My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Keluarga Impian



Cinta memang tidak dapat diukur dengan angka, tapi sebuah tindakan adalah cara untuk melihat kebesaran cinta itu. Sedalam apa dirimu mencintai seseorang, akan tampak dari caramu memperlakukannya.


\~\~\~


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya. Selamat Kiara." Ujar Fanya sumringah di tengah makan malam mereka yang sedang berlangsung di salah satu restauran dekat Museum Louvre.


"Terimakasih Fanya." Kiara pun tak kalah senang dengan pekerjaan barunya. Dia bersyukur atas kebaikan keluarga Albercio kepadanya.


Baru saja David bercerita jika Kiara mulai besok akan bekerja di perusahaan Albercio Group sebagai sekretaris beliau menggantikan Valerie yang kini melanjutkan studi ke California.


"Semenjak keberangkatan Valerie, aku cukup kerepotan mengurus perusahaan tanpa seorang sekretaris. Dan sebelum suamimu mengangkat Kiara menjadi manager di Coffee Shop, aku harus lebih cepat selangkah membawanya bekerja ke perusahaan." Jelas David.


Bukan tanpa alasan, menjadikan Kiara sebagai sekretarisnya tentu dengan banyak pertimbangan.


David cukup kesulitan mencari orang kepercayaan untuk bekerja di sisinya, dia memilih Kiara karena perempuan itu sudah cukup lama bekerja di Coffe Shop mereka dan tidak pernah membuat masalah, ditambah Fanya adalah sahabat baik Kiara.


Sudah bisa ia pastikan, jika sifat dan sikap perempuan itu tidak jauh berbeda dengan sang adik ipar. Namun yang lebih penting dari semuanya adalah Valerie-tunangannya setuju mempekerjakan Kiara sebagai sekretaris pria itu.


"Kali ini, aku yang akan kerepotan mencari manager di Coffee Shop kita." Gerutu Delvin, sebab manager mereka yang lama mengundurkan diri karena istrinya dipindahtugaskan perusahaan ke Meulbourne.


"Siapa cepat, dia dapat," celetuk Richard sambil menyeringai mengejek Delvin. "Lagi, ada HRD yang akan menyeleksi, kau tidak akan direpotkan dengan itu." Lanjutnya.


"Semenjak kecelakaan itu, kau berubah menjadi pria yang menjengkelkan Richard." Delvin masih mengingat betul kejadian saat terakhir mereka di rumah sakit. Sahabatnya itu mengerjainya habis-habisan.


"Roh menjengkelkan itu akan terus menghantuimu, kau lupa? Aku sekretarismu yang akan terus mengekori jalanmu. Hahahah." Melihat wajah kesal Delvin membuat Richard tertawa.


"Aku akan memotong setengah gajimu, dan tunggu saja hukuman lainnya atas kesalahanmu yang lalu, aku berniat tidak membayarmu selama setahun. Hahahah." Mengancam Richard adalah jalan pintas yang dipilih Delvin. Lagi, kesalahan sahabatnya itu masih belum bisa ia lupakan. Dari kejadian Richard memotret dia dan Fanya diam-diam saat di mansiom sampai Rose akhirnya mengetahui pernikahan mereka, menggodanya di rumah sakit dan berubah menjadi wanita kemayu.


"Delvin maafkan aku." Ujar Richard sambil mengatupkan kedua tangannya, dia tahu Delvin selalu serius dengan ucapannya. Dia sudah mengenal sahabatnya itu belasan tahun lamanya.


"Hmm, kupikir-pikir dulu ya. Hahaha," Delvin merasa lucu melihat wajah memelas Richard.


"Oh ya, karena tadi kau mengatakan siapa cepat dia dapat. Kuberi kau pekerjaan kecil, carikan managar Coffee Shop kita yang sesuai dengan keinginan dan persetujuanku." Lanjut Delvin merasa puas membalas sahabatnya itu.


Ingin rasanya Richard mengumpat, dia tahu pekerjaan yang diberikan Delvin barusan akan menjadi sulit, karena orang tersebut harus lolos seleksi dari Delvin. Sudah bisa dia pastikan, sahabatnya akan mengerjainya dengan mengatakan 'tidak' pada calon manager yang ia bawa nanti, sampai dirinya benar-benar lelah.


"Lalu, apa tugas HRD disana?"


"Dia perlu sedikit liburan Richard."


"Kau-"


"Kalian seperti anak kecil saja," Diego yang sedari tadi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Delvin dan Richard memotong perdebatan mereka.


"Habiskan makanannya dan kalian bisa melanjutkannya nanti di tempat yang tidak ada kami. Suara kalian juga cukup mengganggu pengunjung di restauran ini." Lanjut lelaki paruh baya itu.


Semua orang yang ada disana berpikir jika Diego hendak mendamaikan dua pria dewasa yang tak berhenti berdebat sejak makan malam dimulai. Tapi dia malah menyuruh untuk dilanjutkan nanti.


"Maafkan kami, Dad."


"Maafkan kami, Paman."


Ujar Delvin dan Richard bergantian.


Pffttt


David tak bisa menahan tawanya, melihat ekspresi dua pria yang mendapat teguran dari Dad Diego, mereka terlihat seperti anak kucing yang menggemaskan.


