
Jatuh cinta kadang membuatmu menjadi tak tahu malu, kadang juga membuatmu menjadi malu
\~\~\~
"Apa semua ini karyamu sendiri?" Tanya Delvin takjub memandangi lukisan yang berjejer rapi di ruangan samping kamar Fanya.
Mereka baru saja selesai sarapan, setelah mengobrol cukup lama di meja makan, Fanya mengajak Delvin melihat-lihat lukisan hasil karya tangan perempuan itu.
"Ya, aku sudah mulai melukis sejak usia sembilan tahun dan ini adalah lukisan pertamaku." Fanya menunjuk gambar pedesaan yang menjadi karya pertama perempuan itu.
"Sangat indah seperti hatimu." Ujar Delvin yang membuat Fanya tertawa.
"Terimakasih atas pujiannya Tuan Delvin, kau semakin mahir saja menggoda."
"Menggoda istri sendiri tidak masalah bukan?" Sebuah cubitan gemas mendarat di pipi Fanya, Delvin sangat suka mendengar tawa perempuan itu yang semakin menambah kecantikan sang istri.
"Jangan mencubit pipiku nanti melar seperti karet retes." Ujar Fanya bercanda.
Cup...
Delvin mengecup pipi yang ia cubit tadi.
"Tidak akan melar, aku sudah mengobatinya." Kecupan yang Delvin sebut sebagai obat justru membuat pipi Fanya merona. Dia masih saja malu setiap kali Delvin mengecup ataupun mencium dirinya.
Semburat merah di pipi Fanya justru sangat Delvin sukai. Dia semakin menambah kecupan di wajah sang istri, mulai dari kening, dagu, hidung, bibir dan kembali ke pipi.
"Delvin!!" Seru Fanya memutar kedua bola matanya. Setelah Delvin selesai mengecupnya pria itu malah hendak keluar dari dalam ruangan itu.
"Ya sayang." Jawab Delvin membalikkan badannya. Dia tidak benar-benar akan meninggalkan Fanya, pria itu hanya sedang mengerjai sang istri. Balasan atas perbuatan jahil perempuan itu yang tadi mengatakan nafasnya bau.
Fanya dibuat terdiam karena panggilan 'sayang' Delvin, jantung perempuan itu berdegup kencang. Delvin memang paling tahu apa yang membuat dia tak berkutik.
Mendekati sang istri, Delvin tertawa kecil melihat ekspresi Fanya yang tampak kikuk.
"Jangan menatapku seperti itu." Fanya memalingkan wajahnya dari Delvin.
"Ini tatapan penuh cinta dariku, apa kau tidak menyukainya?" Goda Delvin membuat pria itu mendapat cubitan di perutnya.
"Perutku bisa melar seperi karet retes karena cubitanmu, berikan kecupan sebagai obatnya." Pinta Delvin yang lagi-lagi menggoda sang istri.
"Biarkan saja melar, aku tidak peduli," Fanya mencebikkan bibirnya, "kupikir sifat menyebalkanmu tidak akan kambuh lagi." Ujar Fanya, ia hendak pergi meninggalkan Delvin namun pria itu menghalangi langkahnya.
"Kalau kau tidak mau mengecup perutku, kecup saja pipiku sebagai gantinya." Delvin mendekatkan pipinya ke bibir Fanya.
"Aku tidak mau mengecup keduanya." Tolak Fanya sedikit mundur menjauhkan tubuhnya dari Delvin.
"Ba-baiklah, aku akan melakukanya." Fanya langsung mengecup pipi Delvin, sebuah senyum kemenangan bertengger manis di bibir pria itu karena berhasil membuat sang istri mengecup pipinya.
Tangan kokoh Delvin tak membiarkan Fanya menjauh dari tubuhnya, dia mengunci pergerakan sang istri dengan cara merangkul erat pinggang perempuan itu.
Bibir merah muda Fanya yang sedari tadi menarik perhatian Delvin menjadi titik fokus pria itu. Sebuah ciuman kembali mendarat di bibir ranum Fanya.
Perempuan itu sempat membeliakkan maniknya, tapi lambat laun dia mulai menikmati perlakuan Delvin dan justru memberi akses kepada pria itu. Fanya sedikit membuka mulutnya dan sesekali membalas pagutan Delvin.
Sungguh Delvin tak bisa menggambarkan kebahagiannya dengan kata-kata, akhirnya Fanya mau membalas ciumannya. Respon yang diberikan sang istri berhasil membuat Delvin seperti terbang melayang.
Menyesap manis bibir sang istri, Delvin semakin memperdalam ciumannya pada bibir yang sudah seperti candu untuk pria itu.
Nafas memburu terdengar jelas dari sepasang suami istri yang saling mencecap dan memagut dengan lihainya. Meski keduanya tidak terbiasa melakukan itu, namun perasaan sayang berhasil menuntun Delvin dan Fanya melakukannya dengan baik.
"Nak Delvin, ponselmu sedari tadi berdering." Seru Lucia yang sudah beberapa kali mengetuk ruang penyimpanan lukisan Fanya. Karena tidak ada sahutan, Lucia memilih masuk ke dalam.
Sepasang suami istri itu terkejut setengah mati mendengar suara Lucia. Tautan bibir mereka langsung terlepas.
"Co-coba kedipkan matamu, apa masih sakit? Sudah kukatan jangan menguceknya." Ujar Delvin gugup sambil meniup-niup indra penglihatan sang istri.
Untuk menutupi rasa malunya, Delvin berpura-pura membantu Fanya mengeluarkan kotoran dari mata perempuan itu.
"Tidak sakit lagi." Fanyapun mengikuti kepura-puraan Delvin karena dia juga merasa malu sama seperti pria itu.
Mereka seolah-olah tidak menyadari kehadiran Lucia, wanita paruh baya itu berjalan menghampiri putri dan menantunya.
"Delvin, Fanya." Panggil Lucia, sepasang suami istri itu langsung menatap Lucia bersamaan.
"Mama mau mengantar ponsel Delvin yang sedari tadi berdering, sepertinya panggilan itu sangat penting." Ujar Lucia menyerahkan ponsel Delvin ke tangan sang menantu.
Tautan bibir mereka memang sudah terlepas, tapi tidak dengan tubuh Delvin dan Fanya, pria itu masih merangkul pinggang sang istri. Mereka berdua baru tersadar setelah Lucia menyodorkan ponsel kepada Delvin.
"Terimakasih Ma." Ucap Delvin segera melepas tautan tubuhnya dari Fanya.
Lucia mengangguk. "Supaya tidak ada yang mengganggu, kalian bisa melakukannya di kamar dan jangan lupa mengunci pintunya." Ujar Lucia tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan sepasang suami istri itu.
Kalimat Lucia sontak membuat pipi Delvin dan Fanya merona, mereka semakin malu karena tadi mencoba membohongi sang Ibu.
***
Jangan lupa mmberi like, komen dan vote ya teman-teman, jika berkenan bisa juga memberi hadiah.
Terimakasih luvv 💛💛