My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Sebuah Kejutan Berarti



Kesalingan dalam mencintai adalah puncak kebahagiaan dari sebuah hubungan. Saling menghormati, saling memberi, saling menopang, saling menolong dan saling menghargai.


\~\~\~


Tidak terasa sebulan sudah berlalu, kondisi fisik Delvin kini sepenuhnya pulih, begitupun dengan Richard. Hari ini ia dan sang istri bersiap berangkat ke Museum Louvre untuk mengunjungi pameran lukisan Internasional.


"Aku ingin dengan tulus mengucapkan terimakasih banyak padamu, ini akan menjadi salah satu malam yang membahagiakan untukku." Ujar Fanya sembari tangan mungilnya  dengan telaten memasangkan dasi Delvin. Setelah sekian purnama, akhirnya keinginan perempuan itu  mengunjungi pameran lukisan Internasional dapat terwujud berkat suaminya.


"Tidak hanya malam ini, setiap hari aku akan membuatmu bahagia." Menatap wajah sang istri, segurat senyum tersampir di bibir Delvin. Sungguh, ia sangat menikmati momen yang sedang terjadi.


"Akan kutagih kalau kau lupa tuan Albercio." Fanya tertawa kecil, dia tahu Delvin sedang serius. Hanya, perempuan itu merasa suaminya semakin pandai saja menggombal.


"Tapi aku tidak akan lupa, percayalah."


Fanya mengangguk. “Selesai, kita berangkat!” Seru perempuan itu, sesaat setelah dasi tersebut sudah terpasang rapi di kerah kemeja berwarna putih yang dibalut dengan jas hitam milik Delvin.


“Terimakasih.” Ujar Delvin sambil melayangkan kecupan singkat di pipi sang istri. Tak lupa, ia menautkan jemari mereka dan membawa Fanya pergi.


Sikap kepalang manis Delvin yang semakin menjadi sepanjang waktu lambat laun membuat Fanya terbiasa, meski sesekali ia menahan malu jika pria itu melakukannya di hadapan orang lain.


***


Memasuki bangunan yang  menjadi salah satu icon Kota Paris, Fanya dibuat terpesona dengan berbagai macam lukisan dari seniman yang tidak hanya berasal dari Eropa, namun juga Amerika dan Asia.


Binar kebahagiaan terpancar dari manik perempuan itu.


"Delv, dia salah satu pelukis dari Asia yang hasil karyanya sangat aku kagumi." Menunjuk lukisan kontemporer karya Christine Ay Tjoe, Fanya bercerita penuh semangat pada sang suami.


"Lukisannya memang indah, tapi cukup hanya aku saja yang sangat kau kagumi, tidak untuk benda hidup apalagi benda mati lainnya." Protes Delvin.


Pfftt


"Kau cemburu?" Tanya Fanya sambil tertawa.


"Tidak." Dengan cepat Delvin membantah.


Mendengar jawaban spontan Delvin, membuat Fanya kembali tertawa.


"Kau tidak sebanding dengan lukisan itu Delvin. Dan aku tidak pernah memposisikanmu sejajar dengan hal yang aku sukai," menarik tangan kanan sang suami, Fanya meletakkan tepat di dada perempuan itu.


"Tempatmu disini," Fanya menatap intens manik Delvin.


"Hanya ada satu ruang kosong di hatiku dan kini sudah kau penuhi. Subutir pasir saja tidak bisa menerobos masuk, apalagi lukisan sebesar ini." Lanjut perempuan itu.


"Sayang." Melepas tautan tangan mereka yang bertengger di dada sang istri, Delvin membawa Fanya ke dalam pelukannya.


Tak bisa Delvin pungkiri, Fanya selalu berhasil membuatnya jatuh cinta disetiap detik dia bersama perempuan itu.


"Kita lagi di tempat umum Delvin." Fanya mencoba menjauhkan tubuhnya dari Delvin namun ditahan pria itu.


"Bukankah ciuman pertama kita juga di tempat umum? Ini hanya sebuah pelukan, Sayang." Meski begitu Delvin segera mengurai tautan tubuh mereka, sebab ia tahu Fanya sudah sangat malu.


"Del-vin, pelankan suaramu." Bisik Fanya sembari melihat ke kiri dan kanan mereka, khawatir jika ada yang mendengar perkataan Delvin.


"Ayo!! Masih banyak waktu untuk melanjutkan pelukan tadi." Delvin mengajak sang istri melihat lukisan lainnya sambil tertawa kecil mengingat sikap sang istri barusan.


***


Setelah puas memandangi dan memotret beberapa lukisan yang menghabiskan waktu hampir satu jam lebih lamanya, Delvin mengajak Fanya memasuki ruangan yang berada di sudut bangunan itu.


"Aku ingin mengajakmu melihat lukisan hasil karya seseorang yang begitu luar biasa." Ujar Delvin di sela perjalanan mereka menuju ruangan itu.


"Kau mengidolakannya? Sejak kapan Delvin?" Tanya Fanya heran. Sejauh yang ia tahu, Delvin tidak begitu menyukai seni lukis.


"Hmm," Delvin mengangguk. "Aku sangat mengidolakannya." Lanjut pria itu.


"Sebutkan namanya, siapa tahu kita mengidolakan orang yang sama." Fanya dibuat penasaran dengan sosok pelukis yang berhasil menarik perhatian Delvin.


"Kau akan tahu nanti." Menolak memberi tahu siapa sang pelukis itu, Delvin memilih mempercepat langkahnya.


