
Resiko dari memendam perasaan adalah siap menerima seseorang yang kita cintai bersama dengan orang lain.
\~\~\~
Delvin sesaat terpaku mendengar kejujuran Rose padanya, perempuan yang sudah dianggapnya adik itu ternyata memiliki perasaan lain terhadapnya.
"Kenapa harus aku Rose? Kau sudah seperti keluarga untukku. Kau tidak seharusnya jatuh cinta padaku." Ujar Delvin sambil menggeleng membantah perasaan Rose padanya.
"Kau tidak berhak melarangku untuk jatuh cinta pada siapapun Delvin, termasuk padamu!!" Nada suara Rose semakin meninggi.
"Aku menyayangimu sebagai teman, bahkan menganggapmu adik perempuanku, tapi kenapa kau tidak menganggapku seperti itu juga? Perasaanmu terhadapku akan menyakiti dirimu sendiri Rose, harusnya kau sudah tahu itu." Delvin mencoba menjelaskan pada Rose bahwa mencintainya adalah sebuah kesalahan yang harus segera disadari perempuan itu.
"Lalu kau pikir, perempuan yang sekarang menjadi istrimu itu awalnya tidak menyakiti dirinya saat mencintaimu. Aku tahu sebenci apa dirimu pada perempuan Delvin, dia pasti sudah berusaha sangat keras sampai membuatmu luluh. Harusnya akupun melakukan hal yang sama, jika tahu pada akhirnya kau akan ingkar dengan sumpahmu." Rose tidak terima pria yang sudah lama dikenalnya itu malah menikahi perempuan lain, dia merasa dirinya lebih memahami Delvin dan lebih pantas bersanding dengan pria itu.
Ingin Delvin menjelaskan pada Rose bahwa pernikahannya dengan Fanya hanya karena terpaksa, bukan karena perempuan itu mencintainya kemudian membuatnya jatuh cinta seperti yang Rose pikirkan.
Namun dia yang dulu menganggap Fanya perempuan murahan, membuatnya tidak rela jika Rose juga memandang sang istri begitu. Itulah mengapa ia menahan diri untuk tidak memberi tahu alasan yang sebenarnya menikahi Fanya. Kali ini, dia tidak mau seorangpun merendahkan sang istri, Delvin tidak mau perempuan yang dianggapnya baik itu sampai terluka.
"Untuk itu lupakan perasaanmu padaku, tidak peduli aku pernah bersumpah di masa lalu atau di masa kini karena yang sedang kujalani sekarang adalah masa depan yang kupikir baik untuk kehidupanku. Aku ingin mengucapkan terimakasih yang tulus untukmu karena sudah mencintaiku dengan waktu yang lama. Maafkan aku jika keberadaanku atau perhatianku membuatmu jatuh cinta padaku, maafkan aku Rose." Ujar Delvin, dia berharap Rose mengerti dengan kondisinya sekarang.
"Kau jahat Delvin, kau jahat!!" Suara serak Rose hampir tak terdengar akibat dibenam oleh isak tangis perempuan itu.
"Maafkan aku." Ujar Delvin sedikit memohon.
Tangan Delvin menangkup bahu Rose sambil mengusapnya agar perempuan itu lebih tenang.
"Dulu, saat aku menangis kau akan memelukku, apa setelah kau menikah kau tidak mau melakukannya lagi?" Rose yang berharap dipeluk Delvin malah hanya mendapat usapan di bahunya.
Sewaktu kecil, setiap ada orang iseng yang mengganggu Rose di sekolah, Delvin adalah orang terdepan yang membela perempuan itu dan akan langsung memeluknya jika Rose menangis dan itu terus dilakukan Delvin hingga mereka dewasa.
"Bukan begi-"
"Peluk aku!!" Seru Rose sedikit merengek.
Entah mengapa kali ini Delvin merasa canggung memeluk Rose, dia tidak nyaman setelah temannya itu menyatakan perasaan padanya. Lagi, wajah Fanya tiba-tiba memenuhi isi kepalanya, seakan mengingatkan dia kalau sudah memiliki istri. Dan tanpa Delvin sadari, pria itu semakin peduli dengan pernikahannya yang padahal sudah berada di ujung perceraian.
"Jika kau tidak memelukku, aku akan berpikir bahwa Fanya perempuan yang buruk karena dia membatasi pertemananmu padaku." Rose terus mencari alasan agar Delvin memeluknya
"Maksudmu?" Tanya Delvin, tampak kerutan dalam di kening pria itu.
"Dia pasti tahu kalau aku dekat denganmu dan dia melarangmu untuk kontak tubuh denganku karena waktu di Monmartre kita saling merangkul di hadapannya. Aku yakin, pasti saat itu dia sangat cemburu, tapi dia juga harus paham, aku jauh lebih lama mengenalmu dibanding dia." Ujar Rose seakan dia mengerti seperti apa hubungan Delvin dan Fanya.
