih pergi namun langkahnya terhenti oleh kehadiran Diego dan David.
"Daddy bahkan belum menekan belnya nak." Ujar Diego tersenyum pada menantunya yang sudah lebih dulu membuka pintu.
"Ta-tadi aku mendengar langkah kaki, kupikir kalau bukan Richard pasti Daddy dan Kak David yang datang. Makanya aku segera membukanya." Ujar Fanya gugup, dia langsung menjabat tangan sang Ayah mertua dan kakak iparnya itu.
"Apa kami akan tetap berdiri di luar?" Tanya David bergurau.
"Ohh, Maaf.. silahkan masuk Dad, kak David juga." Ujar Fanya. Akibat rasa gugup tadi, membuat perempuan itu lupa untuk mempersilahkan Diego dan David masuk.
Mereka bertiga berjalan ke ruang tamu, disana sudah ada Rose dan Delvin. Mendengar kehadiran Daddy dan juga kakaknya, Delvin meminta Rose untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Kau disini juga nak?" Tanya Diego pada Rose yang duduk berhadapan dengan putra keduanya.
"Iya Paman." Jawab Rose berusaha tersenyum, sebab sedari tadi pikiran dan hati perempuan itu sudah tidak tenang.
"Berarti kita tinggal menunggu Richard," sejenak Diego sedikit menurunkan kacamata yang selama ini membantu penglihatan pria itu ke pangkal hidungnya. "Padahal Daddy sudah sangat ingin memakan masakanmu nak." Lanjut Diego, beralih melihat ke arah menantunya yang duduk tepat di samping Delvin.
"Daddy bi-bisa makan lebih dulu." Sungguh Fanya semakin gugup memanggil Ayah mertuanya dengan sebutan 'Daddy' di hadapan Rose.
"Kalau Daddy makan lebih dulu, Daddy tidak akan menyisakan untuk kalian." Ujar Diego tersenyum lebar.
Percakapan Diego dan Fanya seakan membenarkan dugaan Rose, bahwa Fanya sudah menjadi anggota keluarga Albercio.
"Aku izin pulang, maaf tidak bisa ikut makan malam bersama kalian. Aku ada pertemuan penting dengan klien jam delapan nanti." Ujar Rose beralasan. Dia memilih pamit daripada harus mendengar pembicaraan selanjutnya yang mungkin akan menyakitkan untuk ia dengar.
"Padahal jika Richard sudah datang, kita masih sempat makan bersama." Ujar David menyayangkan lambatnya kedatangan Richard.
"Aku akan mengantar Rose sampai ke lobby." Delvin pun turut berdiri.
"Hati-hati di jalan nak." Pesan Diego pada Rose yang langsung diangguki perempuan itu.
***
"Aku tahu tujuanmu kemari bukan hanya untuk mengantar bingkisan tadi." Ujar Delvin to the point pada Rose. Saat ini mereka sedang berdiri berhadapan di lobby.
"Kau pembohong besar!!" Rose menjeda kalimatnya, dia menghadapkan ponselnya ke wajah Delvin untuk menunjukkan foto saat pria itu tidur di ranjang yang sama denga Fanya.
Siang tadi, sebelum dia meletakkan ponsel Richard di tempat semula, Rose mengambil gambar tersebut dengan cara memotret ulang menggunakan ponsel miliknya.
"Ternyata bukan tanpa alasan, perempuan yang selama ini kau hindari jika kita bertemu dengannya adalah istrimu bukan?! Dan kau tidak mau aku mengetahuinya." Suara Rose membelah sunyi di tempat yang tampak sepi itu.
Sungguh Delvin dibuat terkejut melihat potret dirinya bersama Fanya ada di ponsel Rose.
"Darimana kau mendapatkan foto itu?" Delvin hendak mengambil ponsel yang di genggam Rose, namun perempuan itu lebih dulu menjauhkannya dari jangkauan Delvin.
