
Kenangan buruk di masa lalu ternyata bisa memupuk kebencian dengan subur di hati seseorang, membiarkannya tumbuh bersama akar yang semakin kokoh akan menyulitkan siapapun untuk melenyapkan hama yang menyakiti raga dan juga jiwa.
\~\~\~
Delvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, ia tak menyusul Fanya sebab perkataan dan tamparan perempuan itu membuat hatinya menolak bahwa Fanya adalah wanita murahan.
“Cihh, itu hanya akal busuknya—aku yakin, dia hanya menipuku dengan wajah polosnya. Dia pasti menjebakku, perempuan seperti dia hanya menginginkan uang. Aku tidak akan tertipu—aku tidak akan tertipu Fanya!! Kau murahan, kau benar-benar murahan!!” Delvin mengumpat, memaki dan merendahkan Fanya di dalam mobil yang ia tumpangi seorang diri. Kebenciannya pada suatu hal mengaburkan hati nuraninya.
Mobil yang Delvin kendarai berhenti di sebuah bar, ia berjalan dengan langkah panjang memasuki ruangan yang minim pencahayaan itu. Kehadiran Delvin berhasil menarik beberapa pasang mata dari perempuan yang menari di atas pole dance, juga yang sedang duduk bahkan bergelayut di tubuh para pria. Ketampanan Delvin sungguh membuat kaum hawa tak berkutik.
Delvin merasa risih dengan tatapan genit yang melihat ke arahnya.
“Hah, mengapa kalian begitu murahan.” Guman Delvin dalam hati.
Ia berjalan menghampiri sebuah meja bar dimana terdapat sekretarisnya—Richard yang dengan santainya meneguk minuman beralkohol bersama Rose dan juga Michael teman mereka.
Mereka berempat sudah berteman sedari kecil hingga sampai saat ini. Mereka sering berkumpul, menghabiskan waktu di Coffee Shop milik keluarga Delvin maupun di bar seperti yang mereka lakukan sekarang.
Delvin yang berdiri tepat di hadapan Richard menarik kerah sekretaris sekaligus sahabatnya itu, ia memberi bogeman keras ke wajah Richard.
“Delvin!! What happaned?? Are you crazy??” Rose yang melihat darah segar mengalir dari hidung Richard menjauhkan tubuh pria itu dari jangkauan Delvin, disusul Michael yang menahan tangan Delvin.
Dengan kasar, Delvin menepis tangan Michael, ia mendekat ke arah Richard yang sedang menyeka darah di hidungnya.
“Temui aku diluar.” Delvin menatap tajam manik Richard, irisnya menampilkan kemarahan kepada sahabatnya itu. Ia berjalan keluar, meninggalkan ketiganya yang terpaku karena bingung.
“Aku akan menemuinya, kalian tidak perlu khawatir.” Ujar Richard sambil berlalu menyusul Delvin.
Richard membuka pintu mobil Delvin, kehadirannya tak membuat Delvin menoleh padanya, justru pria itu menginjak pedal gas miliknya dan membawa mobil yang ia kendarai secara membabi-buta.
Hanya seperkian menit, mobil itu sudah menjauh dari bar tempat Delvin menghantam Richard dan kendaraan roda empat itu kini berhenti di tepi jalan. Secara bersamaan kedua pria dewasa tersebut keluar dari dalam mobil.
Delvin kembali menarik kerah Richard, menyudutkan tubuh pria itu ke sisi mobil. Lagi, ia memberi pukulan keras pada wajah dan perut sahabatnya.
Richard yang tidak tahu apa kesalahannya sehingga Delvin memberikan ia banyak pukulan tak tinggal diam. Ia pun kini turut melayangkan bogeman ke wajah Delvin, kedua sahabat itu berujung baku hantam.
Setelah wajah mereka dipenuhi oleh tanda memar, mereka menghentikan perkelahian fisik itu dan duduk di tepi trotoar.
“Mengapa kau membawa dia ke apartemenku?” Tanya Delvin yang berkali-kali mengerjapkan matanya akibat luka yang terasa perih di bagian pelipisnya.
Pikiran Richard menerawang, mencari tahu ‘dia’ yang dimaksud Delvin. Ingatannya kembali pada kejadian semalam, saat ia membawa perempuan yang bersama Delvin ke apartemen pria itu.
“Maksudmu gadis yang kau bawa ke mini bar semalam?” Richard memastikan bahwa ‘dia’ yang dimaksud Delvin sama dengan apa yang ia pikirkan.
“Apa dia yang memintamu untuk ikut ke apartemenku?” Kembali Delvin bertanya untuk mencari tahu mengapa Fanya bisa berada di apartemennya.
“Aku yang mengajaknya untuk pulang bersama kita, dia tidak mengatakan apapun kepadaku. Kupikir dia kekasihmu yang kau sembunyikan dari kami, dan aku memutuskan membawa dia ke apartemenmu. Dan bukankah selama ini teman perempuanmu hanya Rose? Jadi kupikir perempuan itu adalah orang spesialmu.” Ujar Richard yang sok menahu hubungan antara Delvin dan Fanya.
