My Beautiful Healer

My Beautiful Healer
Karena Kau



Hati yang saling terkait : Kamu akan menemukan keberadaannya meski berdiri di antara milyaran manusia.


\~\~\~


"Delvin!!" Tubuh Richard yang bertabrakan dengan Delvin membeliakkan maniknya sempurna. "Ka-kau, bagaimana bisa?" Richard sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.


"Aku akan menjelasakannya nanti, bantu aku mencari Fanya." Ujar Delvin, sambil pandangannya terus mengelilingi bandara.


"Aku juga sedang mencarinya, tadi dia kutinggalkan disini." Tunjuk Richard pada kursi tunggu tempat ia dan Fanya tadi duduk. Richard yang membawa air minum untuk Fanya tidak menemukan perempuan itu lagi.


"Aku mencari kesana, kau kesana." Ujar Delvin menunjuk dua arah berbeda pada sahabatnya itu.


Richard mengangguk, mereka berjalan terpisah, berpencar untuk mencari Fanya yang menghilang. Delvin lebih dulu memeriksa toilet bandara, dia menunggui setiap orang yang keluar dari dalam toilet wanita itu. Namun dia tidak menemukan Fanya disana.


Tidak menemukan Fanya di toilet, Delvin menyusuri Kafe yang ada di dalam bandara dan lagi, perempuan itu juga tidak ada disana.


Dengan langkah frustasi Delvin berniat menemui Richard, siapa tahu sahabatnya itu sudah menemukan Fanya. Dia berjalan menuju kursi tempat dia dan Richard bertemu tadi, saat Delvin melewati taman, seseorang yang sedang duduk berhadapan dengan air mancur menarik perhatiannya.


"Fanya!!" Delvin berlari mendekat ke kursi taman.


"Fanya-" Kini Delvin berdiri di hadapan Fanya, perempuan itu sedikit tersentak melihat kehadiran Delvin yang muncul tiba-tiba.


Dugaan Delvin benar, perempuan yang dilihatnya adalah Fanya. Dia mengembuskan nafas lega ketika berhasil menemukan sang istri.


"Kenapa tadi kau malah pergi dan tidak menemuiku?" Delvin langsung mencecar Fanya dengan pertanyaan sambil mendudukan tubuhnya tepat di sisi perempuan itu.


Pandangan Fanya yang sedari tadi menatap air mancur beralih kepada Delvin, dia tidak langsung menjawab pertanyaan pria itu sebab rasa terkejutnya belum sepenuhnya hilang atas kemunculan Delvin.


Perasaan lain juga menggerayangi diri Fanya, ada rasa bahagia yang sulit ia ungkapkan melihat pria itu baik-baik saja.


"Apa tadi kau melihatku?" Tanya Fanya.


Delvin mengangguk, "Aku melihatmu menatap ke arah kami, tapi kau malah lari menjauh." Jelas Delvin.


"Tadi kau bersama kekasihmu, dia akan salah paham kalau aku menghampiri kalian." Ungkap Fanya jujur, awalnya dia pikir hanya dirinya saja yang melihat keberadaan Delvin, namun pria itu juga melihatnya.


Sejenak Delvin mengerutkan kening, berpikir siapa kekasihnya yang dimaksud Fanya. Ingatannya berputar pada  Rose yang tadi memeluknya.


"Dia bukan kekasihku." Kali ini Delvin jujur mengenai hubungannya dengan Rose.


"Kalian sudah putus?" Tanya Fanya heran, dia sedikit cemas menerka-nerka penyebab berakhirnya hubungan Delvin dan Rose, ia khawatir keberadaannya menjadi alasan.


"Dia tidak pernah menjadi kekasihku." Tegas Delvin.


"Maksudmu?" Sungguh Fanya tak mengerti pada apa yang dikatakan Delvin. Kerutan dalam di dahi perempuan itu sebagai tanda ia meminta penjelasan dari sang suami.


"Kenapa kau malah mempertanyakan dia? Kenapa tidak menanyakan keadaanku saja?" Protes Delvin.