"David!! Jangan mencari keributan yang menimbulkan pertengkaran di antara kalian. Hentikan tawamu." Ujar Diego tegas.


"Ba-baik, Dad. Maafkan aku."


"Silahkan lanjutkan makan kalian," sekilas Diego menatap ke arah besannya.


Delvin membenarkan perkataan sang ayah, dia melupakan keberadaan mertuanya karena meladeni ocehan Richard. Dia merasa bersalah atas perbuatannya barusan.


Sesaat kemudian, Delvin keluar dari kursi tempat ia duduk, berjalan ke belakang kursi Thomas dan Lucia.


"Pa, maafkan sifat kekanakan menantumu ini."


"Ma, harusnya aku mengajakmu bercerita banyak tentang kehidupan kalian di Kota Dinan. Maafkan aku."


Sambil menunduk, Delvin merangkul pundak sang mertua dari belakang dan mengecup pipi mereka.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa nak." Ujar Thomas dan Lucia bersamaan, mereka tidak keberatan dengan suasana meja makan yang riuh. Sebab kadang, hal tersebut mereka rindukan.


Semenjak kepergiaan Fanya ke Paris, setiap sudut rumah mereka terasa sunyi, termasuk di meja makan saat Thomas dan Lucia makan bersama. Mereka sudah sangat jarang mendengar celotehan putri kesayangannyan itu.


"Nak Delvin, Mama sangat bersyukur Fanya menikahi pria murah hati sepertimu." Ujar Lucia, sembari mengecup puncak kepala sang menantu. Sikap Delvin pada mereka barusan, sungguh sangat menyentuh hati wanita itu.


***


Setelah mengahabiskan makan malam yang sedikit dibumbui drama akibat perdebatan Delvin dan Richard, kini mereka bercengkrama ringan.


"Ehemm-" di tengah perbincangan yang berlangsung, Fanya berdehem cukup keras.


"Ada apa nak? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Thomas.


Fanya mengangguk pelan, namun dia tidak segera membuka suara.


Sedari tadi, ada hal yang ingin dia utarakan kepada keluarganya. Hal yang menurutnya cukup sensitif untuk dibahas, karena itulah dia mengulur-ulur waktu sejak tadi.


"A-aku ingin menceritakan keberadaanku dikeluarga kita,"


Semua menjadi hening, mereka fokus menatap Fanya, menunggu kalimat apa yang akan selanjutnya perempuan itu katakan.


"Ma, Pa--" sejenak Fanya menarik nafas dalam.


"Suami dan mertuaku, sudah mengetahui jika aku bukan putri kandung kalian dan Bibi Kinanti adalah--"


Fanya menghentikan kalimatnya, sebab orangtua dan mertuanya, termasuk juga Delvin dan David tiba-tiba tersenyum lebar, membuat perempuan itu menjadi bingung sekaligus heran.


"Nak, kami sudah mengetahuinya. Sebulan lalu, mertuamu mengunjungi kami ke Kota Dinan untuk menceritakan kejadian di masa lalu itu. Delvin juga memperjelasnya melalui via telfon. Kau tidak perlu khawatir, semuanya sudah membaik, Sayang." Ujar Lucia.


"Hah?"


Sesaat Fanya melongo, dia tak menyangka jika semua yang ia khawatirkan beberapa bulan belakangan ini, sudah diselesaikan oleh sang ayah mertua dan juga suaminya.


Fanya khawatir, hubungan Kinanti dengan ayah kandungnya dulu, membuat orangtua angkatnya kecewa dengan dirinya yang menikahi Delvin.


"Kami sudah sangat bahagia melihat keluarga kecilmu bersama Delvin nak, apapun yang terjadi di masa lalu bukan menjadi alasan kami menghambat hubungan kalian." Thomas menimpali, dia tahu apa yang Fanya pikirkan.


Bersyukur berkali-kali dalam hati, Fanya tak hentinya mengucapkan terimakasih pada Sang Kuasa atas kebahagiaan yang ia dapat, meski dengan jalan yang tidak mudah, tapi rasanya sangat puas dan menyenangkan memiliki mertua yang begitu peduli padanya dan suami yang mencintainya dengan sepenuh hati. Dan jangan lupakan, orangtua angkat yang juga sangat menyayanginya.


"Sayang, kau sudah menjadi bagian dari keluarga Albercio. Sesuatu yang membebanimu adalah tanggung jawab kita bersama, begitupun sebaliknya. Jika ada hal yang menyulitkanmu, jangan pernah sungkan memberitahuku, hmm." Ujar Delvin sambil mengusap punggung tangan sang istri.


"Segalanya-apapun itu akan kuberi tahu padamu." Tak ada yang perlu disembunyikan, tak ada yang harus ditakutkan. Itu yang Fanya pikirkan, sebab kini ia memiliki keluarga sebagai topangan, keluarga yang ia impikan.


"Kau pantas mendapatkan kebahagiaanmu sekarang Fanya." Batin Kiara, dia tersenyum tipis melihat rona bahagia yang tak kunjung surut di wajah sahabatnya itu.


-


-


Jangan lupa memberi like atau melempar bunga jika berkenan :D Terimakasih luvv ❤