
Seorang sahabat adalah dia yang selalu ada di waktu tersenang dan juga tersedihmu. Dia tidak memandang musim baik dan buruk kehidupanmu, sebab keberadaanmu menjadi keberartian untuknya yang tulus menyayangimu.
\~\~\~
Setelah selesai melukis seorang anak yang datang bersama orangtuanya ke Montmartre, Fanya kembali melukis wajah Rose dan Delvin yang sedang duduk bergandengan tangan dihadapannya.
“Kalian sangat serasi.” Ujar Fanya sambil menyodorkan hasil lukisannya ke tangan Rose.
“Terimakasih Fanya, lukisanmu juga sangat detail dan indah,” mata Rose berbinar senang saat melihat lukisan dirinya dan Delvin. “Benarkan Delv?” Tanya Rose.
Delvin hanya mengangguk acuh, ia sangat ingin segera pergi dari sini. Entah mengapa kebersamaannya dengan Rose di hadapan Fanya membuatnya merasa tidak nyaman.
“Bisakah kau memotret kami bersama lukisan ini Fanya?” Pinta Rose yang langsung disanggupi Fanya.
“Dengan senang hati Rose.” Fanya menerima ponsel yang disodorkan Rose kepadanya.
Tampak Rose tidak canggung merangkul pinggang Delvin, namun tak dibalas oleh pria itu.
“Delvin, rangkul aku juga.” Rengek Rose. Delvin melakukan apa yang diminta Rose.
“Dia sangat penurut dengan kekasihnya.” Batin Fanya.
Kebersamaan Delvin dan Rose berhasil Fanya abadikan dengan potret dan pose yang berbeda di ponsel Rose.
“Terimakasih Fanya, kau juga sangat handal memotret,” kembali Rose memuji Fanya. “Oh ya, kami melanjutkan jalan-jalan kami dulu, sampai bertemu lagi.” Pamit Rose. Sebelum pergi, Rose sudah lebih dulu memasukkan uang ke dalam kotak yang menjadi upah Fanya melukis diri mereka.
Kedua orang itu berlalu dari hadapan Fanya dengan jemari yang saling bertaut erat.
“Dia tidak berani membantah perkataan perempuan itu, dia pasti sangat mencintainya. Pernikahan kami benar-benar akan melukai banyak orang, maafkan aku Rose.” Ucap Fanya lirih sambil menatap tautan tangan yang berlahan menghilang dari jangkauannya.
***
Berkali-kali Fanya mengetuk pintu rumah milik sahabatnya—Kiara namun tidak ada sahutan, diapun mencoba untuk menelepon perempuan itu, namun belum sempat ia menekan nomor Kiara, perempuan itu muncul di hadapannya dengan membawa tote bag berwarna hitam.
“Kau habis belanja?” Tanya Fanya yang melihat sayuran hijau menyembul dari tote bag yang dipegang temannya itu (Kiara adalah seorang Vegetarian).
“Ya, maaf sudah membuatmu menunggu, Fanya.” Tadi pagi Fanya sudah mengabari Kiara bahwa akan datang ke rumah sahabatnya itu sore hari nanti.
“Tidak apa-apa, aku juga baru sampai.” Ucap Fanya karena memang dirinya belumlah terlalu lama menunggu Kiara.
“Masuklah.” Kiara membuka pintu rumahnya yang terkunci kemudian mempersilahkan sahabatnya masuk terlebih dahulu.
“Terimakasih.” Fanya pun masuk disusul Kiara, mereka melangkahkan kakinya ke dalam bangunan sederhana itu.
“Duduklah di sofa, aku akan membuatkan minum untukmu.” Kiara meninggalkan Fanya di ruang tamu kemudian berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman kepada sosok yang dulu sering berkunjung ke rumahnya.
“Apa setelah dari Montmartre kau langsung ke sini?” Tanya Kiara sembari meletakkan kopi hitam yang merupakan minuman kesukaan Fanya.
“Baguslah, kebetulah kau juga berhutang penjelasan padaku.” Kiara tidak melupakan janji sahabatnya untuk menceritakan hubungannya dengan Delvin bos mereka—tepatnya bos Kiara.
“Untuk itulah aku datang kesini.” Ujar Fanya.
Kedua sahabat itu duduk berhadapan di sofa yang sama, tubuh mereka sedikit miring agar bisa saling melihat saat sedang berbicara.
