
Pernikahan akan menjadi kebahagiaan untuk sepasang insan yang saling mencintai namun akan sangat menyiksa untuk mereka yang tak pernah menaruh kasih juga tak sedang jatuh hati.
\~\~\~
Setelah keluar dari kamar putra keduanya, Diego berjalan menuju sebuah ruangan tempat ia dapat melihat rekaman CCTV yang terpasang di apartemen Delvin. Ia menghidupkan sebuah komputer yang ada disana, dengan jelas ia dapat melihat Delvin yang mabuk dipapah oleh Richard menuju kamar dan Fanya yang menunggu diluar.
Sesaat setelah Richard keluar dari kamar Delvin, ia melihat sekretaris putranya itu berbicara kepada Fanya sebelum akhirnya pria itu keluar meninggalkan apartemen Delvin, tampak Fanya berjalan menuju dapur memasak sesuatu dan membawa sebuah minuman ke dalam kamar putranya.
Diego dapat melihat keraguan dari Fanya untuk masuk ke dalam kamar Delvin, sebab perempuan itu tampak terpaku beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Hanya beberapa menit, Fanya keluar dari dalam kamar Delvin dan membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Setengah jam berlalu, tidak ada yang terjadi saat itu, sampai lelaki itu melihat putranya—Delvin keluar dari dalam kamar, berjalan sempoyongan ke arah sofa tempat Fanya berbaring. Delvin membawa Fanya ke dalam gendongannya menuju kamar pria itu.
Rekaman CCTV mempertegas bahwa tidur di kamar Delvin bukanlah keinginan Fanya, sebab putranyalah yang membawa perempuan itu masuk kesana. Diego mengeluarkan telepon genggam yang ia taruh di saku celana kirinya, ia menghubungi sekeretaris putranya.
Informasi dari Richard membuat lelaki itu mengepalkan sebelah tangannya, sebab Delvin membawa perempuan itu ke sebuah mini bar untuk turut merayakan pesta ulang tahunnya.
Diego sangat mengenali kedua putranya, termasuk Delvin sosok yang sangat tertutup dengan perempuan karena suatu hal yang terjadi di keluarga mereka. Ia tahu betul, Delvin tak pernah bermain api dengan kaum hawa, bahkan putra keduanya itu tak pernah menjalani sebuah hubungan pada kaum yang sempat dibencinya.
Rekaman CCTV dan kebersamaan putranya bersama Fanya di mini bar meyakinkan Diego bahwa perempuan yang tidur bersama putranya bukanlah perempuan yang menjajakan tubuhnya untuk dipakai pria. Untuk itulah keputusannya bulat untuk menikahkan kedua orang itu.
***
Pernikahan Delvin dan Fanya berlangsung secara tertutup yang merupakan permintaan Delvin dan Diego sendiri menyetujui permintaan putra keduanya itu.
Orangtua Fanya yang datang dari Kota Dinan tampak terharu dengan pernikahan putri semata wayang mereka. Fanya adalah perempuan mandiri yang tak pernah menyulitkan orangtuanya, ia meninggalkan Kota kelahirannya saat menyelesaikan pendidikan SMA-nya ke Ibukota negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik, ia bekerja sebagai pelukis jalanan dari pagi hingga sore dan bekerja kala malam di Coffee Shop milik keluarga Delvin.
Pernikahan yang hanya dihadiri oleh keluarga besar dari kedua belah pihak tidak berlangsung lama, bahkan hari itu juga kedua orangtua Fanya kembali ke Kota Dinan.
“Apa kau memiliki kekasih?” Delvin yang sedari tadi diam sepanjang perjalanan menuju apartemennya memecah keheningan yang terjadi antara dia dan Fanya yang sedang berada di dalam lift.
Fanya yang merasa bingung dengan pertanyaan Delvin mengangguk dengan samar yang membuat pria itu menjentikkan jarinya ke udara.
“Mari kita bercerai.” Ujar pria itu dengan manik yang berbinar.
Fanya semakin bingung, pernikahan mereka yang baru berlangsung beberapa jam apa mungkin akan berakhir karena ia memiliki kekasih.
“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, Tuan.” Fanya memerlukan penjelasan yang lebih detail dari Delvin.