"Aku tidak ingin membahas asal muasal foto ini. Aku datang untuk meminta penjelasan darimu, kenapa kau menyembunyikan pernikahanmu dariku?" Tanya Rose sambil tangannya sibuk memasukkan ponsel tadi ke dalam tasnya.
"Rose-"
"Kita berteman sedari kecil bahkan hingga sekarang, tapi kau menganggapku seperti orang asing." Ucapan Rose barusan membuat Delvin merasa bersalah pada perempuan itu.
"Bukan begitu, a-aku." Delvin bingung harus memulai darimana untuk menjelaskan pada Rose tentang pernikahannya yang sudah terlanjur diketahui perempuan itu.
"Kau berubah Delvin, kau berubah semenjak mengenal perempuan itu. Kau tidak sehangat Delvin yang kukenal dulu." Ujar Rose sambil menatap tegas manik Delvin.
"Sikapku tidak pernah berubah padamu." Delvin membantah perkataan perempuan itu yang dianggapnya tidaklah benar, sebab dia merasa perlakuannya pada Rose tetap sama dari dulu hingga dia menikahi Fanya.
"Aku yang merasakannya, bahkan tadi kau meneriaki namaku, sebelumnya kau tidak pernah menaikkan nada bicaramu padaku." Seru Rose. Dia masih tidak terima dengan bentakan Delvin di Apartemen tadi.
"Itu karena kau sudah keterlaluan menganggap Fanya pelayan di Apartemenku." Meski sedikit menyesal sudah meneriaki Rose, namun dia juga tidak terima sang istri disebut pelayan.
"Karena seharusnya aku menganggap dia sebagai istrimu yang harus kuhormati bukan?" Ujar Rose sambil memutar kedua bola matanya, perkataannya seolah menyindir Delvin.
"Sebenarnya aku enggan mengungkit masa lalu. Aku yakin kau tidak akan pernah lupa dengan sumpahmu di hadapanku, Richard dan juga Michael, kau mengatakan tidak akan menikah seumur hidupmu karna penghianatan Ibumu. Tapi kau pembohong ulung seperti dia yang terbiasa menipu Ayahmu, kau malah menikah Delvin." Lanjutnya.
"Jangan pernah samakan aku dengan perempuan itu Rose!!" Seketika emosi Delvin tersulut mendengar dia disamakan dengan sang ibu.
"Lalu kenapa kau menikahi Fanya?!" Rose berusaha untuk terus memojokkan Delvin sampai pria itu tak berkutik.
Delvin melangkah lebih dekat ke hadapan Rose, berbicara tepat di wajah perempuan itu.
"Tidak semua hal tentangku harus kau ketahui, sekalipun kau adalah temanku dari kecil." Tegas Delvin, tatapannya menunjukkan betapa ia sedang marah kali ini.
Sungguh sikap Delvin melukai perasaan Rose, sebelumnya pria itu tidak pernah sekalipun menatapnya penuh emosi seperti sekarang.
"Pernahkah kau melihatku sebagai seorang wanita?" Tanya Rose dengan manik yang mulai berair.
"Memang tidak semua harus kuketahui, termasuk pernikahanmu. Tapi karena sumpahmu aku tidak pernah jujur dengan perasaanku. Aku tidak mau jujur padamu kalau aku mencintaimu Delvin. Aku mencintaimu." Air mata Rose akhirnya tumpah mengungkapkan perasaannya selama ini.
"Aku bisa menahan itu selama kau tidak bersama perempuan lain, aku sanggup memendamnya bertahun-tahun. Tidak bisakah kau melihatku sedikit saja? Bukan sebagai seorang teman Delvin!!" Jika biasanya perasaan seseorang akan lega jika menyatakan cinta, berbanding terbalik dengan Rose, dia merasakan sesak di dadanya, sebab pria yang selama ini dia cintai ternyata sudah menikah.
***
Berikan like, komen dan vote untuk mendukung tulisan ini ya teman-teman. Tengkiuu luvv 💛💛