
Hal baik biasanya terjadi di waktu dan tempat yang tidak kamu duga
\~\~\~
"Kiara!!" Panggil Fanya, dia mengikuti langkah sahabatnya itu yang berjalan ke arah dapur.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Kiara menoleh.
"Fanya, kenapa kau kesini? Bukankah kalian sedang makan?" Tanya Kiara heran, sebab baru saja dia dan beberapa pelayan lainnya menghidangkan makanan dan minuman di meja tamu.
"Tentu karena aku melihatmu. Kita akan makan bersama. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tadi tidak sengaja Fanya melihat Kiara menghidangkan makanan di meja yang berada di hadapan perempuan itu.
"Makanlah lebih dulu, Delvin dan keluarganya pasti sudah menunggumu. Pekerjaanku masih banyak, setelah makan aku harus membersihkan piring-piring kotor." Ujar Kiara menolak halus permintaan Fanya.
"Aku sudah meminta izin pada mereka untuk mengajakmu makan bersama kami. Lagi, kau akan membersihkan piring kotor setelah makan bukan? Jadi, mari kita makan bersama dulu." Ujar Fanya sedikit memohon pada sahabatnya itu. Tangannya ia katupkan di hadapan Kiara, membuat perempuan itu tidak bisa menolak ajakan Fanya.
"Baiklah, tapi biarkan aku menyimpan nampan ini." Kiara kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Fanya yang khawatir sahabatnya itu kabur, tampak mengekori Kiara dari belakang.
"Sejak kapan kau tidak bekerja di Coffee Shop milik suamimu itu?" Tanya Kiara tiba-tiba. Dia yang biasanya mengambil shift pagi di Coffee Shop Albercio itu, kemarin diubah sang manajer menjadi malam hari. Saat itu dia tidak bertemu Fanya disana. Beberapa karyawan yang ia tanyai mengatakan kalau sahabatnya itu sudah mengundurkan diri.
"Semenjak Delvin menarik paksa tanganku dan mengajakku pulang waktu itu." Jawab Fanya, dia tidak menjelaskan bahwa Delvinlah yang memecatnya.
Ingatan Kiara melayang pada kejadian dimana bos mereka-Delvin Albercio menarik paksa Fanya dan membawa sahabatnya itu pergi.
"Apa Delvin memberi pekerjaan lain untukmu? Atau kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?" Tanya Kiara lagi, dia menduga Delvin meminta Fanya mengundurkan diri dari Coffee Shop tersebut untuk memberi sahabatnya itu pekerjaan yang layak.
"Dia tidak memberi pekerjaan untukku dan akupun tidak mengharapkan itu darinya. Untuk sekarang, aku masih bekerja di Monmartre, menunggu panggilan dari beberapa Cafe dan Coffee Shop lain yang sudah aku kirimi lamaran pekerjaan." Jelas Fanya. Delvin yang sudah mau menanggung makan dan tempat tinggalnya saja sudah sangat ia syukuri.
Mengharapkan pekerjaan dari pria itu sungguh tidak pernah terlintas di pikiran Fanya. Lagi, alasan Delvin memecatnya juga karena pria itu tidak mau jika sampai teman-teman terdekat Delvin mengetahui pernikahan mereka, karena waktu itu Rose mulai curiga dengan hubungan mereka meskipun akhirnya perempuan itu mengetahuinya juga.
"Lusa ada acara ulang tahun dari perusahaan Sharoon Group di Hotel Briller. Apa kau mau menjadi waitress bersamaku?" Mendengar penjelasan Fanya barusan, Kiara baru sadar bahwa tidak ada cinta di pernikahan sahabatnya itu. Bagaimana mungkin Delvin mempedulikan kehidupan Fanya? Untuk itulah dia langsung menawarkan pekerjaan paruh waktu pada perempuan itu.
"Baiklah... Lusa aku akan mengabarimu lagi." Ujar Kiara tersenyum simpul.
***
"Jadi kamu berasal dari Kota yang sama dengan menantuku?" Tanya Diego ramah pada Kiara yang bergabung di meja mereka.
"Iya, Paman." Jawab Kiara sambil sedikit menunduk. Dia sungguh segan menegakkan kepalanya di hadapan keluarga Albercio itu, mengingat dirinya hanyalah seorang pelayan.
"Mulai kapan kamu bekerja di Coffee Shop kami, nak?" Tanya Diego lagi. Tadi Kiara menjelaskan bahwa dia juga seorang pekerja paruh waktu di Coffee Shop yang sekarang dikelola Delvin.
"Sudah hampir tiga tahun lebih Paman." Ujarnya pelan.
"Kamu karyawan yang loyal, Delvin seharusnya sudah bisa menaikkan posisimu." Ucap Diego sambil pandangannya beralih pada Delvin.
"Tidak perlu Paman. Sungguh, untuk saat ini gajiku lebih dari cukup." Kiara menolak keinginan Diego. Dia tidak mau dirinya yang berteman dekat denga Fanya menjadi alasan lelaki itu menaikkan posisinya, meskipun Diego tidak ada mengatakannya secara langsung, namun Kiara seolah bisa menebak apa yang ada di pikiran lelaki itu.
"Aku akan mengurusnya, Dad." Delvin memberi respon pada perkataan Ayahnya. Ia menyetujui permintaan lelaki itu.
Mendengar Delvin berucap seperti itu membuat Fanya bersorak girang di dalam hati, sebab sahabatnya akan mendapat pekerjaan yang layak. Berbeda dengan Rose, perempuan itu malah menggerutu.
"Hah, sesama pelayan memang pantas berteman untuk bekerja sama menjadi parasit di keluarga orang kaya." Batin Rose sambil bergantian menatap penuh kebencian ke arah Fanya dan Kiara.
.
.
.