“Dia tidak mengatakan apapun kepadamu, artinya dia juga tidak memberi tahu alamat rumahnya,” kepalan tangan Delvin menggantung perkataan pria itu. “Dia sungguh perempuan murahan, aku menikahi perempuan murahan—aku menikahi perempuan murahan Richard. Mengapa wanita seperti ibuku kembali muncul di kehidupan keluargaku.” Delvin menegang bersama buliran air mata yang sedari tadi sudah memenuhi pelupuknya.
Richard tersentak dengan pengakuan Delvin barusan, ia salah mengartikan hubungan Delvin dengan Fanya yang berakibat buruk pada sahabatnya itu.
Dengan mudah, Richard menarik kesimpulan bahwa pernikahan Delvin terjadi karena suatu kesalahan—dalam tanda kutip dan pasti atas dasar otoritas penuh Diego—Ayah Delvin.
“Apa kau memberinya tumpangan dan berniat untuk mengantarnya pulang namun karena panggilan dariku kau turut membawanya ke mini bar semalam?” Dugaan Richard bahwa Delvin sebenarnya ingin mengantar Fanya pulang.
“Ya, kesalahanku yang menawarkan dia tumpangan hanya karena rasa kasihan melihat dia duduk tengah malam di teras Coffee Shop seorang diri. Sepertinya dia sedang mencari umpan dan dia berhasil menjeratku dengan wajah polosnya.” Ujar Delvin sembari melempar kerikil ke tengah jalan yang tampak lengang.
Jika jalan pikiran Delvin yang sepenuhnya buruk kepada Fanya justru berbanding terbalik dari sudut pandang Richard.
“Bukankah sangat keterlaluan menyebutnya perempuan murahan? Dia bahkan tidak mengetahui kau akan singgah ke mini bar dan berakhir mabuk disana. Lagi, kau yang mengajaknya ikut berpesta bersama kita. Mengapa kau tak mengantarnya lebih dulu? Atau jika kau enggan mengantarnya, kau bisa menyuruhku.” Richard mencoba meluruskan jalan pikiran Delvin yang ia tahu sering berpikiran buruk pada kaum hawa.
“Dia memasukkan obat pada minuman pereda mabuk yang ia bawa ke kamarku, bukankah tepat menyebutnya perempuan murahan.” Delvin melempar telepon genggam miliknya ke tangan Richard untuk menunjukkan video rekaman CCTV yang sedang berputar.
Richard menggenggam ponsel milik sahabatnya, beberapa menit ia habiskan untuk melihat kejadian semalam yang terjadi di apartemen Delvin. Dia tidak menemukan kecurigaan dari tingkah Fanya, justru ia menyalahkan sahabatnya yang keluar dari dalam kamar menghampiri Fanya.
“Aku tidak melihat dia memasukkan obat ke dalam minumanmu dan aku sendiri yang memintanya untuk menyeduh minuman pereda mabuk itu agar menghilangkan mualmu. Kau tak bisa sepenuhnya melimpahkan kesalahan padanya, bukankah sesuatu yang buruk bisa terjadi jika seseorang sedang mabuk?” Richard memberikan ponsel Delvin ke tangan pria itu, video rekaman CCTV justru semakin memperjelas kesalahan sahabatnya itu.
“Dia pasti sudah mahir menipu Richard, bisa saja dia memasukkannya saat berada di kamarku.” Delvin berucap dengan keyakinan penuh, sebab hanya kamar tidur dan kamar mandi yang tidak terpasang CCTV di apartemennya.
Richard kehabisan kata untuk mendebat Delvin, ia tahu akan sulit meyakinkan sahabatnya itu untuk melihat sisi lain dari kejadian yang sedang menimpa Delvin.
“Maaf, karena aku juga turut terlibat dalam pernikahan yang tidak kau inginkan ini. Sungguh, aku sangat menyesal membawanya ke apartemenmu, kupikir kau sedang menjalin hubungan spesial dengannya,” pandangan Richard yang sedari tadi lurus menghadap ke depan beralih kepada Delvin yang sedang menunduk. “Aku sangat yakin, ayahmu tidaklah bodoh menikahkanmu dengan perempuan itu sebelum mencari tahu kebenarannya. Kumohon, jangan menyakitinya—jangan membencinya terlalu dalam. Bisa saja kalian sedang sama-sama terluka dengan pernikahan kalian, Delvin.”
Richard menepuk punggung Delvin, memberi kekuatan kepada sahabatnya yang terlihat kacau dengan masalah yang sedang ia hadapi.
***
Supaya Ceria semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya setiap tulisan Ceria, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.
Saran yang membangun juga sangat Ceria butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.
Follow my ig : @ceria_yuwandira.