Fanya turut mengekori langkah panjang sang suami, sampai mereka tiba di sebuah ruangan yang pintunya tertutup.


Tanpa berpikir panjang, Fanya segera memutar handle pintu tersebut. Dan betapa terkejutnya dia melihat isi dari ruangan megah itu.


"Delv." Suara Fanya hampir tidak terdengar, manik indah perempuan itu membola. Dia sedang terpesona.


"Aku mengidolakanmu," berdiri di sisi sang istri, Delvin mendekatkan wajahnya ke telinga perempuan itu. "Aku mengidolakanmu Fanya Clarance." Bisik Delvin lembut.


Sungguh Fanya tak bisa mengekspresikan kebahagiaannya selain berhambur ke pelukan pria itu.


Bagaimana tidak? Lukisan yang selama ini ia pajang dan simpan di dalam rumahnya yang berada di Kota Dinan, kini bertengger di Museum Louvre dan hasil karya perempuan itu sedang dinikmati beberapa pengunjung disana. Semua itu bisa terjadi tentu berkat Delvin-suaminya.


"Sayang, kita lagi di tempat umum." Ujar Delvin mengingatkan Fanya yang tadi sempat mencoba melepas pelukan darinya.


"Aku tahu, apa kau keberatan?" Fanya mencebikkan bibirnya.


"Selama kau tidak keberatan, tidak masalah. Tapi tadi kau menolak pelukanku, apa kau lupa?" Tanya Delvin tersenyum gemas menatap wajah perempuan itu.


"Kau ingin membalasku tuan Albercio!!" Seru Fanya menggelitik pinggang Delvin, membuat pria itu tertawa keras.


"Hahahahah, hentikan!! Aku bisa buang air kecil disini," Delvin menahan tangan Fanya.


"Mari berbaur dengan orang-orang disana, aku juga ingin menikmati lukisan indahmu." Lanjut pria itu, membuat Fanya menghentikan gerakan tangannya.


Mereka mengayunkan langkah bersama, berjalan lebih dekat ke arah lukisan Fanya. Sampai sesuatu hal membuat perempuan itu terperangah.


"Papa, Mama," hampir Fanya berteriak melihat keberadaan orangtuanya yang turut hadir di Louvre dan kini sedang berada di ruangan yang sama dengan perempuan itu.


"Ka-kalian tidak memberitahuku akan kesini?" Tanya Fanya gelagapan, dia masih tidak percaya dengan keberadaan Papa Thomas dan Mama Lucia yang sedang berdiri di hadapannya.


"Ini kejutan dari suamimu, Sayang." Ujar Lucia tersenyum haru melihat sang putri yang cukup ia rindukan.


Ya, beberapa hari yang lalu, Delvin menghubungi mereka dan meminta untuk datang ke Paris menghadiri pameran lukisan Fanya. Dan sejak pagi tadi, Thomas dan Lucia sudah berada di Mansion Diego.


"Delvin, ka-kau." Fanya kehabisan kata, pria itu sungguh memperlakukannya dengan sangat baik.


Beralih ke Thomas dan Lucia, dengan kebahagiaan yang membuncah, Fanya memeluk orangtuanya. Dan bertubi-tubi kecupan menghujami wajah anggun perempuan muda itu.


Selesai melepas rindu, Fanya berbalik hendak mengucapkan terimakasih kesekian kalinya pada Delvin, namun belum sempat ia berucap. Kejutan lain kembali menghampiri perempuan itu, tampak Diego, David, Kiara dan Richard berada di antara mereka.


"Aku sengaja mengundang orang terdekat kita untuk melihat lukisan-lukisan indahmu." Ujar Delvin, sebab Fanya tak kunjung bersuara.


Sebulir airmata jatuh membasahi pipi Fanya, membuat Delvin dan yang lainnya bingung sekaligus khawatir.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Delvin segera menyeka airmata Fanya.


Fanya mengangguk dan tersenyum lebar kemudian.


"Aku sangat bahagia, aku sangat bahagia bersamamu." Kembali, Fanya memeluk Delvin di hadapan semuanya, tanpa rasa malu yang tiba-tiba menghilang dari dirinya.


"Aku sudah berjanji akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan ingkar, Fanya." Ucap Delvin tulus.


Fanya tahu itu, tak ada sedikit keraguan di benaknya untuk tidak mempercayai perkataan pria itu. Sebab ia dapat merasakan kesungguhan Delvin-seseorang yang akan terus ia cintai hingga nanti.


"Delv, kau tidak terduga dan selalu penuh dengan kejutan. Aku sangat menyukainya." Ujar Fanya sembari melonggarkan pelukan mereka.


"Kau siap menanti kejutan-kejutanku yang lainnya?" Tanya Delvin yang langsung di sambut Fanya dengan anggukan kepala, berkali-kali.


Jangan lupakan senyum manis kedua insan itu.


"Ehhmm, kau mengundang kami untuk menikmati lukisan Fanya atau menonton adegan mesra kalian?" Richard bertanya dengan keras. Dia yang sudah lama menjomblo benar-benar sedikit terganggu dengan pemandangan di hadapannya.


"Keduanya. Kau bisa belajar dari kami sebelum memiliki kekasih." Jawab Delvin sekenanya, disusul gelak tawa dari yang lainnya.


"Apa kau tidak tertarik dengan gadis di sampingmu? Segera akhiri kesendiriamu." Ujar David berbisik sambil menyikut lengan Richard, ekor matanya menunjuk ke arah Kiara.


-


-