
Meskipun hanya berlaku untuk sehari, perbuatan baikmu adalah sikap yang selalu dinanti.
\~\~\~
Delvin melangkah cepat memasuki mansion milik Ayahnya itu, ia sangat berharap sudah tidak ada lagi orang yang duduk di ruang tamu. Tapi sepertinya hari ini bukanlah hari keberuntungan baginya, sebab keluarga Valerie belum juga pulang dan masih betah berbincang dengan Diego dan David.
Plastik yang berisi pembalut, Delvin sembunyikan di balik bajunya. Ia berjalan cukup cepat namun tanpa suara untuk melewati ruang tamu. Sayangnya kehadirannya diketahui oleh Diego.
“Kau berjalan seperti maling,” ujar Diego yang lagi-lagi menghentikan langkah Delvin. “Apa yang kau sembunyikan dibalik bajumu itu?” Tanya Diego yang melihat plastik putih sedikit keluar dari baju Delvin.
“Hmm, i—ini, ini, i—ni“ Delvin gelagapan menjawab pertanyaan Diego, ia bingung harus mengatakan apa pada Ayahnya.
Diego beranjak dari sofa, ia berjalan mendekati Delvin kemudian menarik plastik yang disembunyikan putranya itu.
“Ya ampun nak, kau benar-benar seperti bocah. Apa kau malu karena membelikan istrimu pembalut?” Pertanyaan frontal Diego membuat wajah Delvin memerah seperti kepiting rebus, dia merutuki keteledorannya saat memasukkan plastik ke dalam bajunya.
“Oh Tuhan, apa Kau sedang menghukumku?” Batin Delvin, dia sungguh malu kala keluarga dan kekasih Kakaknya turut mendengar kalimat yang Ayahnya lontarkan.
“Wahh David, ternyata Delvin sangat romantis.” Valerie memuji kebaikan Delvin pada sang istri, bukannya berterimakasih pada perempuan yang menjadi calon kakak iparnya itu, Delvin malah bergidik ngeri sebab ia kembali teringat dengan perkataan ibu-ibu di mini market tadi.
“Cepat berikan pada Fanya.” Diego menyerahkan plastik yang ia ambil dari dalam baju Delvin, tadinya ia tidak ingin melakukan itu, namun Delvin yang enggan menjawab pertanyaannya ditambah sikap aneh putranya itu membuatnya berinisiatif untuk melihat benda yang disembunyikan putranya itu. Ia takut jika Delvin merahasiakan sesuatu darinya terkait kesehatan menantunya.
Delvin menerima plastik yang diberikan Diego, “Baik, Dad.” Ujar Delvin, kemudian berlalu untuk menemui Fanya.
***
Delvin membuka pintu kamar yang tidak terkunci, ia melihat Fanya berbaring lemah dengah tubuh meringkuk dan tangan yang terlipat di atas perutnya.
“Ini pembalutmu.” Ujar Delvin sambil meletakkan benda tersebut di atas nakas tempat tidur. Sebenarnya ia ingin memaki Fanya, sebab karena tamu bulanan perempuan itu ia jadi mendapat malu dan mengalami kesialan. Namun melihat kondisi Fanya yang mengkhawatirkan, ia mengurungkan niatnya.
“Terimakasih.” Ucap Fanya, ia menyandarkan tubuhnya ke headboard ranjang. Dia mengambil pembalut yang Delvin letak di atas nakas yang berada tepat di sisinya.
Dia beranjak dari tempat tidur ingin menuju kamar mandi. Alih-alih berjalan, untuk berdiri saja sudah membuatnya
meringis menahan sakit.
“Kau tidak apa-apa?” Delvin menahan tubuh Fanya, membantu perempuan itu untuk kembali duduk di atas ranjang.
“Biar aku menggendongmu ke kamar mandi.” Tak mendapat jawaban dari Fanya, Delvin mangangkat tubuh sang istri ke dalam kamar mandi.
Ia mendudukkan Fanya di atas water closet duduk yang tertutup.
“Jika kau sudah selesai, panggil aku.” Ujar Delvin. Sebenarnya ia ingin tetap berada di dalam menunggu Fanya, siapa tahu terjadi sesuatu pada perempuan itu. Namun ia yakin Fanya pasti mengusirnya dan akan berpikir yang tidak-tidak padanya.
“Terimakasih.” Hanya kalimat singkat itu yang sedari tadi mampu Fanya ucapkan pada Delvin.
Delvin mengangguk, ia berjalan keluar meninggalkan Fanya.
Mata Delvin menatap darah yang sedikit berserak di atas kasur, jika tadi dia merasa jijik dengan darah yang mengenai tangannya, kali ini ia bersikap biasa saja. Bahkan saat membawa Fanya ke kamar mandi, darah perempuan itu kembali mengotori tangannya namun lupa ia bersihkan. Dia hanya menghapus noda tersebut dengan selembar tissue.
Delvin melepas sprei yang membalut kasur, kemudian menggantinya dengan yang baru. Ia menggulung sprei kotor tersebut, lalu meletakknya di keranjang kotor pakaian.
“Delv... Delvin...” Indra pendengaran Delvin menangkap suara Fanya yang memanggilnya dari dalam kamar mandi.
Delvin berlari kecil ke dalam ruangan itu, ia menemukan Fanya berdiri memegang dinding kamar mandi. Sepertinya Fanya berusaha berjalan keluar namun karena tidak sanggup ia bertumpu pada dinding kamar mandi.
“Kau—mengapa tidak duduk di WC?” Seru Delvin, ia kembali menggendong Fanya untuk membawanya ke atas kasur.
“Apa aku perlu memanggil dokter?” Tanya Delvin yang duduk di tepi ranjang tepat di samping sang istri, wajah Fanya yang masih terlihat pucat menurutnya perlu pemeriksaan dari dokter.
Fanya menggeleng. “Ini akan sembuh dengan sendirinya,” dia menjeda kalimatnya, menatap Delvin dengan raut memohon. “Bisakah kau menolongku lagi?” Tanya Fanya penuh harap.
Jika tadi Delvin masih bertanya apa yang diinginkan Fanya, bahkan sempat menolak permintaan perempuan itu, kali ini ia langsung mengiyakannya.
“Katakan, apa yang bisa kubantu?” Sisi kemanusiaan Delvin tergugah melihat ketidakberdayaan Fanya.
“Tolong ambilkan air hangat untukku dan air panas di dalam botol untuk mengompres perutku.” Pinta Fanya.
“Hanya itu saja?”
Fanya mengangguk. “Maaf sudah merepotkanmu.” Ucap Fanya.
***