
Hal yang tidak pernah bisa dirubah adalah 'waktu' yang sudah berlalu bahkan untuk sedetik saja.
\~\~\~
Meskipun nafsu Delvin sudah di ubun-ubun, tidak membuat pria itu kehilangan akal sehatnya. Dia tetap meminta persetujuan sang istri untuk menyentuh tubuh perempuan itu.
"Jika kau mau aku membencimu seumur hidupku, lakukanlah." Fanya tidak menolak permintaan Delvin, dia menyerahkan keputusan pada pria itu namun buliran air mata yang jatuh dari pelupuknya adalah tanda kalau Fanya tidak menginginkan apa yang dilakukan Delvin padanya.
"Ma-maafkan aku." Ujar Delvin terbata, tangannya menghapus lembut buliran air mata yang membasahi pipi perempuan itu. Berkali-kali dia mengecup kedua manik Fanya yang berair.
Sikap Delvin membuat air mata Fanya semakin menganak sungai.
"Maafkan aku." Ulang Delvin lirih. Dia semakin dipenuhi rasa bersalah mendengar tangis pilu Fanya.
Delvin beranjak dari atas tubuh Fanya dan berpindah ke lantai, dia duduk tepat di sisi kepala sang istri. Tangannya bergantian mengusap surai dan pipi perempuan itu.
Kali ini Fanya menepis tangan Delvin.
"Jangan menyentuhku lagi." Seru Fanya dengan suara yang terdengar parau, sambil dia bangkit dari tidurnya.
Kalimat Fanya membuat Delvin mematung sejenak. Bahkan suara bel yang terdengar nyaring tak disadari pria itu.
Melihat Delvin yang tetap diam membuat Fanya beranjak dari tempatnya duduk menuju pintu. Dia terlebih dahulu menekan tombol intercom untuk melihat siapa yang datang.
Tampak di luar Rose sedang berdiri menunggu pintu terbuka.
"Kenapa dia kemari lagi?" Batin Fanya sambil tangannya menekan kode pintu.
"Apa Delvin di dalam? Aku mau menginap disini." Seru Rose saat pintu sudah terbuka. Pandangannya tak lepas dari gaun Fanya, sebab bagian atas gaun perempuan itu sedikit tersingkap.
Fanya lupa membenarkan kancing gaunnnya yang tadi sempat di buka Delvin, dia baru menyadarinya setelah Rose menatap bagian dadanya. Buru-buru perempuan itu menutup pakaiannya yang terbuka menggunakan kedua tangannya.
"Dia di dalam, silahkan masuk." Ujar Fanya cepat untuk menutupi rasa malu atas penampilannya, dia tidak bertanya alasan Rose menginap di apartemen mereka.
"Untuk apa kau menginap disini?" Tanya Delvin yang muncul dari belakang Fanya, sedari tadi dia mendengar pembicaraan kedua perempuan itu.
"Aku hanya ingin menginap saja. Sebelumnya aku juga sudah sering menginap disini dan kau tidak pernah bertanya alasannya." Rose sedikit tersentak melihat kehadiran Delvin yang muncul tiba-tiba.
Berbeda dengan Rose, Fanya malah dibuat tersentak mendengar pengakuan perempuan itu.
"Itu karena kau mengajak Tasha dan Michael, terkadang juga bersama Richard. Sekarang mereka tidak ada, sangat aneh kau datang seorang diri ingin menginap sedangkan kau memiliki tempat tinggal." Tak ingin membuat Fanya salah paham pada perkataan Rose, Delvin meluruskan ucapan perempuan itu.
"Tapi ada istrimu yang menjadi temanku, aku mau lebih dekat dengannya, karena selama ini kau menutupi pernikahan kalian dariku." Ujar Rose mencari-cari alasan, karena kedatangannya jelas bukan untuk berkenalan dengan Fanya sehingga mereka bisa menjalin pertemanan.
Selama perjalanan pulang tadi, Rose sangat penasaran terhadap reaksi Fanya yang melihat dirinya berpelukan dengan Delvin. Untuk itulah dia kembali datang memastikan apakah Delvin dan istrinya bertengkar hebat. Namun melihat pakaian Fanya yang terbuka tadi, membuat dia berpikir bahwa sepertinya hubungan pasangan suami istri itu tetap baik-baik saja.
"Untuk menjadi temannya tidak harus menginap Rose." Delvin mendecak kesal, kehadiran Rose malah semakin memperburuk suasana hati Delvin.
Fanya yang berdiri di antara mereka tidak ikut campur pada perdebatan dua orang itu.
"Kau tinggal meminta nomor ponselnya. Lagi, malam ini dia tidak punya waktu menemanimu bercerita, dia sangat lelah hari ini." Ujar Delvin sambil maniknya menatap tangan Fanya yang berada di dada perempuan itu.
Manik Rosepun ikut mengekori pandangan Delvin, membuatnya mengerti apa yang dimaksud pria itu.
"Baiklah, kalau begitu bisakah aku meminta nomormu?" Tanya Rose pada Fanya, dengan terpaksa dia memilih mengalah meski hatinya sudah diubek-ubek oleh rasa cemburu dan marah.
Fanya mengangguk, dia langsung menyebutkan nomor ponselnya yang segera di ketik Rose.
"Aku pamit dulu." Ujar Rose tanpa terlebih dahulu mengucapkan terimakasih pada Fanya yang baru saja selesai membacakan nomor ponselnya.
Delvin dan Fanya tak menyahuti ucapan Rose, mereka hanya mengangguk.
Sepeninggal Rose, Fanya berbalik. Kakinya melangkah cepat menuju kamar mandi untuk membenarkan pakaiannya sekaligus menggantinya dengan baju tidur.
Kali ini, Delvin tidak mengejar atau menghalangi langkah perempuan itu.
Selang beberapa menit Fanya keluar dari kamar mandi, namun dia terkejut setengah mati melihat sang suami berdiri di depan pintu.
"Delvin!!" Seru Fanya dengan manik membola. Tangannya kembali memegang dadanya, bukan lagi karena pakaian atasnya yang terbuka, tapi karena Delvin yang berdiri di depan pintu kamar mandi membuatnya kaget.
"Apa aku membuatmu terkejut?" Tanya Delvin dengan bodohnya, sebab dia sendiri sudah melihat Fanya terkejut.
Tak ada respon dari Fanya, dia langsung membuang muka dan beranjak pergi.
"Maafkan aku soal yang tadi, aku benar-benar menyesal. Jangan mendiamiku seperti ini." Ujar Delvin memohon namun tetap tak dihiraukan Fanya, dia terus berjalan ke arah ruang tamu.
"Fanya-" Delvin mengikuti langkah sang istri yang tiba-tiba berhenti, dia hampir saja menabrak tubuh perempuan itu.
"Malam ini aku mau menginap di rumah Kiara." Ujar Fanya tanpa menoleh ke arah Delvin. Kembali, dia tidak menanggapi permintaan maaf pria itu.
"Tidak boleh," tolak Delvin. "Kalau kau merasa takut padaku, silahkan tidur di kamar, aku tidak masalah tidur di ruang tamu."
Delvin seolah bisa menebak apa yang ada dipikiran perempuan itu, Fanya langsung mengayunkan langkah menuju kamar tanpa mendebat Delvin.
***
Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
ig : @ceria_yuwandira