“Aku bahkan masih berpikir bagaimana bisa tidur di kamarmu tanpa mengenakan atasan dan dipergoki oleh ayah dan kakakmu, itu sungguh mencoreng harga diriku. Bagaimana bisa—bagaimana bisa kau menyuruhku melakukan hal murahan itu? Keluargaku, kekasihku, masa depanku. Aku harus mengorbankan itu semua hanya demi pernikahan sialan ini,” ucap Fanya dengan emosi yang meluap-luap.
“Kau pikir—kau pikir setelah kekasihku mengetahui pernikahan kita, dia akan mempertahankan hubungan kami, hah? Kita memang akan mengakhiri pernikahan ini, namun jika dengan cara murahan yang kau katakan. Mengapa tidak kau saja yang melakukannya?” Fanya membuang muka bersamaan dengan lift yang terbuka, ia melangkah keluar meninggalkan Delvin yang masih terpaku di dalam.
"270935!!" Seru Delvin menyebut kode apartemennya, pria itu tak menyusul Fanya.
Seorang diri, Fanya memasuki ruangan Apartemen Delvin. Ia tak peduli dengan keberadaan pria itu yang tidak keluar dari dalam lift. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya yang berada di luar kamar Delvin. Bangunan mewah itu sengaja di desain dengan satu kamar saja, sebab itu adalah permintaan Delvin yang sebelumnya memutuskan untuk hidup sendiri.
Fanya membersihkan diri dengan aliran shower yang membasahi tubuhnya, selesai dengan kegiatannya, ia membaringkan tubuhnya di sebuah sofa sembari menonton siaran Televisi yang memberitakan tentang pameran lukisan Internasional yang akan menampilkan lukisan dari seniman-seniman terkenal, pameran itu dilaksanakan dua bulan mendatang di Museum Louvre, Kota Paris.
Pesan masuk terdengar dari telepon genggam Fanya, pandangannya yang sedari tadi serius menatap layar Televisi beralih pada benda pipih yang ia letakkan di atas meja. Berlahan jemarinya membuka pesan masuk tersebut.
—From : Jack
Sayang, maafkan aku jika semalam tidak menjemputmu. Mobilku mogok di tengah jalan, aku tak sempat mengabarimu, Handphoneku kehabisan baterai dan tadi pagi hingga sore aku sangat sibuk dengan pekerjaan kantorku. Apakah kau punya waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu melanjutkan makan malam kita yang terunda.
Fanya sempat menarik sudut bibirnya, kala membaca pesan dari kekasihnya—Jack. Namun berlahan senyum itu memudar saat pernikahannya dengan Delvin melintas di pikirannya. Bagaimana ia menjalani hubungan yang tampak abu-abu ini? Ia menarik nafas dalam, merutuki takdir buruk yang menimpa kehidupannya.
—To : Jack
Aku tidak bisa malam ini, aku sedang lembur. Besok jika ada waktu, aku akan segera mengabarimu.
Meskipun pernikahan Fanya dan Delvin tidak berlandaskan cinta, namun ia sangat menghargai ‘ikatan’ itu, sebab sumpah di depan Altar kepada Sang Kuasa membuatnya berpikir untuk mengambil keputusan. Ia akan menunggu Delvin kembali, dan meminta izin pada pria itu.
Pesannya tak mendapat balasan dari Jack, kebiasaan yang pria itu lakukan jika permintaannya tidak dipenuhi. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Delvin tak kunjung pulang. Fanya yang mulai mengantuk melangkah menuju kamar mandi tempat ia mandi tadi. Ia merentangkan selimut yang ia ambil dari lemarinya ke atas bathtup.
Kejadian semalam masih sangat membekas di ingatan Fanya, meski ia tidak tahu apa saja yang sudah Delvin lakukan kepada tubuhnya tapi tetap saja ia takut. Ia takut pria itu kembali mabuk dan membawanya ke dalam kamar jika mendapati dirinya tertidur di sofa. Untuk itulah ia memutuskan tidur di dalam kamar mandi, agar bisa mengunci diri dari dalam.
***
Jangan lupa like, komen dan vote ya tulisan Ceria, supaya aku semakin semangat menulisnya.
Saran yang membangun juga sangat aku butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
Follow my ig : @ceria_yuwandira