My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Pillow Talk



Kenyamanan biasanya didapat dari sikap tulus seseorang yang (mungkin) akan menghadirkan cinta untukmu


\~\~\~


Semilir angin malam mengembus lembut kulit sepasang suami istri yang sedang duduk bersisian di sebuah ayunan kayu.


"Kenapa kau menyusulku kesini sedangkan aku sudah menandatangani surat cerai kita?" Tanya Fanya pada Delvin yang sedari tadi diam menatap ke arahnya. Mereka baru saja pulang dari restoran atas ajakan Delvin untuk merayakan ulangtahun sang ibu mertua.


Thomas dan Lucia sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, sedangkan Fanya menahan Delvin di taman samping rumah mereka.


"Aku berubah pikiran." Ujar Delvin tersenyum. Kalimatnya yang terdengar gantung menimbulkan kerutan dalam di kening Fanya.


"Maksudmu?"


"Kita tidak jadi bercerai dan tidak akan pernah bercerai. Aku sudah membakar surat itu." Jawab Delvin tegas. Kejadian semalam membulatkan tekad pria itu untuk mempertahankan sang istri.


Fanya dibuat terkejut dengan jawaban Delvin. Dia semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang duduk di sampingnya itu.


"Aku tidak akan menyetujui keputusanmu. Sekalipun kau membakarnya, aku bisa menggugatmu lagi." Ujar Fanya menaikkan volume suaranya yang sedikit parau, sebab semalaman perempuan itu menangis tanpa henti.


"Ini bukan keputusanku, tapi sebuah permintaan dariku," ayunan yang tadi bergoyang pelan kini berhenti sempurna, Delvin mengunci manik sang istri dengan tatapan mengibanya. "Mari mempertahankan pernikahan kita." Lanjut pria itu.


Sungguh cara Delvin menatapnya membuat Fanya ingin menghindari pria itu, "kenapa kita harus mempertahankan pernikahan ini sedangkan kita tidak saling mencintai? Tolong jangan membebaniku atas permintaanmu yang tidak bisa kupenuhi itu." Ujar Fanya, ia memalingkan wajahnya dari sang suami.


"Seandainya aku tahu Jack mengkhianatimu, aku tidak akan menceraikanmu. Aku pasti memilih ber-"


Kalimat Delvin langsung dipotong Fanya, dia enggan jika harus membahas mantan kekasih bajingannya itu.


"Jangan membawa Jack dalam hubungan kita Delvin. Sekalipun dia tidak tidur dengan perempuan lain, kita akan tetap bercerai. Terimakasih karena sudah memukulnya semalam, tapi bukan berarti itu menjadi alasan kita kembali bersama." Seru Fanya. Ketika ia menyebut nama Jack, tubuh perempuan itu sedikit menegang sebab ingatannya kembali pada kejadian semalam.


"Aku akan rela melepaskanmu jika Jack, pria yang kau cintai itu bisa memberimu kebahagiaan." Jelas Delvin berharap Fanya mengerti dengan apa yang ia maksud.


"Sepertinya kau sedang mengantuk. Tidurlah, perkataanmu semakin sulit untuk kupahami." Ujar Fanya beranjak lebih dulu dari ayunan tempatnya duduk.


Ia hendak pergi meninggalkan Delvin, namun langkahnya terhenti kala mendengar dua kata yang Delvin ucapkan hingga membuat dada perempuan itu berdebar hebat.


"Aku mencintaimu." Seru Delvin mengudara mengisi keheningan malam disana.


"Aku sangat mencintaimu sampai membuatku hampir gila. Jika Jack tidak bisa membahagiakanmu, beri aku satu kesempatan untuk menggantikannya." Lanjut Delvin. Untuk pertama kalinya ia menyatakan cinta pada seorang wanita, membuat jantung pria itu seakan ingin melompat keluar dari tempatnya.


Fanya masih tak beranjak dari pijakannya, kata demi kata yang Delvin ucapkan barusan semakin menggetarkan dada perempuan itu. Ia diam tak memberi respon pada Delvin.


Diamnya Fanya membuat Delvin mendekat ke arah sang istri, ia berdiri tepat di hadapan perempuan itu.


"Maukah kau memberiku kesempatan?" Tanya Delvin, tangannya yang terasa dingin akibat gugup menggenggam erat jemari Fanya.


Genggaman tangan Delvin seperti menghentikan seluruh kerja saraf di tubuh Fanya, lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengatakan 'mau' atau 'tidak' bahkan nafasnya kini tertahan, hampir membuat perempuan itu sesak.


"A-aku, aku..." Kalimat yang hendak Fanya ucapkan terpotong oleh seruan sang ibu.


"Nak, kalian belum tidur? Ini sudah sangat larut, angin malam tidak baik untuk kesehatan kalian." Ujar Lucia, sebab sejak tadi ia dan Thomas menunggu mereka di ruang tamu.


Delvin dan Fanya sempat tersentak atas kehadiran Lucia, mereka sedikit khawatir jika apa yang mereka bicarakan didengar oleh sang ibu.


