My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Kau Mencintainya?



Perihal mencintai : Melepaskan, dia yang tak ingin kau genggam dan juga merelakan dia yang tak mau tinggal.


\~\~\~


Suara tepuk tangan terdengar riuh dari pelanggan restoran tempat Delvin dan Fanya berada setelah MC membacakan isi dari kertas yang tergulung tadi.


"Silahkan Tuan dan Nyonya." Sang MC mempersilahkan Delvin dan Fanya untuk memulai dansa mereka sebelum akhirnya berlalu dari atas panggung.


Delvin sedikit memutar tubuhnya untuk menghadap sang istri.


"Bagaimana ini? Apa kita lari saja?" Tanya Fanya panik. Kali ini dia sungguh menyesal karena tergoda dengan diskon tadi.


"Kita akan berdansa tapi tidak berciuman." Ujar Delvin. Raut pria itu pun tampak menampilkan kecemasan.


"Apa bisa begitu?" Ada perasaan lega dari helaan nafas Fanya atas perkataan Delvin.


Tak ada penjelasan yang diberikan Delvin, dia hanya mengangguk sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Fanya.


Fanya tersenyum canggung menyambut uluran tangan sang suami. Dadanya sedikit berdebar kala Delvin meletakkan tangan kanannya di pinggang kiri perempuan itu. Tak hanya itu, Delvin juga menuntun lengan kiri sang istri untuk di tempatkan di bahunya, kemudian menautkan tangan mereka yang lainnya.


Alunan musik "A Whole New World" dari penyanyi Zhavia Ward feat Zayn Malik mengiringi gerakan sepasang suami istri itu.


Dari awal musik berputar Delvin tak hentinya menatap mata sang istri. Tak hanya itu, dia juga meneliti setiap inci wajah Fanya yang hampir tidak berjarak dengannya.


Tatapan Delvin semakin membuat Fanya canggung, dia ingin menunduk namun terhalang oleh pertanyaan pria itu.


"Apa kau mencintai kekasihmu?"


Fanya sedikit terhenyak dengan pertanyaan Delvin, "tentu aku mencintainya. Bukankah sepasang kekasih memang harus mencintai, sama seperti kau dan Rose bukan?"


Jawaban dan pertanyaan dari Fanya memberi senyuman kecil di bibir Delvin.


"Kau benar," Delvin sejenak menjeda kalimatnya, mengunci manik Fanya dengan tatapan yang kali ini terlihat sangat meneduhkan. "Karena jika tidak, berpisah sudah pasti menjadi jalan satu-satunya." Lanjut pria itu.


Mendengar kata berpisah yang diucapkan Delvin, mengingatkan Fanya kepada perceraian yang sudah dijanjikan pria itu untuknya dan entah mengapa hatinya sedikit sedih akan hal yang belum terjadi itu.


"Mungkin karena kami yang semakin akrab membuat aku menjadi seperti ini. Aku tak perlu sedih, kami masih bisa tetap bertemu dan berteman bahkan jika sudah bercerai." Batin Fanya.


Sepasang suami istri itu tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing bersama alunan musik yang hampir berakhir mengiringi dansa mereka.


A whole new world (A whole new world)


Sebuah dunia baru


That's where we'll be (That's where we'll be)


Di sana kita akan berada


Pengejaran yang menakjubkan, (Tempat yang menakjubkan)


For you and me


Untuk kita berdua


Bait terakhir dari lagu A Whole New World menghentikan gerakan Delvin dan Fanya. Kembali, suara tepuk tangan terdengar riuh dari pelanggan yang masih setia menyaksikan penampilan mereka.


Cium!!


Cium!!


Cium!!


Teriak para pelanggan menagih penutup dansa dari Delvin dan Fanya.


Suara gemuruh dari para pelanggan sungguh membuat Fanya malu, dia sedikit menunduk untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah.


Berbeda dengan Delvin, pria itu menampilkan raut yang terlihat bahagia. Dia semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh sang istri.


"Mereka akan mudah menebak jika kita bukanlah pasangan yang harmonis kalau kau menunduk seperti ini." Ujar Delvin sambil tangannya sedikit mengangkat dagu Fanya agar tidak menunduk.


Cium!!


Cium!!


Cium!!


Kembali para pelanggan berteriak karena Delvin tak kunjung mencium sang istri.


Delvin semakin memangkas jarak antara dirinya dan Fanya, bahkan kini tubuh mereka sudah saling bersentuhan. Mata pria itu menatap lekat manik hazel sang istri, pun sebaliknya dengan Fanya. Pandangan mereka kini terkunci bersama deru nafas yang semakin memburu.


Berlahan Delvin mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Manik Fanya membulat sempurna kala Delvin menangkup wajahnya dengan kedua tangan pria itu.


"Tolong pejamkan matamu." Ujar Delvin pelan saat bibirnya mulai mendekati bibir merah muda sang istri.


Kalimat Delvin yang terdengar seperti permintaan segera dilakukan Fanya. Dia dapat merasakan embusan nafas sang suami menyapu kulit wajahnya, bahkan sangat terasa di bibirnya, membuat detak jantungnya memompa seperti sepuluh kali lipat di atas normal. (Masuk UGD dong Fanya 😂)


"Maaf." Sepatah kata dari Delvin sesaat membuat Fanya menegang.


***


Maafkan juga author yang lama update readers, berikan dukungan berupa like, vote dan komen yang membangun ya. Terimakasih banyak luvv 💛