"Fanya bukan perempuan yang buruk, tapi pikiranmu yang terlalu buruk. Dia tidak pernah melarangku memelukmu, bahkan waktu di bandara kau masih memelukku. Siniii..." Delvin mengulur tanganya untuk meraih tubuh Rose, dia membawa perempuan itu ke dalam pelukanya. Rose yang dikenalnya memang manja dan menyebalkan tapi kali ini perempuan itu rasanya semakin manja dan sangat menyebalkan.
Senyum kemenangan tercetak di bibir Rose saat Delvin akhirnya mau memeluknya, sebab dari kejahuan ada Fanya sedang menyaksikan apa yang mereka lakukan dan karena itulah dia memaksa Delvin untuk memeluknya.
"Pulanglah, aku juga harus segera naik ke atas." Ujar Delvin, dia melepas tautan tubuh mereka sambil tangannya mengacak-acak rambut perempuan itu.
Rose mengangguk, "sekalipun aku masih mencintaimu, kau tidak boleh menjaga jarak denganku." Ancamnya sambil memasang ekspresi seolah-olah marah.
"Tidak akan Rose, tapi kuharap kau secepatnya menghilangkan perasaanmu itu." Ujar Delvin serius. Dia tidak mau, perasaan Rose yang tidak terbalas semakin menyakiti hati perempuan itu.
Setelah bayangan Rose menghilang dari jangkaunnya, barulah Delvin membalikkan tubuh untuk kembali ke Apartemen. Namun sosok Fanya yang berdiri beberapa meter darinya membuat pria itu sedikit tersentak.
"Fanya!!" Dia berlari kecil menghampiri perempuan itu, ada rasa khawatir mengingat dirinya tadi memeluk Rose.
"Apa tadi dia melihat kami berpelukan?" Batin Delvin, sebab dalam sehari sudah dua kali Fanya memergoki dia memeluk Rose.
"Sejak kapan kau disini?" Tanya Delvin penuh selidik.
"Belum terlalu lama." Jawab Fanya singkat.
"Uhm, kenapa kau turun?" Delvin penasaran alasan perempuan itu menghampirinya.
"Daddy menyuruhku untuk memanggilmu, Richard tidak jadi ikut makan malam. Katanya dia sedang diare." Jelas Fanya, sebab mereka sudah cukup lama menunggu pria itu. Ditambah tadi Richard menghubungi nomornya untuk memberi tahu penyebab ketidakdatangannya.
"Itu balasan karena tadi dia mengataiku diare padahal bukan." Ujar Delvin seakan dia mensyukuri sahabatnya itu diare.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu Delvin, tadi dia juga berbohong demi dirimu." Seru Fanya membela Richard, sebab Delvin seakan berharap pria itu sakit.
"Tetap saja, masih banyak alasan yang bisa dikatakannya pada Daddy." Delvin tidak mau disalahkan Fanya.
"Alasan apa lagi? Kau juga izin pada Daddy ke toilet, tidak mungkinkan dia mengatakan kalau kau sedang ada rapat di kantor." Fanya tak habis pikir dengan sifat aneh suaminya itu.
"Terserah, dia bisa mencari alasan lain asal jangan mengataiku diare." Ujar Delvin ketus, entah mengapa dia tidak suka mendengar Fanya membela sahabatnya itu.
"Kenapa kau jadi marah karena hal yang sudah berlalu itu?" Sungguh Fanya dibuat bingung dengan perubahan sikap Delvin barusan.
"Aku tidak marah." Bantah Delvin.
"Benarkah? Mataku tidak buta Delvin, aku masih bisa melihat ekspresimu dan telingaku tidak tuli untuk mendengar nada bicaramu." Ujar Fanya sambil berpindah posisi, dari yang berjalan di sisi Delvin kini menghadap pria itu.
"Kau menghalangi jalanku." Delvin memperlambat langkahnya agar tidak menginjak kaki Fanya yang berjalan mundur.
"Biarkan aku berjalan seperti ini, supaya lebih jelas melihat ekspresimu." Ujar Fanya yang tak kembali ke tempat semula.
"Sudah kukatakan aku tidak marah Fanya, lihat wajahku sekarang." Ujar Delvin sambil tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya.
"Kau jadi pintar ber-akting." Fanya terkekeh melihat ekspresi Delvin yang bisa langsung berubah.Tawa Fanya seakan menulari pria itu, dia jadi ikut terkekeh.
"Kau akan menabrak lift di belakangmu itu." Delvin memberi peringatan pada Fanya.
"Tidak akan, karena kau sudah memberi tahunya." Ujar Fanya sambil berbalik badan. Mereka mengayunkan langkah memasuki privat lift.
Di dalam lift, Delvin dan Fanya berdiri saling berhadapan.
"Apa kau sudah menjelaskan pada Rose kalau kita akan bercerai?" Tanya Fanya saat percakapan mereka sempat terjeda.
***
Karena semalam tidak update, nanti author usahakan update satu bab lagi yaa. Berikan like, komen dan vote sebagai dukungan kalian untuk novel ini ya teman-teman. Tengkiiiuu luvv 💛💛