"Baik ma, kami akan masuk." Jawab Delvin cepat, membawa Fanya mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam. Dia tidak melepas tautan tangan mereka.


Dia sempat berpikir Fanya dan Delvin sedang bertengkar hebat. Tapi apa yang dilihatnya malam ini berhasil menepis semua pikiran negatif wanita itu.


***


Fanya yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian tidur menatap sekilas ke arah Delvin yang terlelap di kursi rotan peninggalan nenek perempuan itu.


"Apa dia nyaman tidur seperti itu?" Batin Fanya. Ada perasaan tidak tega di hati perempuan itu melihat Delvin tertidur dengan posisi duduk.


Kamar sederhana Fanya tidak memilki sofa seperti milik Delvin. Ruangan kecil itu hanya dilengkapi perabotan tua yang sudah mulai usang.


Dengan langkah ragu, Fanya berjalan mendekati pria itu.


"Delv..." Tangan Fanya megguncang pelan tubuh Delvin.


"Delvin, bangun," ia kembali mengguncang tubuh pria itu. "Badanmu akan sakit jika tidur disini, pindahlah ke ranjang." Ujar Fanya setengah berbisik.


"Lalu kau tidur dimana?" Manik Delvin terbuka sempurna mendengar kalimat Fanya barusan, sebenarnya dia tidaklah benar-benar tidur.


"Aku akan memberi bantal di tengah sebagai sekat." Jawab Fanya, ia tidak mau tubuh mereka tidak berjarak saat tidur.


"Kita tidur bersama?" Tanya Delvin, manik pria itu berbinar senang.


"Hmm." Deheman Fanya diartikan Delvin sebagai jawaban 'iya' atas pertanyaannya. Perempuan itu lebih dulu naik ke atas ranjang yang langsung disusul Delvin.


Mereka sudah berbaring di ranjang namun dengan posisi tubuh yang berbeda, Fanya memilih membelakangi Delvin sedangkan pria itu menghadap punggung sang istri.


Ingin sekali Delvin memeluk perempuan itu, namun bantal yang menjadi jarak di antara mereka sudah cukup membuat dia mengerti bahwa Fanya tidak ingin bersentuhan dengannya.


"Apa kau masih mencintai Jack?" Tanya Delvin dengan sangat hati-hati, manik pria itu masih enggan untuk terpejam, sebab ia masih berharap Fanya memberi jawaban atas pertanyaan terakhirnya di taman tadi.


"Aku ragu." Jawab Fanya tanpa menoleh ke arah Delvin.


"Ragu untuk tidak mencintainya lagi?" Kali ini Delvin sudah mempersiapkan hatinya untuk patah jika Fanya masih tetap mempertahankan perasaannya pada Jack.


Helaan nafas Fanya sesaat menjeda perbincangan mereka.


"Aku ragu jika pengkhianat dalam hubungan kami adalah Jack. Sepertinya, akulah yang mengkhianati dia lebih dulu." buku jari Fanya meremas kuat gaun tidur yang ia pakai, dia sangat gugup untuk meneruskan kalimat yang akan ia katakan selanjutnya.


"Entah sejak kapan aku tidak bisa mengontrol detak jantungku yang berpacu cepat setiap kali kau memberiku ciuman, pelukan bahkan sedikit perhatian. Aku selalu menyangkal dan bimbang dengan perasaanku tapi surat cerai yang kau tinggalkan di meja makan justru semakin mempertegas semuanya, sungguh saat itu aku tidak rela dengan perpisahan kita. Aku terlalu mudah memberimu tempat di hatiku sementara aku masih memiliki kekasih. Tolong jangan mencintai perempuan yang tidak setia sepertiku. Aku... a-aku tidak pantas untukmu Delvin, kau bisa mencari kebahagiaan lain diluar diriku. Mari mengakhiri semuanya." Buliran airmata Fanya tumpah membasahi pipi perempuan itu.


Banyak hal yang Delvin lakukan untuk Fanya tapi tidak pernah perempuan itu dapatkan dari Jack, pria yang tiga tahun lamanya menjalin kasih dengan Fanya selalu sibuk dengan karir, teman dan hobi bahkan Jack belum pernah sekalipun memperkenalkan Fanya pada keluarganya.


Sikap baik Delvin lambat laun memberi rasa nyaman pada Fanya dan berhasil mencuri hati perempuan itu. Meskipun begitu, dia tidak pernah berharap Delvin mencintainya sebab perasaan pria itu terhadapnya justru membuat Fanya dipenuhi rasa bersalah pada sang suami.


"Kau adalah kebahagiaanku, aku tidak akan pernah melepaskanmu, tidak akan pernah Fanya. Kita hanya perlu saling mencintai untuk tetap bersama bukan? Dan kita sudah melakukannya, teruslah disisiku." Delvin menyingkirkan bantal yang menjadi sekat di antara mereka, tangan kokoh pria itu merangkul erat tubuh sang istri.


.


.


.