My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Merindu



Perasaan sayang yang tulus akan selalu menimbulkan rindu sekalipun tubuh sedang tidak berjarak


\~\~\~


Ingin rasanya Fanya kembali keluar dari ruangan tempat Delvin dirawat, sebab sekembalinya ia mengantar Tasha, tampak Rose menangis sesunggukan sambil memeluk Delvin. Perasaan cemburu entah mengapa tiba-tiba hadir di dalam hati perempuan itu.


Keberadaan Diego yang turut hadir disana menjadi penghalang niat perempuan itu. Fanya menghampiri sang Ayah mertua yang duduk di sofa bersama Michael. Sedangkan Kiara berdiri di sisi Rose untuk menenangkan perempuan itu.


Kedua teman Delvin itu baru saja kembali dari luar Kota untuk meninjau proyek yang perusahaan mereka tangani, Rose selaku sekretaris Michael turut ikut bersama pria itu. Kabar kecelakaan Delvin dan Richard mereka ketahui dari David.


Belum sempat Fanya mendudukkan tubuhnya di atas sofa, Rose sudah lebih dulu mencengkram kerah baju perempuan itu dan hendak memukul wajah Fanya. Dengan sigap Michael menangkap tangan Rose. Pria itu tidak mau, Rose sampai melukai wajah dari istri sahabatnya Delvin.


Pertengkaran Jack dan Delvin di hotel menguak fakta pada Michael bahwa Delvin sudah menikah.


"Hei, apa yang kau lakukan?!" Michael menahan tubuh Rose agar tidak bisa menjangkau Fanya.


"Aku ingin mencabik-cabik perempuan pembawa sial ini. Seandainya dia tidak menyuruh Delvin dan Richard berkunjung ke Apartemen untuk memakan masakan busuknya itu, mereka tidak akan mengalami kecelakaan." Teriak Rose sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan Michael.


Sebenarnya Rose sudah menyadari keberadaan Fanya ketika perempuan itu membuka pintu, tapi dia sengaja mengabaikan kehadiran Fanya dan memilih memperlama pelukannya pada Delvin agar perempuan itu cemburu.


Serangan mendadaknya terhadap Fanya juga ia lakukan untuk mempengaruhi Diego, supaya lelaki itu menyalahkan Fanya.


"Tutup mulutmu!! Menantuku bukan perempuan pembawa sial seperti yang kau katakan. Kau tidak berhak menyalahkan dia atau siapapun atas kecelakaan putraku." Bentak Diego tidak terima dengan perkataan kasar Rose.


Niat busuk Rose gagal total, namun perempuan itu tidak menyerah.


"Kenapa Paman masih mau membela perempuan yang tidak mencintai putramu? Dia memiliki kekasih Paman, dia berselingkuh di belakang Delvin." Ujar Rose lirih, ia bersandiwara sedih di hadapan Diego.


"Bawa teman sok tahumu ini keluar, aku tidak mau ada keributan di kamar Delvin." Diego yang sudah jengah melihat tingkah Rose menyuruh Michael membawa Rose pergi.


"Apa Paman tidak mempercayaiku? Apa Paman lebih mempercayai dia yang baru kalian kenal sedangkan aku sudah lama menjadi teman Delvin?" Rose merasa tersinggung ketika Diego mengusirnya, dia kembali mencoba meyakinkan lelaki itu agar Fanya mendapat amarah Diego.


Pintu kamar rumah sakit terbuka setengah, kemunculan David dari balik benda itu menimbulkan keheningan di ruangan itu.


Wajah-wajah tegang dan posisi Michael yang menahan tubuh Rose cukup membuat David mengerti jika baru saja terjadi pertengkaran disana.


"Orangtua Richard baru saja tiba, kalian bisa pergi ke kamar Richard jika ingin bertemu dengan mereka." Bukannya David tidak ingin bertanya apa yang baru saja terjadi, tapi dia lebih memilih mencairkan suasana daripada mengulik kejadian yang menurutnya akan menimbulkan keributan.


"Aku dan Rose pergi kesana dulu." Ujar Michael cepat, ia menarik paksa tangan Rose yang enggan bergerak.


***


"Kebetulan kalian disini, aku titip Delvin sebentar. Aku mau ke Apartemen untuk mengambil pakaian gantiku." Ujar Fanya, baju bersih perempuan itu sudah tidak ada lagi yang tersisa, sengaja ia membawa sedikit ke rumah sakit karena berharap Delvin cepat pulih.


"Biarkan David mengantarmu." Ujar Diego, ia merasa menantunya akan lebih aman jika pergi bersama putra ataupun dirinya.


"Kak David sudah sangat lelah beberapa hari ini, aku akan pergi bersama supir saja, Dad." Pinta Fanya tak ingin merepotkan sang kakak ipar.


"Uhhmm, baiklah." Ujar Diego akhirnya, dia juga membenarkan apa yang dikatakan Fanya. Lelaki itu khawatir rasa lelah David bisa mengganggu konsentrasi pria itu membawa mobil.


Perempuan itu mengangguk, kemudian berlalu menemui sang supir yang sudah menunggu di luar kamar Delvin.


***


"Pak, tolong bawa saya ke makam Ibu mertua saya dulu." Ujar Fanya ketika ia sudah berada di dalam mobil.


"Baik Nyonya." Ujar Pak Kenan menuruti perintah Fanya. Dia yang sudah lama mengabdi menjadi supir di keluarga Albercio sudah hafal betul jalan menuju makam sang Nyonya besarnya.


Tujuan awal Fanya memang ingin berkunjung ke makam sang Ibu mertua, Apartemen adalah tempat kedua yang akan ia datangi setelah selesai ziarah dari makam Kinanti.


Mobil sedan yang Pak Kenan kendarai terparkir di sisi jalan TPU, Fanya meminta Pak Kenan turun untuk mengantarnya ke makam Kinanti. Perempuan itu jujur pada sang supir jika dia tidak tahu dimana letak makam ibu mertuanya, sebab ini pertama kalinya dia berkunjung.


Setelah mengantar Fanya, Pak Kenan langsung pamit untuk kembali ke dalam mobil dan menunggu perempuan itu disana.


Tatapan Fanya tertuju pada nisan Kinanti, pandangannya terkunci pada tanggal, bulan dan tahun kematian wanita itu yang sama persis dengan orangtuanya.


"Ma-ma..." Bibir Fanya bergetar mengucapkan satu kata itu.


"Cara Tuhan begitu luarbiasa untuk mengikat kita menjadi keluarga yang sebenarnya." Tangan Fanya mengusap lembut nisan Kinanti.


"Aku sudah bertemu dengan putra keduamu yang pernah kau ceritakan padaku saat kita duduk berdua di taman Kota," sejenak Fanya menjeda kalimatnya, ia menyeka airmata yang sempat tertahan di pelupuk perempuan itu.


"Benar katamu, dia pria yang sangat membenci perempuan. Tapi ada kabar baik yang ingin kuceritakan padamu. Aku berhasil menaklukkan hati pria itu, kini dia sudah menikah dan aku adalah istri putra keduamu, aku menantumu, Ma. Aku menantumu sesuai dengan apa yang kau harapkan dulu." Fanya menarik sudut bibirnya selebar mungkin, ia berusaha tersenyum meski air matanya masih terus mengalir.


"Maafkan aku jika kehadiranku disini juga membawa kabar buruk." Jika tadi kalimat Fanya menggebu-gebu, kali ini nada bicara perempuan itu terdengar lirih.


"Pria yang baru beberapa hari lalu menyatakan cintanya padaku sedang terbaring lemah di rumah sakit Ma. Delvin koma akibat kecelakaan yang ia alami bersama Richard sahabatnya." Fanya yang merasa sesak, menarik nafas dalam untuk mengisi rongga udara di paru-paru perempuan itu.


"A-ku benar-benar takut kehilangan dia. Aku sangat mencintainya Ma." Tangis Fanya pecah mengisi keheningan disana. Sekelabat kekhawatiran berkeliaran hebat di dalam benaknya.


"Terimakasih sudah melahirkan pria luar biasa seperti Delvin, caranya memperlakukanku sungguh membuatku setiap hari jatuh cinta pada pria itu. A-aku, aku rindu padanya, aku benar-benar rindu dengan putra keduamu Ma. Aku tidak pernah merasa sesakit ini saat merindukan seseorang." Tubuh Fanya tergunjang hebat akibat tangisan yang semakin tak bisa ia bendung.


"Sayang..." Suara yang tidak asing di telinga Fanya membuat ia terdiam tiba-tiba.


.


.


.


.


Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya teman-teman, jika berkenan bisa memberikan hadiah 😁


Terimakasih luvv 💛💛