"Kau tampak sehat dan juga selamat, mengapa aku harus mempertanyaan keadaanmu lagi?"Sembur Fanya, dia masih menunggu penjelasan Delvin.


"Kalau kubilang tidak, apa kau akan percaya?" Delvin dan Fanya malah saling melempar pertanyaan dan tak memberi jawaban.


Delvin menggeleng dan sedikit menarik sudut bibirnya. "Maaf, matamu menjadi bengkak karena mengkhawatirkanku," ucap pria itu tulus, sebab manik Fanya terlihat jelas habis menangis. "Tapi tadi kau tidak sedang ber-akting 'kan?" Ujar Delvin bergurau.


"Kau tidak tahu, kalau aku sangat pandai melakoni peran antagonis. Aku memang lagi ber-akting." Jawab Fanya ketus sambil memutar malas kedua bola matanya, sempat-sempatnya Delvin mengajaknya bercanda sedangkan dia sudah setengah mati mengkhawatirkan pria itu.


"Kau yang tidak cantik semakin buruk rupa kalau sedang marah." Ujar Delvin menggoda Fanya.


"Aku tidak peduli." Fanya membuang muka dari Delvin, dia semakin kesal dikatakan si buruk rupa oleh pria yang sedari tadi ditangisinya.


"Bisakah aku memelukmu?" Sikap Fanya membuat Delvin gemas pada perempuan itu.


"Saat menciumku, kau tidak meminta izin dariku tapi memelu-"


Kalimat Fanya terhenti, karena Delvin sudah lebih dulu merengkuh tubuhnya.


Tindakan Delvin sesaat membuat Fanya membeku, dadanya kembali berdebar hebat kala tubuhnya bertaut entah sudah yang keberapa kali dengan suaminya itu.


Awalnya Fanya tidak membalas pelukan Delvin, namun dia yang sejak tadi menanti keajaiban akan keselamatan pria itu meluapkan seluruh emosinya dengan memeluk erat sang suami, sama seperti yang Delvin lakukan padanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah pesawat yang kau tumpangi mengalami kecelakaan?" Tanya Fanya sambil menghirup dalam aroma tubuh Delvin. Sepertinya dia mulai nyaman didekap dan mendekap suaminya itu.


"Seperti katamu, aku tampak sehat dan baik-baik saja, apa masih perlu aku menjelaskannya padamu?" Seolah ingin membalas perkataan Fanya tadi, Delvin membuat sang istri kembali kesal.


"Kau!! Aku juga perlu tahu untuk memastikan kalau kau bukan hantu." Fanya sedikit menengadahkan kepalanya menatap tajam manik Delvin.


"Coba lihat ke bawah, apa kakiku menyentuh lantai? Siapa tahu aku benar-benar hantu." Ujar Delvin.


Fanya yang polos menurut saja, dia menunduk untuk melihat kaki Delvin yang sengaja diangkat agar tidak menyentuh lantai, pria itu sedang mengerjainya.


"Delvin!! Kau benar-benar menyebalkan."  Fanya mencebikkan bibirnya menatap kesal Delvin.


"Selain menambah keburuk rupaanmu, amarahmu juga menambah 0,001 persen kegemasanmu." Tawa renyah Delvin membuat pria itu mendapat cubitan di pinggangnya.


"Delvinn!! Aku serius bertanya padamu. Kenapa kau bisa selamat? sedangkan tadi petugas bandara mengatakan pada kami kalau semua penumpang meninggal." Fanya semakin menajamkan tatapannya pada sang suami.


Raut Delvin berubah menjadi serius, dia menatap dalam mata sang istri.


"Karena kau, aku selamat itu karena kau Fanya."


***


Supaya Author semakin semangat menulis, jangan lupa like, komen dan vote ya, jika berkenan juga dapat memberikan hadiah, hehehe.


Saran yang membangun juga sangat author butuhkan sebagai acuan untuk tulisan yang semakin baik kedepannya, terimakasih luvv.


ig : @ceria_yuwandira