Fanyapun menceritakan semua kejadian yang terjadi antara dirinya dan Delvin tanpa melewatkan hal sekecil apapun.
“Ohh, God!! Jadi—jadi kau sudah menikah dengannya. Lalu, bagaimana dengan Jack? Apa dia sudah tahu tentang pernikahan kalian?” Kejujuran Fanya barusan sungguh membuat Kiara terkejut dan sulit untuk mempercayainya.
“Dia belum mengetahuinya, aku dan Delvin juga akan bercerai. Hanya—“ Fanya menjeda kalimatnya, mengembuskan nafasnya dengan kasar. “Aku takut orangtuaku tidak merestui hubunganku dengan Jack jika nanti aku sudah bercerai dari Delvin, sedangkan Jack melamarku beberapa hari yang lalu dan aku memintanya untuk menunggu sebulan lagi.” Manik Fanya menjadi sendu menceritakan hubungannya dengan Jack.
“What?? Jack melamarmu dan kau menerimanya?!” Kiara mengerjapkan matanya berkali-kali, kembali ia terkejut dengan pengakuan Fanya.
“Aku tidak menerimanya Kiara, aku memintanya memberiku waktu sebulan untuk menjawab lamarannya.” Ucap Fanya memberi pembelaan pada dirinya.
“Lalu cincin itu? Aku yakin itu bukan cincin pernikahanmu, jangan bilang itu pemberian dari Jack saat dia melamarmu.” Cincin yang melingkar di jari manis Fanya sempat terlihat Kiara ketika perempuan itu meminum kopi beberapa saat yang lalu.
Fanya mengangguk samar, cincin yang melingkar di jarinya memang benar pemberian Jack.
“Fanyaa!! Kau terlalu polos atau terlalu bodoh. Meskipun kau mengatakan akan menjawab lamarannya sebulan nanti, tapi dengan menerima cincin dari Jack artinya kau akan menerima lamaran darinya.” Kiara tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
“Nantinya aku memang akan menerima lamarannya Kiara, kami saling mencintai dan aku hanya ingin menikah dengannya.” Saat malam Jack melamarnya, Fanya memang berniat akan menerima lamaran pria itu namun setelah ia menyelesaikan urusannya dengan Delvin.
“Justru karena kalian saling mencintai, harusnya kau jujur padanya. Aku yakin, jika dia benar-benar mencintaimu dia pasti akan mempercayai semua yang kau katakan. Kalian bisa sama-sama mencari solusi untuk hubungan kalian ke depannya.” Kiara berusaha memberi saran yang menurutnya baik untuk Fanya.
“Tidak semudah itu Kiara, tidak semudah itu menceritakannya pada Jack.” Fanya berkali-kali menggelengkan kepalanya.
“Aku tahu tidak semudah aku memberi nasihat padamu. Tapi percayalah, itu merupakan solusi terbaik untuk hubungan kalian Fanya. Pikirkan bagaimana jika nanti setelah kau menikah dengan Jack, kelak dia mengetahui kalau ternyata kau sudah pernah menikah dengan pria lain. Itu akan sangat menyakitkan untuknya, juga untukmu bukan?” Kiara tahu semuanya pasti terasa sulit untuk Fanya, namun dia juga tidak mau suatu saat nanti sahabatnya itu terluka karena salah dalam mengambil keputusan.
Fanya terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan Kiara. Bagaimana respon Jack setelah mendengar ceritanya juga akan menunjukkan seberapa percaya dan tulusnya perasaan pria itu kepada Fanya.
“Aku—aku benar-benar kalut dan bingung atas masalahku, terimakasih Kiara—terimakasih untuk semua masukan darimu, aku akan melakukannya. Maaf sudah menyembunyikan masalah ini darimu, harusnya aku lebih cepat menceritakannya padamu.” Perasaan haru begitu saja muncul di hati Fanya, melihat bagaimana sahabatnya itu begitu peduli dengan kehidupannya. Air matapun turut jatuh dari pelupuknya.
“Aku akan selalu ada untukmu Fanya, jangan pernah sungkan padaku. Aku yakin, semua yang terjadi pasti akan menjadi kebahagiaan untukmu di masa depan nanti. You’re a strong women, aku percaya itu.” Kiara memberi pelukan kepada sahabatnya—Fanya, ia pun tak bisa menahan air mata yang mulai menganak sungai membasahi pipinya.
***
Jangan lupa berikan like, komen dan vote ya di setiap tulisan Author, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira